01. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
A. Pengertian
Harun Nasution berpendapat bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa arab . filsafat ialah study tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijaarkan dalam konsep mendalam.
B. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu ialah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
C. Sejarah timbulnya Filsafat
Pada saat kita mempelajari filsafat melalui sejarah filsafat, berarti bahwa dengan dasar kategori waktu, kita mempermasalahkan segala hal mengenai pemikiran kronologi scara kronologis. Sampai saat ini, kita belum dapat mengetahui kapan sebenarnya filsafat mulai muncul. Pada 60.000 tahun yang lalu atau abad ke-600 SM, ditemukan daerah-daerah suber filsafat yang hingga saat ini telah diketahui manusia. Pikiran-pikiran sebelumnya disebut sebagai masa pra-filsafat atau pra-nalar. Prakiraan para ahli mengenai hal tersebut bahwa pada 600 SM itu telah terjadi perubahan besar dalam perkembangan pemikiran dan budaya manusia.
D. Tujuan Filsafat ilmu
Tujuan filsafat ilmu ialah mendalami unsure-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
E. Cakupan dan Permasalahan Filsafat ilmu
Enam problem permasalahan mendasar 1. Problem-problem epistimologi tentang ilmu, 2. Metafisis dalam ilmu 3. Metodologis ilmu, 4. Logis tentang ilmu, 5. Etis tentang ilmu, 6. Estetis dalam ilmu
F. Objek study dan metode Filafat
Objek material ilmu ialah ilmu dan objek formal filsafat ilmu ialah ilmu atas dasar tinjauan filosofis.
G. Hubungan Filsafat dengan ilmu
Interaksi ilmu dan filsafat emngandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak akan berkembang dengan baik jika terpisah dengan ilmu.
02. Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu
a. Perkembangan Ilmu Pada Zaman Yunani
Peride filsafat yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi.
Pada zaman yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah filsafat, yaitu :
1. Masa awal
Masa awal filsafat yunani kuno ditandai oleh tercatatnya tiga nama filsuf yang berasal dari daerah Miletos, yaitu Thales, Anaximandros, dan Anaximenes.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM). Ia digelari bapak filsafat karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan, “Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?” Pertanyaan ini sangat mendasar, terlepas apapun jawabannya. Namun ang terpenting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal usul alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap makhlik hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda padat, seperti es, dan bumi ini juga berda di atas air.*
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540 SM) Anaximadros mencoba menjelaskan bahwa subtabsi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Dia tidak setuju unsure utama alam adalah salah satu dari unsure-unsur yang ada seperti air dan tanah. Unsur utama alam harus yang mencakup segalanya dan di atas segalanya, yang dinamakan apeiron. Ia adalah air, maka air harus meliputi segalanya termasuk api yang merupakan lawannya. Padahal tidak mungkin air menyingkirkan anasir api. Krena itu Anaximandros tidak puas denganmenunjukan salah satu anasir sebagai prinsip alam, tetapi dia mencari yang lebih dalam yaitu zat yang tidak dapat diamati oleh panca indera. *
2. Masa Keemasan
Salah satu tokoh pada masa keemasan adalah Socrates, Ia berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adlah pengujian diri sendiri Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Semboyan yang paling digemarinya adalah apa yang tertera pada Kuil Delphi, yaitu: “Kenalilah dirimu sendiri”.
Puncak kejayaan filsafat yunani terjadi pada masa Aristoteles. Ia adalah murid Plato. Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika, dan fisika, dan yang praktis mencakup etika, ekonomi dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristotelas juga dianggap Bapak Ilmu karena dia mam pu meletakan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
3. Masa Helenitas dan Romawi
Adalah suatu masa yang tidak dapat dilepaskan dari peranan raja Alexander Agung. Raja ini telah mampu mendirikan Negara besar yang tidak sekadar meliputi seluruh Yunani, tetapi di daerah-daerah sebelah Timurnya. Kebudayaan Yunani menjadi kebudayaan Supranasional. Kebudayaan Yunani ini disebut Kebudayaan Helenitas. Dalam bidang kebudayaan, selain akdemia lykeion dibuka juga sekolah-sekolah baru yang menjadi tekanan pembelajarannya adalah masalah etika, yaitu bagaimana sebaiknya orang mengatur tingah lakunya agar dapat bahagia dalam kehidupan bersama.
Setelah Masa Helenitas atau tepatnya pada ujung zaman Helenisme yaitu pada ujung sebelum Masehi menjelang Neo Platonisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.
b. Perkembangan Filsafat Ilmu Zaman Islam
1. Penyampaian ilmu dan filsafat yunani ke dunia islam
Dalam perjalanan ilmu dan juga filsafat di dunia islam, pada dasarnya terdapat upaya rekonsiliasi, dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda, bahan sering kali ekstrim antara pandangan filsafat Yunani seperti fisafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan keagamaan dalam islam yang sering kali menimbulkan benturan-benturan. Sebagai contoh konkret dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada madzhab-madzhab islam, khususnya madzhab alektisisme.
Al-Farabi dalam hal ini memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filasafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Bahkan bisa dikatakan para filosof muslim mulai dari Al-Kindi sampai Ibn Rusyd terlibat dalam upaya rekonsiliasi tersebut, dengan cara mengemukakan pandangan-pandangan yang relative baru dan menarik. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya kedalam studi-studi keislaman lainnya, dan tidak diragkan lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof muslim ini menghasilkan afinitas dan ikatan yang kuat antara filsafat arab dan filsafat Yunani.
2. Perkembangan ilmu pada masa islam klasik
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa pentingnya ilmu pengetahuan sangat ditekankan oleh islam sejak awal, mulai Masa Nabi sampai dengan Khulafaur Rasyidin, pertumbuhan dan perkembangan ilmu berjalan dengan cepat sesuai tantangan zaman.
Tahab penting berikutnya dalam proses perkembangan dan tradisi keilmuan islam ialah masuknya unsure-unsur dari luar ke dalam islam, khususnya unsure-unsur Budaya Perso Semitik dan budaya Helenisme, yang disebut belakangan mempunyai mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran islam ibarat pisau bermata dua. Satu sisi mendukung Jabariyah (antara lain oleh Jahm Ibn Abu Sofyan), sedang di sisi lain mendukung Qadariyah (antara lain Washil Ibn Atha’, tokoh dan pendiri Mu’tazilah). Dari adanya pandangan yang dikotomis antara keduanya kemudian muncul usaha menengahi dengan menggunakan argument-argumen Hellenisme, terutama filsafat Aristoteles.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik sebuah hipotesis sementara bahwa pada awal islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan Islam sudah sedemikian kental, sehingga pada saat selanjutnya pengaruh itupun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
3. Perkembangan filsafat ilmu pada masa kejayaan islam
Pada masa kejayaan kekuasaan islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Ilmu berkembang sangat maju dan pesat. Kemajuan ini membawa islam pad masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh diluar kekuasaan Islam masih berada pada masa kegelapan peradaban. Dalam sejarah Islam kita mengenal nama-nama seperti Al-Mansur, Al-Ma’mun, dn Harun Al-Rasyid yang memberikan perhatian amat besar bagi perkembangan ilmu di dunia Islam.
4. Masa Keruntuhan ilmu dalam islam
Abad ke-18 dalam sejarah islam adalah abad yang paling menyedihkan bagi umat islam dan memperoleh catatan buruk bagi peradaban islam secara universal. Seperti yang diungkapkan oleh Lothrop Stoddard bahwa menjelang abad ke-18, dunia islam tlah merosot ke tingkat yang terendah.
Pernyataan Stoddard di atas menggambarkan begitu dahsyatnya proses kejatuhan peradaban dan tradisi keilmuan islam yang kemudian menjadikan umat Islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Salah satu sebab runtuhnya bangunan tradisi keilmuan islam yaitu:
Dalam bukunya, The Reconstruction of Religious Thoughtin Islam Iqbal menyatakan bahwa salah satu penyebab utama kematian semangat ilmiah di kalangan umat islam adalah diterimanya paham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa islam adalah dinamis dan berkembang. Ia selanjutnya mengungkapkan bahwa semua aliran pemikiran Muslim bertemu dalam suatu teori Ibn Maskawaih mengenai kehidupan sebagai suatu gerak evolusi dan pandangan Ibn Khaldun mengenai sejarah.
c. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern
1. Masa renaisans
Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Pada zaman ini manusia Barat mulai berpikir secara baru, dan scara berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan Ilmu. Pemikir yang dapat dikemukakan pada tulisan ini antara lain Nicholas Copernicus dan Francis Bacon.
Copernicus adalah seorang tokoh gereja ortodoks, ia menemukan bahwa matahari berada pada pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut Heliosentrisme, dimana matahari adalah pusat jagad raya.Sedangkan teori yang mempertahankan bumi sebagai pusad jagad raya disebut Geosentrisme. *
2. Zaman modern
Tokoh dalam zaman modern ini adalah Isaac Newton (1643-1727). Newton, sekalipun ia menjadi pimpinan sebuah tempat pembuatan uang logam di kerajaan Inggris, Ia tetap menekuni dalam bidang Ilmu. Lahirnya teori gravitasi, perhitungan calculus dan optika merupakan karya besar Newton. Teori gravitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi dan matahari ada gaya saling tarik menarik.
Persangkaan tersebut kemudian dijadikan Newton sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan. Namun hasil perhitungan itu tidak memuaskan Newton, semua persangkaan dan perhitungan lalu ditangguhkan. Pada masa sesudah Newton, perkembangan ilmu selanjutnya adalah berupa ilmu kimia. Jika pada masa Newton ilmu yang berkembang adalah matematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kmia menjadi kajian yang amat menarik. Ilmu kimia tidak mulai dengan logika, aksioma, ataupun deduksi. Semua permulaan ilmu kimia praktis berdasarkan percobaan-percobaan yang hasilnya kemudian ditafsirkan..
3. Ilmu yang berbasis Rasionalisme dan Empirisisme
Berkat pengamatan yang sistematis dan kritis, kaum rasionalis mengembangkan paham Rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat khusus. Penalaran kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut Sillogisme. Sillogisme itu terdiri atas dua pertanyaan dan sebuah kesimpulan. Kedua pertanyaan disebut Premis Mayor atau Premis Minor. Kesimpulan diperoleh dari penalaran deduktif dari kedua premis itu.
Namun pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata memiliki kelemahan, maka munculah pandangan lainyang berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkannya disebut Empirisme. Penganut Empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, aluminium, dan tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanasi akan bertambah panjang.
4. Perkembangan filsafat pada zaman modern
Pada zaman modern filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak keseluruhan filsafat modern itu mengambil warna pemikiran filsafat sufisme Yunani, sedikit pengecualian pada Kant. Paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah Rasionalisme, Idealisme, dan Empirisme. Dan paham-paham yang merupakan pecahan aliran itu. Paham Rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung Rasionalisme ini yaitu: Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
d. Kemajuan Ilmu Zaman Kontemporer
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Hal yang membedakan pengamatan tentang ilmu di zaman modern dengan ilmu di zaman kontempporer bahwa zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer memfokuskan sorotannya pada berbagai perkembangan terakhir yang terjadi hingga saat sekarang.
03. DASAR-DASAR PENGETAHUAN DAN KRITERIA KEBENARAN ILMU
A. Pengertian Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Phisolophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar.
Sedangkan secara terminology, menurut Drs. Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam pristiwa ini yang mengetahui (subjek) mmemiliki yang diketahui (objek) didalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
B. Jenis-jenis Pengetahuan
Burhanuddin Salam mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat, yaitu:
1. Pengetahuan biasa
Yaitu pengetahuan yang dalam filsafat disebut dengan istilah common sense. Dengan common sense semua orang sampai dengan keyakinan secara umum tentang sesuatu, dimana mereka akan berpendapat sama semuanya.
2. Pengetahuan ilmu
Yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. yaitu suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
3. Pengetahuan filsafat
Yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif.
4. Pengetahuan agama
Yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan oleh para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh pemeluk agama.
C. Dasar-dasar Pengetahuan
1. Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan., meskipun seperti dikatakan Pascal, hati pun mempunyai logika tersendiri.
Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir menyadarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
2. Logika
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap shahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”.
3. Sumber Pengetahuan
Pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar:
• Mendasarkan diri kepada rasio
• Mendasarkan diri kepada pengalaman
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia memikirkannya. Paham dikenal dengan nama idealisme. Fungsi pikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sudah ada dan bersifat apriori serta dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya.
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indra manusia. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap oleh panca indra.
Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahui adalah intuisi dan wahyu.
D. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara mendapatkan pengetahuan yang benara atau disebut dengan epistemology, yaitu dengan:
1. Jarum sejarah pengetahuan
Dengan berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada pembedan. Mulailah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur ke masyarakatn. pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
Salah satu cabang pengetahuan itu yang berkembang menurut jalannya sendiri adalah ilmu yang berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya terutama dalam segi metodenya. Metode keilmuan adalah jelas sangat berbeda dengan ngelmu yang merupakan pradigma dari abad pertengahan. demikian juga ilmu dapat dibedakan dari apa yang ditelahnya serta untuk apa ilmu itu digunakan.
2. Pengetahuan
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui ternatang suatu objek tertentu, termasuk kedalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia, disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan.
3. Metode ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
Metodelogi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut, jadi metode ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. metode ini secara filsafati termasuk dalam epistemology.
Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuan secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dengan yang tidak.
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur engan akal pula. Dicari dengan akal ialah dicari cengan berfikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak. Bila logis, benar, bila tidak, salah. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dengan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal.
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
• Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam maupun tentang manusia.
• Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilimiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan
• Ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.
4. Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah atau ilmu.
Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada.
Pola berpikir yang dikembangkan dalam metode ilmiah memperlihatkan dengan jelas peran penting empirisme yang menekankan perbuatan kesimpulan secara induksi.
Empirisme berfungsi untuk menguji hasil penalaran terhadap permasalahan yang dibangun atas dasar deduksi. Penalaran yang dilakukan dengan mengkaji teori-teori dalam memahami permasalahan fakta hanya bias sampai pada perumusan hipotesis. Penalaran hanya memberi jawaban sementara, bukan kesimpulan akhir.
04. ILMU ALAM DAN ILMU PENGETAHUAN
A. Pengertian Ilmu Alam
Kata ilmu berasal dari bahasa arab (‘alama) dan berarti pengetahuan. Science berasal dari bahasa latin yang juga berarti pengetahuan. Ilmu alam adalah suatu ilmu yang objeknya benda-benda alam dengan hukumnya yang pasti dan umum.Percobaan yang mungkin ditimbulkan semuanya mempunyai tujuan untuk mencari hukum yang umum dan pasti. Oleh karena hukum yang dicari dan dirumuskan itu pasti, maka ilmu pasti pun masuk kedalam kelompok ilmu ini. Tidak mengherankan, ilmu pasti masuk kedalam ilmu alam, karena dalam ilmu pasti itu merupakan objeknya benda-benda alam juga, hanya itu dilucuti dari sifat kebendaannya kecuali jumlahnya, ruang, sudut, atau bidangnya. Keseluruhan ilmu yang hasailnya dirumuskan secara pasti (termasuk ilmu pasti) disebut juga ilmu exakta, dari kata latin exactus yang berarti pasti.
Salah satu faktor yang telah membawa ilmu-ilmu alam ke bentuknya yang sekarang adalah pokok-pokok aturan yang digunakan dalam proses pengembangannya. Sebenarnya memang tidak ada perjanjian tertulis yang membatasi lingkup kerja serta pola para pengembang ilmu-ilmu alam, akan tetapi dalam sejarahnya yang cukup panjang rupanya telah tumbuh saling pengertian dan kesepakatan yang hidup dan dihayati oleh masyarakat pengembang ilmu-ilmu alam. adapun pokok-pokok aturan itu adalah:
1. Pengamatan Berulang
Ilmu-ilmu alam membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Tentu saja kata pengamatan yang dimaksud di sini lebih luas dari pada hasil interaksi langsung dengan panca indra kita, yang lingkup kemampuannya memang sangat terbatas. Banyak gejala alam yang hanya teramati dengan pertolongan alat bantu, misalnya gelombang radio. Tuntutan lebih lanjut bagi gejala alam yang lazim dibahas dalm ilmu-ilmu alam adalah bahwa pengamatan gejala itu dapat diulangi oleh orang lain (reproducible). Jadi jika seseorang ingin menyatakan bahwa ia mendapatkan suatu gejala alam baru yang belum terdaftar dalam pembendaharaan ilmu-ilmu alam maka ia perlu memberi tahukan semua informasi tentang lingkungan, peralatan serta cara pengamatan yang digunakan, sehingga memungkinkan orang lain mengamati kembali jika keadaan mengizinkan. Jadi suatu gejala alam baru akan terdaftar dalam perbendaharaan ilmu-ilmu alam (dalam arti dikenal masyarakat pengembang ilmu-ilmu alam) setelah melalui ujian berulang kali sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenaranya.
2. Jalinan antara teori dengan pengamatan
Ilmu-ilmu alam bukan hanya kumpulan lukisan gejala alam, ada semacam keyakinan bahwa masing-masing gejala alam itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat yang dapat dipahami dengan penalaran yang seksama. Ini menjadi tugas teori dari ilmu-ilmu alam. Jika diteliti, sekelompok gejala dapat dirangkum dalam suatu wadah yang meletakkan masing-masing gejala itu pada jalur-jalur yang berkaitan menurut penalaran yang serasi dari aturan sebab akibat yang akan dinamakan Hukum Alam. Adakalanya gejala-gejala alam masih berupa bahan mentah, jauh dari siap untuk dirangkaikan dalam suatu teori. Untuk itu perlu dikembangakan konsep-konsep baru sebagai penolong. Konsep-konsep tersebut meskipun kadang-kadang sangat abstrak (dan memakai nama yang mentereng) namun harus tetap murni artinya ada pengamatan atau pengukuran yang sanggup memberi informasi tentang nilai konsep tersebut.
3. Kemampuan meramalkan gejala yang lain
Ilmu yang hanya sanggup mengumpulkan informasi dan merangkaikannya akan berupa ilmu yang pasif. Memang, dengan mengumpulkam gejala-gejala alam serta meyusunnnya dalam pola sebab akibat yang serasi kita sudah dapat merasa senang, sebab sudah memahami apa yang terjadi di alam ini. Lebih dari itu, jika pola susunan rangkaian gejala itu sangat rapi maka kita dapat menikmati keindahan alam dalam kerangka ilmu yang menarik. Rupanya ilmu alam belun puas dengan ilmu semacam itu dan sudah melangkah lebih jauh lagi. Ini sudah sewajarnya sebab gejala-gejala alam yang dikumpulkan tentunya akan selalu bertambah, berarti banyak yang harus digali. Maka diambil pedoman untuk menuntut suatu teori ilmu-ilmu alam agar tidak hanya sanggup merangkaikan gejala-gejala yang telah diketahui tetapi juga sanggup meramalkan gejala alam lain yang belum dikenal, sebagai konsekuensi logis dari pola penalaran yang dipergunakannya. Gejala ramalan itu pun harus dirumuskan dalam bentuk operasional sehingga memungkinkan untuk diuji dengan eksperimen. Dengan tuntutan ini dapat disaring teori yang paling menyakinkan dan sekaligus dapat dibuka cakrawala baru bagi usaha pengumpulan gejala-gejala alam seterusnya.
Ilmu dan filsafat sama0sama mencari pengetahuan yang pasti, eksak, teratur, dan tersusun. Tetapi kepastian dan keeksakan pengetauan filsafat tidak mungkin diuji seperti pengetahuan ilmu. ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta.
B. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Pengertian ilmu pengetahuan meliputi pengertian “tahu”, “mengetahui”, dan “pengetahuan”. Pertama, ilmu pengetahuan merupakan suatu keadaan sesorang. Kedua, ilmu pengetahuan merupakan kecakapan untuk mengetahui secara tersusun (sistematis). Segi kedua mencakup suatu aksi atau tindakan , dan suatu usaha. Seorang ahli dalam ilmu tertentu harus sanggup menggunakan pengertian-pengertian ilmu pengetahuan. Ia harus sanggup berpikir dan berbuat atas dasar ilmu pengetahuan tersebut. Penelitian atau riset menuntut kecakapan tersebut. Ketiga, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan tersusun, yaitu susunan dari rumusan pendapat-pendapat tertentu.
Dapat disimpulkan ilmu pengetahuan adalah usaha mencapai serta merumuskan sejumlah pendapat yang tersusun sekitar keseluruhan persoalan.
C. Klasifikasi ilmu pengetahuan
Telah kita ketahui, bahwa ilmu pengetahuan berhubungan dengan pengertian “mengetahui” yang menuntut hubungan antara subjek dan objek. Berdasarkan hal tersebut, baik pada subjek maupun objek dicari jenis hubungan di antara keduanya.
a. Klasifikasi berdasarkan subjek
Francis Bacon (1561-1626) mendasarkan klasifikasi ilmunya pada subjek, yaitu daya manusia untuk mengetahui sesuatu. Berdasrkan itu ia membedakannya sebagai berikut:
• Ilmu pengetahuan ingatan, seperti sejarah.
• Ilmu pengetahuan khayal, seperti kesusastraan, yaitu membicarakan kejadian-kejadian dalam dunia khalayal, meskipun berdasar dan untuk keperluan dunia nyata.
• Ilmu pengetahuan akal, seperti filsafat.
b. Klasifikasi berdasarkan objek
Auguste Comte (1798-1836) mendasarkan klasifikasinya pada objek material. Ia membuat deretan ilmu pengetahuan berdasarkan perbedaan objek material, yaitu:
• Ilmu pasti/matematika
• Ilmu falak/astronomi
• Ilmu fisika
• Ilmu kimia
• Ilmu hayat/biologi dan
• Sosiologi
c. Klasifikasi berdasarkan metode
Wilhelm Windelband (1848-1915) membeda-bedakan ilmu pengetahuan alam (naturwissenschaf) dan ilmu sejarah (geschichtswissenschaft). Menurut dia, kedua jenis ilmu pengetahuan itu tidak ada bedanya dalam hal objek karena objeknya satu, yaitu kenyataan. Adapun perbedaannya terletak pada metode. Metode untuk naturwissenschaf disebut nomotetis, sedangkan metode geschichtswissenschaft menggunakan metode ideologis. Nomotetis berhubungan dengan nomos atau norma yang menunjuk adanya usaha untuk membuat hal umu atau generalisasi. Dengan kata lain, metode nomotetis mencari sesuatu yang bersifat umum (generalisasi) yang dapat diulangi dalam eksperimen sehingga dapat diramalkan.
D. Perbedaan antara ilmu dan sains
Ilmu sebuah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia. Dan juga Kata ilmu terambil dari kata al-ilm dalam bahasa Arab. Kata al-ilm maknanya adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakekatnya. Al-ilm tergolong suatu pengetahuan. Ia merupakan pengetahuan yang benar, baik benar dalam arti sesuai sebagaimana “ada”-nya. Maka dari itu Ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang suatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau fenomena, yang diperoleh manusia dari proses berpikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dalam ilmu terkait. Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana.
Sedangkan berdasarkan webster new collegiate dictionary definisi dari sains adalah “pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian” atau “pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam .
Kata dasar yang diambil dari kata scientia yang berarti knowledge (ilmu). Tetapi, tidak semua ilmu itu boleh dianggap sains. Yang dimaksud ilmu sains adalah: Ilmu yang dapat diuji (hasil dari pengamatan sesungguhnya) kebenarannya dan dikembangkan secara sistematis dengan kaidah-kaidah tertentu berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata sehingga pengetahuan yang ditemukan tersebut boleh dipercayai, melalui eksperimen secara tepat.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, sains adalah ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya, berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata (misalnya : fisika, kimia, biologi).
E. Dasar-dasar pengetahuan
1. Pengalaman (Empirismus), yaitu sumber pengetahuan itu berdasarkan pengamatan pancaindra / pengalaman, mereka iulah kaum Empiris. (antara lain Locke, Berkeley, Hume, kaum positivis.
2. Rasionalismus, yaitu pengetahuan terjadi karena bahan pemberian pancaindra dan batin diolah oleh akal, dan bahwa mungkinlah pula adanya pengetahuan yang semata-mata berdasarkan akal, misalnya dalam ilmu pasti atau logika.(kebanyakan ahli pemikir abad pertengahan, seperti agustinus, Joh Scotus, Avicenna, discartes, Plato, Galilei, Da Vinci.
05. EPISTIMOLOGI
A. Pengertian Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia mencapai realitas sebagaimana adanya. Meraka mengnadaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa diantara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu. Misalnya , Herakleitus menekankan penggunaan indra, Permanides menekankan akal. Meskipun demikian, tak seorangpun diantara mereka yang meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan (raelitas).
Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indra dan lainya mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan diantaranya adalah:
1. Metode Induktif : Suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu penyataan yang lebih umum.
2. Metode Deduktif : Suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem yang runtut.
3. Metode Positivisisme : Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui , yang faktual, dan positif. Ia mengenyampingkan segala persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia ada tiga yaitu, teologis, metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyaan kehendak khusus. Pada tahap metafisik, kekuatan adikodrati itu di ubah menjadi kekuatan abstrak, yang kemudian dipersatukan dalam pengertian yang bersifat umum yang disebut alam dan dipandangnya sebagai asal dari segala gejala. Pada tahap positif,, usaha pengenalan yang mutlak, baik pengetahuan teologis ataupun metafisis dipandang tak berguna.
Positifisme adalah kelanjutan dari empirisme. Kalau empirisme menitikberatkan pada pengalaman saja dan merendahkan fungsi akal, sedangkan positivism menggabungkan keduanya. Bagi positifisme, pengalaman perlu untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin agar akal mendapatkan suatu hokum yang bersifat universal.
4. Metode Kontemplatif : Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk mencapai pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang di dapat melalui intuisi bisa diperoleh dengan cara berkomtemplasi seperti yang dilakukan oleh al-Ghazali. Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifah . Al-Ghazali menerangkan bahwa pengetahuan intuisi atau ma’rifah yang disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar. Pengetahuam yang diperoleh intuisi ini hanya bersifat individual.
5. Metode Dialektis : metode ini disebut juga dengan metode tanya jawab yang diajarkan oleh Sokrates. Tanya jawab yang dilakukan secara meningkat dan mendalam akan melahirkan pikiran yang kritis. Maka dari itu Sokrates mencari kebenaran dengan tanya jawab untuk mencapai kejerinihan filsafat.
B. Hakikat Ilmu
Moh. Nazir, Ph.D(1983:9) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik sesuai kaidah umum.
Ahmad Tafsir (1992:5) memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris.
Sikun Pribadi (1972:1-2) mengemukakan, Objek ilmu pengetahuan adalah dunia fenomena, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum logika yang tertib. data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditntukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu system tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integrative itu kita sebut Ilmu Pengetahuan.
Lorens Bagus (1996:307-308) mengemukakan bahwa ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (atau alam objek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis.
C. Karakteristik Ilmu
Randall dan Buchler mengemukakan beberapa ciri umum ilmu, yaitu:
Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama
Hasil ilmu kebenaannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
Objek tidak bergantung pada pemahaman pribadi.
Pendapat senada diajukan Ralp Ross dan Enerst Van den Haag bahwa ilmu pengetahuan memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum dan akumulatif (Uyoh Sadulloh,1994:44). Sementara dari apa yang dikemukakan oleh Lorenz Bagus (1996-307-308) tentang pengertian Ilmu dapat diidentifikasi bahwa salah satu sifat ilmu adalah koheren yakni tidak kontradiktif dengan kenyataan.
Sementara itu, Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut:
1. Obyektif: ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif.
2. Koheren: pernyataan/ susunan ilmu tidak kontradiktif dengan kenyataan
3. Reliable: produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi
4. Valid: produk dan cara-cara ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi.
5. memiliki generalisasi: suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum.
6. Akurat: penarikan kesimpulam memiliki keakuratan yang tinggi.
7. Dapat melakukan prediksi: ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
D. Fungsi Filsafat Ilmu dalam Merealisasikan Masalah Pendidikan
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Dengan demikian, filsafat ilmu sangatlah penting peranannya bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Tentu saja, filsafat ilmu sangat bermanfaat bagi manusia untuk menjalani berbagai aspek kehidupan.
Dalam Filsafat Ilmu Pendidikan membahas mengenai struktur ilmu dan kegunan ilmu bagi kepentingan praktis dan pengetahuan tentang kenyataan. Objek dalam filsafat Ilmu Pendidikan dapat dibedakan dalam 4 (empat) macam, yaitu:
• Ontology Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi pendidikan.
• Epistemologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat objek formal dan material ilmu pendidikan.
• Metodologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pengetahuan
• Aksiologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentng hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan.
06. AKSIOLOGI
A. Pengertian-pengertian
a. Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.
Sedangkan aksiologi menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian, yaitu: pertama, tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio politik.
b. Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa arab (a’lama) yang berarti pengetahuan. Pemakaian kata itu dalam bahasa Indonesia, kita selaraskan dengan istilah science (inggris). Science berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata, yaitu scio dan scire yang juga berarti pengetahuan. Ilmu itu haruslah sistematis dan berdasarkan metodologi yang mengandung dari tiga kategori yaitu hipotesa, teori dan dalil atau hokum dan tiga kategori ini berlaku untuk ilmu eksak (pasti).
c. Nilai
Nilai adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya. Dengan demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah suka atau tidak suka.dan nilai itu objektif, apabila ia tidak tergantung ada subjek atau kesadaran yang menilai.
Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektifisme. Objektifisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada.
d. Akhlak
Menurut al-Ghozali akhlak adalah “suatu ifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pikiran ”. Akhlak merupakan seperangkat tata nilai keagamaan yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu mempertanyakan dan mengunyah secara kritis terlebih dahulu.
e. Etika, Moral dan Etika Moral
Etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal atau perbuatan-perbuatan.
Moral (adat, istiadat, kebiasaan, tingkah laku, kelakuan) latin “moris” (adat, istiadat, watak, akhlak cara hidup). Jadi moral adalah suatu aturan atau tatacara hidup yang bersifat normative yang sudah ikut serta bersanma kita seiring dengan umur yang kita jalani.
Kata etika berasal dari Yunani kuno yaitu ethikos, ethos (adat kebiasaan, praktek). Sedangkan kata moralis diperkenalkan ke dalam kosa kata filsafat oleh Cicero. Kata moralis selaras dengan kaata ethikos.
f. Teori Etika
Teori etika adalah gambaran rasional mengenai hakikat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa perbuatan dan keputusan tersebut secara moral diperintahkan dan dilarang. Oleh karena itu, penelitian etika selalu menempatkan tekanan khusus terhadap definisi konsep-konsep etis, justifikasi dan penilaian terhadap keputusan moral, sekaligus membedakan antara perbuatan dan keputusan yang baik dan buruk.
Dalam kajian etika al-Ghozali mengajarkan bahwa manusia mempunyai tujuan yang agung yaitu kebahagiaan di akhirat dan bahwa amal-amal itu baik jika ia menghasilkan pengaruh yang baik pada jiwa yang membuatnya terjurus pada tujuan tersebut dan dikatakan amal itu buruk jika menghalangi jiwa mencapai tujuan itu.
Menurut Louis terdapat tiga macam teori etika, yaitu:
1. Etika deskriptif, yaitu etika yang tugas hanya sekedar menggambarkan objek-objeknya secara cermat. Etika ini bersangkutan dengan bermacam-macam predikat serta tanggapan kesusilaan yang ada. Jadi etika deskriptif adalah gambaran objek etis secara cermat.
2. Etika mormatif, yaitu etika yang dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran atau kaidah-kaidah yang mendasari pemberian taggapan atau penilaian terhadap perbuatan-perbuatan. Jadi etika normative membicarakan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi dan memungkinkan orang untuk menetapkan apa yang bertentangan dengan apa yang seharusnya terjadi.
3. Etika praktis, yaitu bahwa etika praktis kelihatan suatu sikap yang harus diambil untuk dilaksanakan dlam menyelesaikan suatu problem berdasarkan pilihan etis, terkadang sulit menentukan pembenaran-pembenarannya karena berbedanya penilaian etis. Seperti kasus dokter dan pasien dalam menghadapi penyakit yang tidak mungkin disembuhkan secara medis.
g. Estetika
Menurut KBBI estetika adalah cabanag filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindajhan seta tanggapan manusia terhadapnya. Estetika adalah apa yang diakui sebagai obyek pemuasan darurat yang tidak berkonsep. Jadi jika dikaitkan dengan filsafat ilmu itu bahwa seseorang akan mendapat keindahan atau nilai yang baik ilmu yang ia peroleh ia gunakan dengan sebaik-baiknya.
B. Aksiologi Ilmu
Aksiologi ilmu merupakan aturan moral dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Apapun pengetahuan itu baik kesyari’atan maupun lainnya, teoritis maupun praktis, ibarat pisau bermata dua yang dapat digunakan pemiliknya untuk berlaku munafik dan berkuasa atau berbuat kebaikan dan mengabdi kepada kepentingan umat manusia. Misalnya pengetahuan atau ilmu tentang atom, dapat digunakan untuk tujuan-tujuan perdamaian dan kemanusiaan, akan tetapi dapat pula digunakan untuk menghancurkan kebudayaan manusia melalui senjata-senjata nuklir. Oleh karena itu, islam mementingkan ilmu yang bermanfaat dan memperhatikan penggunaannya bagi kepentingan individu dan masyarakat. Sebaliknya islam melarang pengetahuan yang berbahaya seperti sihir serta penggunaannya dalam hal-hal yang membahayakan manusia dan tidak bermanfaat bagi mereka.
C. Aksiologi Ilmu dalam Kerangka Sekuler maupun Agama
Persoalan moralitas dan etika sebenarnya menyangkut persoalan “cara berpikir” atau persoalan filsafat. Sedang studi filsafat, pola berpikir suatu masyarakat, kelompok beragama, suku, bangsa dan sebagainya. Tidak begitu popular di tanah air, kecuali dalam lingkungan yang amat terbatas. Ahmad Mahmud Subhi mencatat bahwa filsafat moral merupakan cabang filsafat yang paling sedikit mendapatkan perhatian dari para peneliti kebudayaan islam. Bahkan Ibnu Khaldun sendiri, ketika membuat klasifikasi ilmu pengetahuan tidak menunjukkan perhatian khusus terhadap filsafat moral.
Jika kita boleh menarik garis batas antara moral dan etika maka “moral” adalah aturan-aturan normative (dalam bahasa agama disebut akhlak) yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu yang terbatas oleh ruang dan waktu. Sedangkan “etika” adalah bidang garap filsafat. Realitas moral dalam kehidupan masyarakat yang terjenihkan lewat studi kritis (critical studies) adalah wilayah yang dibidangi oleh “etika”. Jadi, studi kritis terhadap moralitas menjadi wilayah etika, sehingga moral tidak lain adalah objek material daripada etika.
Berbeda dari etika, yakni filsafat moral maka akhlak lebih dimaksudkan sebagai suatu “paket” atau “produk jadi” yang bersifat mormatif-mengikat, yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Akhlak atau kadang disebut dengan tasawuf adalah seperangkat tata nilai keagamaan yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu mempertanyakan dan mengunyah secara kritis terlebih dahulu.
Dalam dunia pemikiran islam, pembahasan etika terdapat kontroversi antara berbagai faham tentang batas-batas penggunaan akal di hadapan wahyu. George F Haurani seorang pemerhati etika islam membuat klasifikasi penggunaan akal di hadapan wahyu dalam islam pada lima bagian, yaitu:
1. Wahyu dan akal bebas (independent reason) hal ini dapat dilihat dari dua sisi, yakni:
Pertama, bahwa wahyu dilengkapi dengan akal pikiran. Bahwa para ahli hukum bersandar pada al-Qur’an dan Sunnah jika mereka ingin berpedoman hidup yang jelas. Tetapi kalau dari keduanya tidak diperoleh petunjuk yang jelas, maka mereka bebas menggunakan akal pikiran.
Kedua,akal pikiran dilengkapi dengan wahyu bahwa ahli teologi Mu’tazilah berpendapat bahwa manusia yang sehat dapat mengetahui jahat atau buruk dengan akalnya. Setiap orang yang menggunakan akal sehatnya dapat mengetahui aturan-aturan tingkah laku perbuatan yang baik atau buruk, maka setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya dan dengan demikian diberi pahala atau hukuman oleh Tuhan di akhirat kelak.
2. Wahyu dilengkapi oleh akal yang tidak otonom (dependent reason), jadi wahyu sebagai pedoman hidup yang satu-satunya bagi tingkah laku. Tanpa petunjuk dari Tuhan maka manusia akan kehilngan arah dan sesat.
3. Etika hanya berdasar pada wahyu saja, dalam pendapat ini menyatakan bahwa etika yang paling konserfatif sebagaimana yang diajarkan oleh Ibnu Hambal yakni orang yang meyakini bahwa makna lahiriah dari al-Qur’an dapat dipahami secara konkret.
4. Wahyu yang diperluas dengan peran iman. Ini adalah tradisi Syi’ah, yakni yang menyatakan bahwa ada tujuh atau dua belas keturunan Ali yang dianggap tidak dapat berbuat salah dan mengembangkan tata hukum yang bersifat suci dan mirip seperti yang ada dalam lingkungan katolik.
5. Akal adalah lebih dulu dari pada wahyu, pada pendapat ini secara tegas al-farabi menandaskan bahwa filsafat dalam arti penggunaan akal pikiran secara umum dan luas adalah lebih dahulu daripada keberadaan agama baik ditinjau dari sudut waktu maupun logika.
O7. PERBEDAAN STATUS BASIC ONTOLOGI
A. Filsafat ilmu
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
B. Pengertian ontologi
Pembahasan tentang ontology sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.
Kata ontology berasal dari perkataan Yunani: on=being dan logos= logic. Jadi ontology adalah teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Louis O. Kattsoff dalam elements of Filosophy mengatakan, ontology itu mencari ultimate really. Contoh pemikiran ontology adalah Thales yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.
Dalam rumusan Lorens Bagus Ontologi adalah menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya, sedangkan menurut Jujun S. Surya Sumantri dalam Pengantar Ilmu Dalam Perspektif mengetakan Ontologi adalah membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau suatu pengkajian mengenai teori tantang “ada”.
Menurut istilah ontology adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan Ultimate really baik yang berbentuk jasmani/kongkrit maupun rohani/abstrak.
Term Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636M. untuk menemani teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisika. Dan dikembangkan oleh cristian Wolff (1679-1754 M) membagi Metafisika menjadi dua, yaitu Metafisika umum dan Metafisika Khusus. Metafisika umum disebut juga sebagai istilah lain dari Ontologi. Dengan demikian Metafisika umu atau ontology adalah cabang dari filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan Metafisika khusus masih dibagi menjadi tiga yaitu kosmologi, psikologi, dan teologi.
C. Pokok-pokok pemikiran dalam ontology
Di dalam pemahaman ontology dapat dikemukakan pandangan-pandangan pokok pemikiran, diantaranya:
Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakekat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi maupun rohani. Istilah monoisme ditemukan oleh Thomas Davidson atau disebut dengan Blok Universe. Paham ini kemudian terbagi menjadi dua bagian, yaitu materilisme dan idealism.
Dualisme
Yaitu merupakan pandangan yang menyatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini berpandapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah Descaetes (1596-1650 M)
Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosopy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa yunani kuno adalah Anaxagoras dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api dan udara. Sedangkan tokoh modern adalah William James (1842-1910 M).
Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti Nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validasi alternative yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniew.
Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat banda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnistisisme berasal dari Grick Agnostos yang berarti Unknown. A artinya Not, gno artinya know.
Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat tracendent.
D. Fungsi mempelajari Ontologi
Fungsi atau manfaat mempelajari ontology antara lain:
1. Sebagai refleksi kritis atas objek atau bidang garapan , konsep dan asumsi-asumsi ilmu
2. Dunia empiris dapat diketahui oleh manusia dengan panca indra
3. Ontology dapat membantu kita untuk merefleksikan eksestensi suatu disiplin keilmuan tertentu.
E. Hubungan Filsafat Dengan Ilmu
Istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak arti. Menurut Socrates, filsafat merupakan cara berpikir secara radikal dan menyeluruh [holistic] atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
Filsafat dalam peranya tidak bertugas menjawab pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, namun justru mempersoalkan jawaban yang diberikan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa berfilsafat adalah berpikir radikal (hingga sampai ke-akarnya], menyeluruh dan mendasar.
Wiil Durant adalah seorang-orang yang menggambarkan filsafat sebagai pasukan marinir yang sedang merebut sebuah pantai. Setelah pantai berhasil dikuasai, pasukan infanteri dipersilahkan mendarat. Pasukan infanteri adalah merupakan, “pengetahuan “ yang diantaranya “ilmu”.
Dari realita itulah nampak bahwa ilmu berasal dari filsafat, perkembagan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu untuk memahami ilmu terlebih dahulu harus memahami filsafat.
Filsafat mendorong orang untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui.
Dinyatakan pula oleh Wiil Durant bahwa filsafat pada awalnya memiliki dua cabang, yakni :
1. filsafat alami [natural philosophy]
2. filsafat moral [moral philosophy]
Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial
F. Ilmu alam dan ilmu pengetahuan
Filsafat adalah upaya manusia didunia yang mengembara menuju akhirat yang dipelajari menurut sebab pertama (Verhaak, hal. 1-2). Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan filsafat berfungsi sebagai master scientist dan sebagai underlaborer. Sebagai master scientist filsafat sebagai dasar atau basis dalam berlangsungnya ilmu pengetahuan. Disini filsafat bertugas untuk mengkontruksikan teori-teori atau menolaknya berdasarkan pengetahuan apreori, sedangkan bagi para emperis pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengetahuan inderawi.. Apa yang dikatakan Ted Benton dalam buku “Pilosophical Foundation Of The Three Sociologis”, pada halaman 3-7, sebagaimana dirumuskan oleh Peter Winch, dalam buku The Idea Of A Social Science And Its Rerlation To Philosophy: bahwa filsafat berfungsi sebagai master scientist dan sebagai underlaborer:.
1. The Master-Scientis (Methapyshical Conception) :
Filsafat adalah landasan pemikiran ilmu dan perkembangan ilmu dan karenanya perkembangan ilmu sangat tergantung pada pemikiran filsafat..
2. The Under-Labohrer Conception
Filsafat berfungsi sebagai master scintis dan sebagai under labohrer. Sebagai master scintis filsafat sebagai dasar (basis) dalam berlangsungnya ilmu pengetahuan. Filsafat bertugas untuk mengkonstruksikan teori-teori menolaknya berdasarkan pengetahuan apriori. Ini biasanya pendapat kaum rasionalis, dimana mereka berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, dan pengetahuan itu dianggap sah apabila dihasilkan oleh para empiris, pengetahuan yang benar adalah pengetahuan pengamatan inderawi. Tugas filsafat sekedar memberikan pelayanan terhadap ilmu
Dalam kaitannya mengenai hubungan filsafat dengan pengetahuan sosial, Benton pada halaman 11-12 mengemukakan pandangannya dengan mengacu pada 2 aliran pemikiran:.yaitu Positivisme, dan Logis positivisme
Positivisme:
Suatu aliran pemikiran yang beranggapan bahwa ada satu metode dalam ilmu yaitu ilmu alam. Dengan tokoh pertamanya Augus Comte. Para positivisme yakin bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid adalah ilmu pengetahuan (science). Dan ilmu pengetahuan yang benar adalah didasarkan pada pengalaman yang tertangkap lewat indera dan diolah oleh nalar (reason). Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alam dalam memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi melalui metode determinasi, ‘Fixed Law’atau kumpulan hukum teori
Selain itu Positivisme adalah farian dari teori filosofis dari ilmu secara empiris (John Locke). Bagi kaum positivis, tidak ada problem khusus dalam hubungan filsafat dengan ilmu sosial. Pekerjaan filsafat adalah untuk menjelaskan ketidakjelasan konseptual dan untuk mengemukakan standar-standar inteligibilitas dan status keilmuan serta keabsahan. Oleh karena itu standar ini sifatnya universal. Maka tepatlah untuk digunakan dalam ilmu-ilmu sosial.
Menurut golongan positivisme pengetahuan itu baru ilmiah apabila :
a. Obyeknya adalah gejala yang dapat ditangkap indera.
b. Penjelasan terhadap gejala dengan menemukan hukum yang mendasarinya.
c. Proposi bukan merupakan pertanyaan yang partikular, akan tetapi merupakan hukum universal.
d. Dapat dilakukan suatu ramalan yang memungkinkan untuk diuji.
Dengan demikian terdapatlah dermakasi, apakah yang membedakan ilmu dan ilmu pengetahuan sebagaimana tertera dibawah ini:
1. Terbukanya ilmu pengetahuan terhadap verifikasi, suatu uji coba/eksperimen untuk mengecek apakah teori sesuai dengan kenyataan, pengetahuan non ilmiah tidak selalu terbuka untuk verifikasi.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi secara kumulatif : ilmu pengetahuan yang satu merupakan langkah pertama untuk menimbulkan pengetahuan yang lain, dalil yang satu diikuti dalil kedua dan selanjutnya, sehingga ilmu berkembang.
3. Struktur rasional: ilmu pengetahuan konstruksi rasional, karenanya manurut Winer Kreis (penganut aliran Neo Positivisme), peranan subyek besar, karena subyek yang membuat konsturksi rasional, sebagaimana dikemukakan Immanuel Kant mengenai teori konstruksi, teori peranan subyek dalam mengkonstruksi dunia luar, yaitu teori konstruksi tentang pengetahuan, karenanya disebut Epistemologi, Wiener Kreis menekankan kemampuan konstruksi dalam ilmu pengetahuan. Immanuel Kant membedakan dunia Neumenal dan dunia Fenomenal. Pada dunia Neumenal manusia tidak mampu menangkap, maka orang membicarakan secara ilmiah, yang bisa ditangkap manusia adalah dunia Fenomenal, yang tampak karenanya dapat di observasi, yang dapat ditangkap oleh panca indera, kemudian diolah secara rasional, ilmu berkisar (bergerak) pada dunia fenomenal, dilakukan observasi dan pengolahannya lebih lanjut dengan kekuatan rasionalnya
Logis Positivisme :
Logis Positivisme; yaitu suatu pandangan yang mempunyai kadar pandangan idiologis, suatu kelompok yang ingin menyelidiki ilmu. Pandangan ini dianut oleh lingkaran Wina (Wieneer Kreis). Pada Logis Positivisme tersebut terdapat suatu pandangan yang merupakan keyakinan, bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi basis untuk membangun dunia baru yang sejahtera, adil, damai. Wiener Kreis terdiri dari ahli-ahli ilmu alam, matematik dan sosiologi, maka pembahasan terkonsentrasi pada ilmu pengetahuan alam.
Ilmu alam
Ilmu alam (Inggris: natural science) atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.
Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali "ilmu" sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(biasa disingkat IPA).
Tingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat obyeknya yang kongkrit, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti.
Di samping penggunaan secara tradisional di atas, saat ini istilah "ilmu alam" kadang digunakan mendekati arti yang lebih cocok dalam pengertian sehari-hari. Dari sudut ini, "ilmu alam" dapat menjadi arti alternatif bagi biologi, terlibat dalam proses-proses biologis, dan dibedakan dari ilmu fisik (terkait dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang mendasari alam semesta).
Cabang-cabang utama dari ilmu alam adalah:
Astronomi, Biologi, Ekologi, Fisika, Geologi, Geografi fisik berbasis ilmu, Ilmu bumi dan Kimia
G. Perbedaan mendasar ilmu sosial dan ilmu alam.
Ilmu alam atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
ilmu sosial itu mempelajari manusia dari segi hubungannya dengan manusia lain. ilmu sosial sifatnya subjektif dan berdasarkan penafsiran, persepsi, generalisasi, asumsi dan sebagainya. dalam ilmu sosial, perkembangannya dari masa ke masa cenderung dinamis karena adanya kasus kasus baru ataupun faktor-faktor baru dari kasus kasus lama.
Ilmu Sosial mencakup studi ekonomi, sejarah, ilmu politik, psikologi, ilmu sosial, dan sosiologi. Mereka adalah kelompok disiplin ilmu yang berhubungan dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok berinteraksi.
Cabang-cabang ilmu
Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah cabang-cabangnya. Hasrat untuk menspesialisasikan diri pada suatu bidang telaahan yang memungkinkan analisis yang makin cermat dan seksama menyebabkan objek forma (objek ontologis) dari disiplin keilmuan menjadi kian terbatas.
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni Filsafat alam. Yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam dan ilmu social. Ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok yakni ilmu alam dan ilmu hayat. Sedangkan ilmu-ilmu social berkembang agak lambat dibandingkan ilmu-ilmu alam. Pada pokoknya terdapat cabang ilmu-ilmu social yakni antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi dan ilmu politik.
Ilmu Pengetahuan Alam meliputi studi tentang astronomi, biologi, kimia, ilmu bumi dan fisika.
Secara singkat, ilmu sosial adalah studi tentang manusia dan interaksinya, dan ilmu pengetahuan alam adalah studi tentang alam semesta dan cara kerjanya.
08). ANARKISME EPISTEMOLOGI KARL POPPER DAN FEYERABAND
A. Biografi Karl Popper
Popper memiliki nama lengkap Karl Raimund Popper. Seorang filosof sains keturunan Inggris-Austria. Ia dilahirkan diWina pada tanggal Juli 1902 dan kemudian meninggal pada Agustus 1994. Dia anak ketiga dan kedua kakaknya adalah perempuan, Bapaknya Simon Sigmund Carl Popper, adalah seorang doctor hukum dari University of Vienna, yang beragama yahudi. Ibunya Jenny Schiff adalah seorang ahli musik.
Dalam bidang pendidikan, Popper memiliki latar belakang keilmuan yang cukup variatif dan terkesan menjadi seorang yang anti terhadap kemapanan. semangat keilmuan yaitu, maka Popper bukan sajaberhasil memiliki ijazah untuk mengajar matematika, fisika, dan kimia, tetapi berhasil pula memperoleh gelar “doctor filsafat” (Ph.D) pada tahun 1928 dengan disertasi tentang Zur Methodenfrage der Denpsychologie (Masalah metodologi dalam psikologi pemikiran).
Salah satu peristiwa yang mempengaruhi perkembangan inteklektual popper dalam filsafatnya adalah dengan tumbangnya teori newton dengan munculnya teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang dikemukakan oleh Eistein. Dimana popper terkesan dengan ungkapan Eistein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalam tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya.
Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiyah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yang krusial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.
Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemology, dan sampai pada bukunya yang berjudul logic der forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul the open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik- kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri.
1. Kritik terhadap Positivisme Logis
Asumsi pokok teorinya adalah satu teorinya adalah satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.
Hal yang dikritik oleh popper pada positivisme logis adalah tentang Metode Induksi, ia berpendapat bahwa induksi tidak lain hanya khayalan belaka,dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan ilmu pengetahuan adalah mengembangkan pengatahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivism logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena kelemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran Deduktif.
2. Kritik Popper terhadap dan Epistemologi
• Ilmu pengetahuan dan bukan ilmu
Ilmu pengetahuan dapat dinyatakan secara umum adalah yang mengenai hal-hal yang logis dan berdasar penelitian, tetapi membuka kritik dan perbaikan ; sedangkan yang bukan ilmu adalah ungkapan yang universal, tidak berlandaskan persyaratan seperti yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan, sehingga sukar pula untuk dibicarakan secara ilmiah.
• Proses pengembangan pengetahuan ilmiah
Popper menekankan bahwa pengalaman merupakan unsur yang paling menentukan dan pengalaman tidak sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk pembuktian atau pembenaran suatu teori atau pernyataan, melainkan mengenai cara menguji, atau metode penelitian itu sendiri. Jadi popper mengatakan bahwa pengalaman sama dengan pengujian dan pengujian sama dengan metode penelitian.
Popper juga mengungkapkan adanya tahap-tahap pengembangan pengetahuan ilmiah, yaitu:
a) Penemuan masalah
b) Pembuatan teori
c) Perumusan masalah atau hipotesa
d) Pengujian ramalan
e) Penilaian hasil
f) Pembuatan teori baru
Dari penjelasan diatas bahwa untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentunya manusia tidak akan lepas dari keinginan percobaan, kesalahan, terkaan atau penolakan yang silih berganti dan menurut popper teori adalah unsure tetap dalam evolusi manusia dan teori pula adalah unsure rasio dan bagian dari pembawaan manusia.
Apa yang dimaksud oleh popper Rasionalisme Kritis adalah memberikan kebebasan pada manusia untuk berfikir penuh kepada manusia. Pikiran manusia merupakan percobaan ataau terkaan belaka. Untuk memperbaiki nasibnya, manusia dituntut mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan cara mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang tersimpan dalam pikirannya sendiri. Teori disatu pihak hanyalah alat untuk mencapai pikiran yang lain yang lebih tepat. Teori pada hakekatnya merupakan jalan menuju fakta-fakta baru. Tugas ilmuan menurut popper adalah membebaskan manusia dari terkaan dan ia dituntut untuk berkarya dan menciptakan fakta baru sehingga dengan cara ini manusia dapat dibebaskan dari cengkraman kesalahan.
B. Paul feyerabend
1. Biografi Feyerabend
Paul feyerbend lahir di Wina tahun 1924. Gelar doctor fisika ia peroleh dari Wina. Menurut pengakuannya, pada masa itu ia menggambarkan sebagai seorang Rasionalis. Maksudnya pada masa itu ia percaya akan keutamaan dan keunggulan ilmu pengetahuan secara ilmiah. Feyerbend memasuki keanggotaan dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoritis (A Club For Salvation of theoretical Physics).
Karya momumentalnya, Agains Method (1975), menjadi titik tolak pemikirannya untuk mendombrak semua tatanan metodologis keilmuan yang seolah sudah terikat erat setiap sekatnya. Dari buku inilah kemudian muncul frasa antikredo “Anything goes” yang kemudian identik dengan pemikirannya.
1. Kritik Feyerband terhadap epistemologis
Titik awal pemikiran mengenai metodologi keilmuan feyerbend justru merupakan reaksi ketidaksetujuan terhadap pemikiran popper yang notabene merupakan gurunya di London School of Economics. Feyerbend bahkan secara tegas menyangkal metode falsifikasi popper. Falsifikasi popper sendiri menngasumsikan bahwa setiap setiap teori keilmuan harus selalu difalsifikasi untuk mencapai ebuah teori yang lebih sempurna. Disini feyerbend memunculkan arus pluralis, bukannya memfalsifikasi, tetapi terus memacu perkembangan-perkembangan teori-teori keilmuan baru dan terus mempertahankannya.
Kemudian tolak ukur keberhasilan dari teori-teori yang baru tersebut tidak harus selalu mengekor teori lama, ataupun harus mengacu kepada suatu bentuk yang dianggap mendekati sempurna. Kemunculan teori-teori baru itupun sudah dinggap sebagai kemajuan karena memang sangat sulit untuk memunculkan paradigm-paradigma lain dengan berbagai factor Akademis Maupin budaya dan politik yang ikut mengekang jalannya suatu keilmuan.
Anarkisme Feyerabend disebut sebagai anarkisme epistemologis, yang ia pertentangkan dalam anarkisme politik. Bila anarkisme politis anti terhadap kemapanan atau kekuasaan, maka anarkisme metodologis justru ingin mempertahankannya. Maksud feyeraband ialah bahwa dalam epistemologis terdapat bentuk anarkisme yang berupaya mempertahankan kemapanan sekaligus menyingkirkan kemapanan. Ia bukan hanya tidak punya program tetapi anti program. Hal itu ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternative. Anarkisme Feyeraband yang demikian itu, terkadang diartikan orang sebagai kesewenang-wenangan epistemology, karena tidak adanya ukuran atau aturan yang tetap untuk menentukan antara yang ilmiah dengan non-ilmiah.
Anarkhisme metodologis yang ditawarkan feyerbend disini bukan merupakan sebuah bentuk penggulingan status quo keilmuan. Konsentrasi justru lebih diarahkan pada munculnya paradigm-paradigma lain dengan tidak menegasi mengenai keilmuan yang terlebih dulu mendominasi. Kebebasan bagi status quo maupun metode-metode alternatif untuk terus mengembangkan keilmuan tanpa hambatan dalam aspek epistemologisinilah yang merupakan karakter khusus dari anarkhisme metodologis ala feyerabend.
Pandangan Feyeraband di ataslah yang disebut dengan Anti-Metode, yang ia paparkan dalam Against Method (1975). Serangan yang dikenal dengan anti-metodenya itu, dipaparkan dalam empat bagian. Pertama, kontra induksi. Kedua, ketergantungan observasi pada teori. Ketiga, prinsip ketidaksepadanan. Keempat prinsip apa saja boleh. Kritik-kritik tajam feyerabend cukup ampuh membongkar pandangan saintisism. Berdasarkan analisis sejarah, ia dapat mengajukan bukti-bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang justru karena memberinya kebebasan, bukan dengan memagarinya melalui peraturan tunggal atau haanya dengan menerapkan satu metode. Seorang ilmuan menurut feyerabend, perlu keberanian dalam mengajukan ide-ide, gagasan-gagasn baru tanpa harus dikekang oleh tradisi ilmiah. Namun tentu saja kekbebasan yang diinginkannya bukanlah kebebasan yang liar, bukan kecendrungan sesaat yang tidak berdasar dan berarti sedikitpun. Prinsip apa saja boleh bukan berarti apa saja boleh tanpa batas, tanpa aturan dan tujuan. Inilah yang dimaksud feyerabend dengan anarkisme epistemologis.
09. ONTOLOGI
A. Definisi Ontologi
Ontologi (Teori Hakikat) merupakan pembahasan pengetahuan mengenai objek yang dipikirkan secara mendalam sampaui pada hakikat .
Secara garis besar didalam ontologi membahas tentang :
1. Naturalisme/materialisme yang menyatakan bahwasanya hakikat benda adalah materi itu sendiri, dengan pendapat rohani, jiwa, spirit, muncul dari benda, tetapi kaum naturalis tidak mengakui bahwa roh, jiwa termasuk tuhan.
2. idealisme menyatakan bahwa hakikat benda adalah rohani, spirit. Alasan mereka nilai rohnya lebih tinggi dari badan.
3. dualisme menyatakan bahwa hakikata benda adalah dua materi dan imateri. Materi bukan muncul dari roh, roh tidak muncul dari benda.
B. Istilah-istilah dasar Ontologi
Diantara istilah-istilah terpenting yang terdapat dalam bidang atau kajian ontology adalah : yang ada (being), kenyataan (reality), dan eksistensi (existence). Berikut uraian mengenai sejumlah pernyataan yang mengandung istilah tadi.
1. yang ada dan yang tiada
Yang ada dan yang tiada dapat diketahui dengan mengetahui :
- ciri paling umum yang dipunyai suatu barang atau benda.
Istilah “ada” senantiasa menunjuk kepada suatu ciri yang melekat pada segala swsuatu apa saja, (bersipat umum). Tanpa disertai sifat “ada” tidaklah mungkin ada sesuatu yang bereksistensi. Sehubungan dengan itu aristoteles memberikan definisi “ada” kepada metafisika. Karena metafisika merupakan “ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada”.
- yang sungguh ada dan yang mungkin ada
Yang ada, yaitu segenap hal yang dapat diterapi pengertian “ada”. “ada” dapat dibagi dua. (1)”yang sungguh ada” dan (2) “yang mungkin ada”. Lingkungan “yang ada” dapat dibagi lebih lanjut dalam; (1a) yang nyata/yang ada dalam kenyataan, dan (2a) yang nampaknya ada/yang ada dalam kenampakan. Atau (1b) yang nyata ada/yang ada dalam kenyataan, dan (2b)yang ada dalam pikiran (sebagai piran). Kiranya jelas bahwa dalam keadaan yang bagaimanapun pengertian “ada/yang ada” tidak mungkin dikaitkan dengan pengertian “eksistensi”. Karena adakalanya hal yang tidak bereksitensi dapat dikatakan ada atau bersifat ada.
- yang ada dan eksistensi
“ada” tidaklah setara dengan “bereksistensi”. Jika suatu hal bereksistensi sudah pasti hal itu “ada”. Tetapi sesuatu yang ada tidaklah selalu bereksistensi.
2. Kenyataan dan Kenampakan
Kenyataan dan kenampakan dapat diketahui dengan :
- yang nyata ada pasti ada
“nyata” sesuatu apapun yang bersifat nyata, pasti ada. Tetapi sesuatu yang masih dalam kemungkinan ada, kiranya sulit untuk dikatakan nyata.
- kenyataan tidak sepenuhnya sama dengan eksistensi
3. eksistensi dan non-eksistensi
Eksisrtensi dan non-eksistensi dapat diketahui dengan mengetahui :
- perlunya pemilahan Esensi dan Eksistensi
Seperti telah dijelaskan diatas “ada” berarti mempunyai hubungan. “nyata ada” berarti mempunyai hubungan keserasian dengan segi-segi lain dari kenyataan. Jadi dalam hal “ada” dan “kenyataan” senantiasa terdapat suatu hubungna yang menonjol.
C. Status Ontologi Objek Ilmu
Untuk mengetahui status ontology objek ilmu sebaiknya kita rumuskan sejumlah pernyataan mengenai kenyataan :
1. Kenyataan bersifat kealaman (Naturalisme)
2. Kenyataan bersifat benda mati (Materialisme)
3. Kenyataan bersifat kerohanian (Idealisme)
Dari sejumlah pernyataan diatas berikut penjelasannya.
1. Naturalisme
Dalam pandangan naturalisme “kejadian sebagai kategori pokok”. William R. Dennes, penganut paham naturalisme modern mengatakan bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti bersifat kealaman, dengan beranggapan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah kejadian. Setiap kejadian dalam ruang dan waktu merupakan unsure penyusun kenyataan yang ada. Dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa.
“yang nyata Ada pasti Bereksistensi”. Dalam pandangan Naturalisme memiliki dua maksud yaitu; pertama, sesuatu yang dianggap di luar ruang dan waktu tidak mungkin berupa kenyataan. Kedua, sesuatu yang tidak mungkin diselesaikan dengan mengunakan metode-metode yang digunakan dalam ilmu alam, tidak mungkin berupa kenyataan.
Ada satu hala yang harus diingat, apabila para penganut paham naturalisme menggunakan istilah “kenyataan” maksudnya ialah apa saja yang ada. Bila menggunakan istilah “Alam” segala hal yang nyata merupakan bagian dari Alam, artinya apa saja yang ada pasti bereksistensi dalam ruang dan waktu.
2. Materialisme
Kaum materialis berpandangan “yang terdalam adalah materi” maka terdapat ungkapan yang mengatakan bahwa “kenyataan bersifat material” dipandang bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakan nyata (1) dalam babak terakhir berasal dari materi (2) berasal dari gejala-gejala yang bersangkutan dengan materi.
3. Idealisme
Para penganut paham naturalisme dan materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka sarankan (materi, alam dsb) sudah cukup untuk memberi keterangan mengenai kenyataan. Namun ada hal-hal yang tidak dapat diterangkan dengan berdasar pengertian alam dan materi. Seperti jiwa atau roh merupakan istilah yang harus ada sebagai tambahan dari istilah-istilah yang sudah ada. Mereka yang mengatakan bahwa pengertian jiwa atau roh diperlukan, dinamakan “kaum idealis” dan ajaranya dikenal sebagai “idealisme”.salah seorang tokohnya yaitu Watts Cunningham.
Watts Cunningham mendefinisikan idealisme merupakan suatu ajaran yang berusaha menunjukan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam, maka ditinjau dari segi logika kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tetentu bersifat mendasari hal-hal tersebut.
D. Basis klasifikasi ontologis objek ilmu
Cabang-cabang ilmu
Ilmu berkembang dengan secara pesat demikian dengan cabang-cabangnya. Hasrat ingin menspesialisasikan pada satu bidang telaahan yang cermat dan seksama menyebabkan objek forma (objek ontologis) dari disiplin keilmuan menjad kian terbatas.
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu sosial.
Ilmu-ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam dan ilmu hayat. Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta, yang kemudian bercabang lagi menjadi fisika, kimia, astronomi, dan ilmu-ilmu bumi.
Ilmu-ilmu sosial berkembang agak lambat disbanding dengan ilmu-ilmu alam. Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik.
10. KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-GHAZALI
DAN IBNU AL-FARABY
A. KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-GHAZALI
1) Klasifikasi Ilmu
Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam) . Dalam hal ilmu, Al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu namun pengklasifikasian ilmu menurut al-Ghazali bukan berarti memberikan pandangan dikotomik, tetapi memberikan isyarat bahwa aneka ragam ilmu pengetahuan itu adalah satu rangkaian keilmuan dan satu kesatuan konsep yaitu ilmu dalam pengertian islam.
Sedangkan klasifikasi ilmu menurut Al-Ghazali merupakan pembidangan ilmu itu sejauh mana penuntutnya mampu mengembangkannya, sebab setiap pribadi memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda dan bakat yang berlainan. Begitu pula sebagai pragmatic sufistik al-Ghazali dalam pembidangan ilmu itu tetap mempertimbangkan segi kemudharatan dan kemanfaatan ilmu itu yang merupakan kewajiban bagi manusia untuk memilihnya
Atas dasar itulah al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu dalam dua golongan yaitu.
1. ilmu Syar’iyyah dan
2. Ilmu Ghoiru Syar’iyyah
Adapun yang dimaksud dengan syar’iyyah ialah apa yang diambil faedah dari para Nabi dan tidak dapat ditunjukkan oleh akal seperti ilmu hitung, tidak dapat dengan pengamalan seperti kedokteran dan tidak pula oleh pendengaran seperti bahasa. Sedangkan ilmu ghoiru syar’iyyah terbagi kepada apa yang terpuji, apa yang tercela dan apa yang dibolehkan.
Unsur sufistik dan pragmatic al-Ghazali sangat jelas pada klasifikasi di atas karena ilmu syar’iyyah merupakan ilmu yang tidak diragukan lagi dampaknya bagi penuntutnya. Ilmu ghairu syar’iyyah termasuk ilmu yang diserahkan pencapaiannya terhadap manusia melalui kemampuan penangkapan panca indranya, penalaran akalnya dan penghayatan hatinya, ilmu ini berbeda dari ilmu syar’iyyah yang sudah jelas kebenarannya oleh karena itu al-ghazai membagi lagi kedalam ilmu terpuji, ilmu tercela dan ilmu bagi manusia untuk menuntutnya.
2) Konsep Ilmu
Konsep ilmu menurut al-ghazali mampu duduk sebagai rujukan ilmiah dalam bermacam-macam disiplin, Karena jelas al-ghazali telah memberikan satu wawasan keterhubungan kerja antara manusia dan Allah. Jika dikategorikan konsep llmu versi al-ghazali kedalam epistimologi filsafat fenomenologi islam, maka ada empat kebenaran indrawi, kebenaran akal, kebenaran etik dan kebenaran transenden.
Secara pedagogic kajian al-ghazali tentang ilmu menunjukkan suatu pola yang komprehensif sebab al-ghazali telah memasukkan seluruh bidang kajian ilmu dalam pemahamannya serta asal-usul dan sumbernya seperti dikemukaakan diatas bahwa ada ilmu yang bersumber dari Allah (kebenaran transcendent) dan ada ilmu yang bersumber pada manusia (bias berwujud kebenaran/pengalaman indrawi/sensual, akal dan etik).
B. KLASIFIKASI ILMU MENURUT IBNU AL- FARABY
1) Klasifikasi Ilmu
Ia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Bin Tharkhan, sebutan “al-Farabi” diambil dari nama kota “Farab”, tempat ia dilahirkan. Sejak kecil ia suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa
Dalam hal ilmu, Al- Farabi telah memberikan klasifikasi tentang ilmu dalam tujuh bagian, yaitu: percakapan, logika, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqh. Ketujuh ilmu itu telah melingkupi seluruh kebudayaan Islam pada masa itu . Menurut Al-Farabi, dia telah menyusun klasifikasi di bawah dengan sub-subdivisi (sub-sub bagian).
1. Pertama, klasifikasi itu dimaksudkan sebagai petunjuk umum ke arah berbagai ilmu.
2. Kedua, klasifikasi tersebut memungkinkan seseorang belajar tentang hierarki ilmu.
3. Ketiga, berbagai bagian dan sub bagiannya memberikan sarana yang bermanfaat dalam menentukan sejauh mana spesialisasi dapat ditentukan secara sah. Dan
4. Keempat, klasifikasi itu menginformasikan kepada para pengkaji tentang apa yang seharusnya dipelajari sebelum seseorang dapat mengklaim diri ahli dalam suatu ilmu tertentu.
Seperti apa yang ditulis di atas, bahwa al-Farabi mengawali klasifikasinya dengan ilmu bahasa. Dia membedakan dua fungsi mendasar ilmu ini, yang pertama adalah fungsi memelihara lafal-lafal bermakna (al-alfadz al-dallah) yang sederhana ataupun yang tersusun. Fungsi kedua ilmu bahasa adalah untuk merumuskan kaidah atau konvensi yang mengatur lafal-lafal bermakna.
Dan mengenai logika, dalam klasifikasi al-Farabi, logika bukan bagian dari sebuah ilmu filosofis, tapi logika merupakan akal atau instrumen ilmu-ilmu filosofis. Tetapi logika juga merupakan suatu ilmu (ilm). Al-farabi tampaknya berpendapat bahwa logika sebagai ilmu berada di antara ilmu bahasa dan ilmu-ilmu filosofis.
Al-Farabi menyatakan bahwa logika dan ilmu kebahasaan adalah dua ilmu yang saling terkait erat. Dia menganggap logika sebagai sejenis tata bahasa universal yang keabsahannya menyebar luas ke seluruh ras manusia.
Mengenai ilmu politik al-Farabi, fiqh dan kalam secara konseptual saling berkaitan sejauh semuanya didasarkan atas wahyu. Ilmu politik al-Farabi pada dasarnya merupakan suatu ilmu tentang doktrin wahyu dan praktek atau hukum ilahi dan syari’ah yang dipahami pada tingkat filsafat, sementara fiqh dan kalam adalah dua ilmu tentang doktrin dan praktek yang sama tetapi dipahami pada tingkat agama.
11. NATURALISASI ILMU dan SEKULARISASI ILMU
1. Sekularisasi Ilmu
A. Pengertian Sekularisasi
istilah sekularisasi berakar dari kata “sekuler” yang berasal dari bahasa latin ”Seaculum” artinya abad (age, century), yang mengandung arti bersifat dunia, atau berkenaan dengan kehidupan dunia sekarang.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekularisasi diartikan segala hal-hal yang membawa kea rah kehidupan yang tak didasarkan pada ajaran agama. Dari berbagai pengertian di atas menunjukkan bahwa makna sekularisasi ilmu pengetahuan adalah suatu proses pelepasan/pembebasan ilmu dari setiap pengaruh agama sebagai landasan berpikir.
B. Latar Belakang Lahirnya Sekularisasi
Sekularisasi berasal dari dunia Barat kristiani, yang muncul dengan diserukan oleh para pemikir bebas agar mereka tetrlepas dari ikatan gereja, para pemuka agama dan pendetanya. Pada awalnya, agama kristiani lahir di dunia Timur, namun warna kristiani amat tebal menyelimuti kehidupan dunia Barat. Keadaan ini sejak kekaisaran Romawi Konstantin yang agung (280-337) yang melegalisasikan dalam wilayah imperiumnya serta mendorong penyebarannya merata ke benua Eropa.
C. Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
Sekularisme berkembang dari aliran filsafat Yunani yang diawali oleh pemikiran salah satu filsuf Yunani, Aristoteles. Sekularisme juga dapat dilihat dari berkembangnya aliran pemikiran rasionalisme yang menafikan sesuatu yang diluar pemahaman akal. Dalam pandangan rasionalisme, segala sesuatu yang di luar pemahaman akal manusia dinyatakan bukan sebagai suatu realitas dandiyakini keadaannya. Pandangan ini menilai sesuatu yang nyata adalah segala sesuatu yang dapat dicerna melalui indera manusia yaitu dapat dilihat, didengar, diraba, dibaui, dan dirasakan.
D. Pokok-Pokok Ajaran Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
a) Prinsip-prinsip esensial dalam mencari kemajuan denngan alat material semata-mata.
b) Etika dan moralitas didasarkan pada kebenaran ilmiah tanpa ada ikatan dan metafisika, segalanya ditentukan oleh kriteria ilmiah yang dapat dipercaya dan yang bersifat validitas.
c) Masih mengakui agama pada batas tertentu dengan ketentuan agama tidak boleh mengatur urusan dunia melainkan hanya mengatur tentang akhirat belaka.
d) Menekan perlunya toleransi semua golongan masyarakat tanpa mengenal perbedaan agama.
e) Menjunjung tinggi penggunaan rasio dan kecerdasan.
E. Sekularisasi Ilmu Pengetahuan Ditinjau dari Epistemologis
Secara formal epistemologis sekularisasi ilmu pengetahuan berbentuk rasionalisme dan empirisme. Dimana memandang ilmu pengetahuan berdasarkan pengamatan empiris dan menalaah secara rasio bukan keyakinan ”iman” sebagai penilai.
2. Naturalisasi Ilmu
A. Pengertian Naturalisasi Ilmu
Istilah naturalisasi ilmu digunakan oleh Prof. Sabra untuk menyatakan proses akulturasi dari suatu ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang berlaku di Negara itu sendiri. Menurut Sabra, ada tiga tahap naturalisasi ilmu Yunani ke dalam dunia Islam, yaitu (1) Justifikasi, yaitu upaya filsuf untuk membenarkan pengadopsian filsafat Yunani (2) adaptasi, yaitu sikap selektif dalam mengadaptasi ilmu Yunani agar tidak berbenturan dengan nilai dan ideologi islam, dan (3) kritik, yaitu sikap kritis filsuf muslim terhadap ajaran filsafat Yunani.
B. Fase/Tahap Sehingga Ditemukan Ilmu Pengetahuan
1. Fase naturalisasi
2. Sekularisasi ilmu pengetahuan
3. Islamisasi ilmu
12. INTEGRASI ILMU dan ISLAMISASI ILMU
A. Dikotomi Ilmu Pengetahuan
Dikotomi adalah pembagian dua bagian, pembelahan dua, bercabang dua bagian. Ada juga yang mendefinisikan dikotomi sebagai pembagian di dua kelompok yang saling bertentangan. Secara terminologis, dikotomi dipahami sebagai pemisahan antara ilmu dan agama yang kemudian berkembang menjadi fenomena dikotomik-dikotomik lainnya, seperti dikotomi ulama dan intelektual.
B. Paradigma Islamisasi Ilmu dan Ilmu-Ilmu Umum
1. Islamisasi Ilmu
Farid al-Attas membahasakan islaimisasi ilmu pengetahuan adalah suatu ilmu yang merujuk pada upaya mengelimir unsur-unsur atau konsep-konsep pokok yang membentuk peradaban dan kebudayaan Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial, yang termasuk dalam unsur-unsur atau konsep humanisme, drama serta strategi dalam kehidupan rohani yang menyebabkan ilmu yang sepenuhnya benar menurut ajaran Islam tersebar ke seluruh dunia, setelah melewati proses di atas ke dalam ilmu tersebut dinamakanlah unsur-unsur dan konsep-konsep pokok keislaman.
2. Ilmu-Ilmu Sekuler
sekuler diartikan dengan bersifat duniawi atau kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian sehingga sekularisasi berarti membawa ke arah kecintaan kehidupan dunia, oleh karena itu norma-normanya tidak perlu didasarkan pada agama.
Menurut Raghib al-Isfahani, ilmu adalah mengenali sesuatu sesuai dengan hakikatnya (apa adanya atau objektif). Ilmu ini terbagi dalam dua jenis. Pertama, mengenali inti sesuatu dan kedua, memahami hukum sesuatu, baik hukum yang terdapat di dalamnya atau di luar itu. Tetapi ada juga ulama yang mempunyai cara pembagian berbeda, yaitu pertama, ilmu yang bersifat analisis. Kedua, ilmu yang bersifat praktis. Pada sisi lain ada yang membaginya menjadi ilmu naqli dan aqli.
C. Hakikat Integrasi Ilmu
Kata kunci konsepsi integrasi keilmuan berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan yang benar berasal dari Allah. Dengan pengertian yang hampir sama Usman Hassan menggunakan istilah knowledge is the light that comes from Allah.
Bagi al-Faruqi, mengaui Ketuhanan Tuhan dan keesaan berarti mengakui kebenaran dan kesatupaduan. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa integrasi keilmuan memiliki kesesuaian dengan prinsip al-tauhid.
D. Basis Integrasi Ilmu-Ilmu Agama dan Umum
Ilmuwan-ilmuwan muslim akan percaya sepenuhnya bahwa sumber dari segala ilmu adalah Allah. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk mengetahui kebenaran sejati tentu merupakan sumber bagi segala kebenaran-kebenaran lainnya, termasuk kebenaran atau realitas-realitas ilmu. Al-qur’an mengatakan “kebenaran itu berasal dari Allah, maka janganlah engkau pernah meragukannya”. Dengan demikian para ilmuwan muslim sepakat bahwa sumber ilmu adalah Allah sendiri, sang Kebenaran.
E. Integrasi Ilmu Pengetahuan Keislaman dengan Umum
Setelah umat islam mengalami kemunduran sekitar abad XIII-XIX, justru pihak Barat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dari Islam sehingga ia mencapai masa renaisance. Ilmu pengetahuan umum (sains) berkembang pesat, sedangkan pengetahuan Islam mengalami kemunduran, yang ada pada akhirnya muncullah dikotomi antara dua bidang ilmu tersebut.
Sekularisasi ilmu pengetahuan dari segi metodologis menggunakan epistemologis rasioalisme dan empirisme. Sedangkan sekularisasi ilmu pengetahuan pada aspek aksiologi bahwa ilmu itu bebas nilai atau netral, nilai-nilai ilmu hanya diberikan oleh manusia pemakainya. Memasukkan nilai ke dalam ilmu, menurut kaum sekuler menyebabkan ilmu itu memihak dan dengan menghilangkan objektivitasnya.
Azyumardi Azra mengemukakan ada tiga tipologi respon cendikiawan muslim berkaitan dengan hubungan antara keilmuwan agama dengan keilmuan umum. Pertama, Restorasionis, yang mengatakan bahwa ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan adalah praktek agama (ibadah). Kedua, Rekonstruksionis, interpretasi agama untuk memperbaiki hubungan peradaban modern dengan islam. Ketiga, Reintegrasi, merupakan rekonstruksi ilmu-ilmu yang berasal dari al-ayat al-qur’aniyah dan yang berasal dari al-ayat al-kauniyah berarti kembali kepada kesatuan transendental semua ilmu pengetahuan.
Kuntowijoyo menyatakan bahwa inti dari integrasi adalah upaya menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu integralistik), tidak mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia. Model integrasi adalah menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai grand theory pengetahuan. Sehingga ayat-ayat qauliyah dan kauniyah dapat dipakai.
Kamis, 30 Desember 2010
Senin, 29 November 2010
telaah kurikulum
1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
a. Kelas VII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Memahami dasar dan tujuan akidah Islam
1.1 Menjelaskan dasar dan tujuan akidah Islam
1.2 Menunjukkan dalil tentang dasar dan tujuan akidah Islam
1.3 Menjelaskan hubungan Iman, Islam, dan Ihsan
1.4 Menunjukkan dalil tentang Iman, Islam, dan Ihsan
2. Meningkatkan keimanan kepada Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya 2.1 Mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah.
2.2 Menunjukkan bukti/dalil naqli dan aqli dari sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah.
2.3 Menguraikan sifat-sifat mustahil dan jaiz bagi Allah SWT.
2.4 Menunjukkan ciri-ciri/tanda perilaku orang beriman kepada sifat-sifat wajib, mustahil, dan Jaiz Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah
1.1
Menjelaskan pengertian dan pentingnya ikhlas, taat, khauf dan taubat
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari
b. Kelas VII, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Memahami al-asma' al-husna
1.1
Menguraikan 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.2 Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman terhadap 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.3 Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.4 Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari
2.2 Meningkatkan keimanan kepada malaikat-malaikat Allah SWT dan makhluk gaib selain malaikat 2.1
2.2
2.3
2.4 Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat Allah SWT dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan
Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan
Menjelaskan tugas, dan sifat-sifat malaikat Allah serta makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan
Menerapkan perilaku beriman kepada malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan dalam fenomena kehidupan
Akhlak
3.3. Menghindari akhlak tercela kepada Allah
3.1 Menjelaskan pengertian riya' dan nifaaq
3.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan riya' dan nifaaq
3.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan riya' dan nifaaq dalam fenomena kehidupan
3.4
Membiasakan diri untuk menghindari perbuatan riya' dan nifaaq dalam kehidupan sehari-hari
c. Kelas VIII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah SWT
1.1
Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah SWT
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya kitab-kitab Allah SWT
1.3 Menjelaskan macam-macam, fungsi, dan isi kitab Allah SWT
1.4 Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada kitab Allah SWT
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri
1.1
1.2
1.3
1.4
Menjelaskan pengertian dan pentingnya tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah
Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah
Menunjukkan nilai-nilai positif dari tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah dalam fenomena kehidupan
Menampilkan perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah
2. Menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri
2.1
Menjelaskan pengertian ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur
2.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur
2.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak, dan takabur
2.4 Membiasakan diri menghindari perilaku ananiah, putus asa, ghadab, tamak, dan takabur
d. Kelas VIII, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada Rasul Allah 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya beriman kepada Rasul Allah SWT
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Rasul Allah SWT
1.3 Menguraikan sifat-sifat Rasul Allah SWT
1. 4 Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada Rasul Allah dan mencintai Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan
2. Memahami mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) 2.1 Menjelaskan pengertian mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash)
2.2 Menunjukkan hikmah adanya mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) bagi Rasul Allah dan orang-orang pilihan Allah
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji
kepada sesama 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam kehidupan sehari-hari
2. Menghindari akhlak tercela kepada sesama
2.1 Menjelaskan pengertian hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah
2.2 Mengidentifikasi bentuk perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah
2.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah
2.4 Membiasakan diri menghindari perilaku hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah dalam kehidupan sehari-hari
Kelas IX, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir dan alam gaib yang masih berhubungan dengan hari akhir 1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada hari akhir
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan terjadinya hari akhir
1.3 Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan hari akhir
1.4 Menjelaskan macam-macam alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir
1.5 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap hari akhir
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari berilmu, kerja keras, kreatif dan produktif dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
f. Kelas IX, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada Qada dan Qadar 1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada Qada dan Qadar
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan adanya Qada dan Qadar
1.3 Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan Qadar
1.4 Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar Allah.
1.5 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar Allah
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji dalam pergaulan remaja 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
1.3 Menunjukkan nilai negatif akibat perilaku pergaulan remaja yang tidak sesuai dengan akhlak Islam dalam fenomena kehidupan
1.4 Menampilkan perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pemilihan Materi
Alasan kami memilih Kelas VII semester I tentang Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah dan Kelas IX semester II tentang Akhlak Terpuji Dalam Pergaulan Remaja adalah karena kami ingin menyelaraskan antara hubungan kita kepada Allah dan hubungan kita sesama makhluk/manusia lainnya. Di kelas VII kami ingin menjelaskan cara seseorang untuk bisa dekat kepada Allah dan ini memang harus dipupuk sejak dini untuk menumbuhkan rasa cinta dan gemar. Selanjutnya kami membahas hubungan dengan sesama teman lainnya agar hubungan sesama bisa berjalan dengan baik, langgeng dan berjalan sesuai dengan ajaran agama.
3. Materi Pembelajaran
Kelas VII semester I
Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah
A. Pengertian dan Pentingnya Ikhlas, Taat, Khauf, dan Taubat
1. Ikhlas
Ikhlas menurut ahli bahasa adalah membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syari’at adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.
Setelah diketahui pengertian ikhlas dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang dapat dikatakan ikhlas dalam beribadah apabila ia bertauhid dan meninggalkan segala jenis syirik.
Allah berfirman dalam al- Quran yang artinya:
“katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagin-NYA dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama- tama berserah diri (kepada Allah)).” (Qs. Al-an’am ayat, 6: 162-163)
Berikut adalah pertanda orang-orang ikhlas :
1. Bersemangat dalam beramal demi agama
2. Bersegera dalam mengerjakan amal kebaikan dan menuai pahala
3. Sabar, bertahan, dan tidak mengeluh dalam mengerjakan amal kebaikan
4. Antusias dalam menyembunyikan amal kebaikan
5. Mengerjakan amal kebaikan dengan tuntas dan rapih secara rahasia
6. Memperbanyak amal kebaikan yang dilakukan secara rahasia.
2. Taat
Taat berarti patuh dan tunduk kepada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Taat sesama manusia dilaksanakan selagi perintah dan larangannya bukan perkara maksiat. Sebagai mana firman Allah yang artinya:
“katakanlah wahai Muhammad, taatlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya. Oleh itu, jika kmu berpaling (durhaka) maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang- orang yang kafir”. (QS.Al-imran :32).
Dan firman Allah lainnya yang artinya:
“hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul (NYA), dan ulul ‘amri di antara kalian……(QS. An-nisa:59). Seringan dengan ayat tersebut Nabi bersbda: “atas seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam hal yang ia suka dan tidak suka kecuali diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat”. Riwayat Bukhori dan Muslim.
3. Khauf
Khauf adalah rasa sakit serta bergetarnya hati karena ada sesuatu yang dibenci dihadapannya. Perumpamaannya seperti jika seseorang yang akan dihukum pancung oleh raja, lalu raja itu telah memerintahkan algojonya dan algojo itu telah memegang pedangnya, maka ia telah merasa yakin akan kematiannya sebentar lagi, maka terasalah pedih hatinya saat itu dan bergetar karena rasa takut yang sangat, dan inilah yang disebut khauf.
Khauf ini dapat menjadi kaut dan lemah tergantung pada keyakinan seseorang kepada Allah. Selain khauf yang disebabkan dari rasa takut seperti diatas, ada pula khauf yang disebabkan oleh karena takut akan kebesaran dan keagungan Allah. Sebagai mana firman Allah yang artinya::
“sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNYA adalah ulama”. (QS. Faathir :28).
Tanda-tanda khauf
Adanya kesesuaian antara lahir dan batin. Artinya, perbuatan dan hati seseorang tidak saling bertentangan. Amal lahirnya tidak lebuh baik dari pada batinnya.
Jujur kepada Allah dalam ucapan, perbuatan dan sikap.
Menyesali kejelekan dan bergembira atas amal baik yang telah diperbuat.
Hari ini lebih baik dari kemarin.
Menumbuhkan khauf
Membaca dan menghayati ayat-ayat Al-quran yang berkenaan dengan hari kiamat dan azab Allah.
Mengingat kematian dengan berziarah kubur
Selalu merasa diawasi Allah.
Bergabung bersama orang-orang yang selalu mengingat Allah.
4. Taubat
a) Pengertian tobat
taubat artinya meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaan kepada Allah, karena Allah adalah Dzat yang berhak disembah dan ditaati. Hakekat dari penghambaan itu adalah menghinakan dan merendahkan diri di hadapan Allah atas dasar cinta dan pengagungan. Jika seorang hamba sadar akan kedudukan Alllah, maka hendaklah ia menghadap Allah, memohon ampuna-NYA. Taubat itu wajib hukumnya dan haram ditunda-tunda.
b) Hakikat taubat
hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada Allah.
c) Keutamaan taubat
Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah.
Taubat merupakan sebab keberuntungan.
Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas segala kesalahan-kesalahannya.
Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka.
Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat.
Berlama-lama dalam kemaksiatan menyebabkan hati menjadi keras dan menjauhkan seseorang dari Allah yang konsekuensinya akan melemahkan iman, karena iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Taubat yang diperintahkan Allah kepada manusia adalah taubat Nasuha, sebagaimana firman Allah yang artinya: “hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan masuklah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (At-tahrim:8)
Taubat memiliki lima syarat utama yaitu:
• Ikhlas semata-mata karena Allah
• Hendaknya ia menyesal dan bersedih atas kemaksiatannya yang telah lalu disertai cita-cita semestinya di tidak pernah jatuh dalam pelanggaran tersebut.
• Hendaknya ia berhenti dari kemaksiatan itu secara total.
• Hendaknya ia ber-azam untuk tidak kembali lagi kepada kemaksiatan itu pada hari-hari mendatang.
Maka dari itu hendaklah bersigrah dalam melakukan taubat untuk mengharap ampunan Allah sebelum kematian datang.
B. Nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf dan taubat dalam kehidupan sehari-hari.
1) Dampak positif ihklas dan taat dalam kehidupan sehari-hari
• Dampak positif ihklas dalam kehidupan sehari-hari
1) Melatih diri agar tidak mersa bangga jika perbuatan baiknya dipuji orang lain.
2) Dapat menjaga keistiqomahan dan kerutinan dalam berbuat baik, meskipun perbuatan amal baiknya itu tidak terlihat oleh manusia.
3) Merasa senang karena adanya harapan mencari ridha dari Allah semata.
4) Melatih diri agar tidak merasa bangga jika perbuatan baiknya dipuji oleh orang lain.
• Dampak positif taat dalam kehidupan sehari-hari
Memperoleh kepuasan batin karena telah melaksanakan salah satu kewajibannya kepada Allah.
Memperoleh kemenangan yang besar
Mendapatkan ridho Allah karena telah mampu mentaati perintah-NYA.
Melatih diri untuk disiplin dalam segala hal termasuk dalam urusan belajar dan mematuhi peraturan sekolah.
Selalu taat dengan peraturan sekolah baik dilihat oleh guru maupun tidak.
Segera mempersiapkan diri apabila tiba waktunya beribadah kepada Allah.
• Dampak positif khauf dalam kehidupan sehari-hari
Dapat meningkatkan kualitas perbuatan baiknya karena mengharap ridho dari Allah.
Tidak menganggap ringan terhadap semua perbuatan dosa karena akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Tidak bangga dengan kebaikan yang dilakukan dimasa lalu karena belum tentu kebaikannya tersebut diterima disisi Allah.
Bersikap hati-hati dalam berusaha sehingga rizki yang diperoleh halal dan diridhoi Allah.
Mengingat-ingat dosa dan kesalahan dimasa lalu karena belum tentu dimaafkan Allah.
Melupakan kebaikan dimasa lalu kerena belum tentu diterima Allah.
• Dampak positif taubat dalam kehidupan sehari-hari
• Memperoleh semangat dan gairah hidup baru karena Allah berkenan menerima taubatnya.
• Dapat memperoleh jalan yang benar setelah terjerumus dalam jalan kesesatan.
• Mendapatkan simpati dan dihargai oleh orang lain karena telah kembali kejalan yang benar.
• Dapat mengembalikan nama baik keluarga yang sempat tercoreng meskipun dalam waktu yang lama.
• Menjadikan rasa aman dan tentram bagi kehidupan masyarakat.
Kelas IX semester II
Akhlak Terpuji Dalam Pergaulan Remaja
A. Pengertian Akhlak Terpuji Dalam Pergaulan Remaja
Akhlak karimah adalah segala sikap, ucapan, dan perbuatan yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Kendatipun manusia menilai baik, namun apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka hal itu tidak dikatakan baik. Sebalikya, walaupun manusia menilai kurang baik, namun apabila ajaran Islam manila baik, maka hal itu tetaplah baik.
Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak menuju usia dewasa. Namun remaja belum dapat dimasukkan kedalam kelompok orang dewasa, karena mereka masih dalam tahap perkembangan, baik perkembangan fisik maupun perkembangan mental. Usia remaja bag laki-laki dimulai pada umur sekitar 9 -14 tahun, dan bagi perempuan 10-16 tahun.
Dalam pergaulannya sehari-hari antar sesama remaja, seorang remaja muslim harus menadikan nilai-nilai agama dan moral sebagai dasar dalam melakukan berbagai aktifitasnya. Mereka harus tetap berusaha berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut dan menjadikan akhlaqul karimah sebagai hiasan indah yang tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Mereka tidak boleh ikut-ikutan dalam pergaulan remaja yang tidak sesuai engan moral islamu dan budaya bangsa walupun model pergaulan tersebut katanya sedang ngetrend .
B. Contoh perilaku terpuji dan tercela dalam pergaulan remaja
Sikap dan perilaku yang harus dimiliki da diamalkan oleh seorang remaja seseuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, antara lain sebagai berikut :
1) Melakukan ibadah wajib seperti shalat, puasa dan lainnya
2) Mengucapkan salam kepada orang lain, terutama orang tua dan Guru
3) Menghormati orang yang labih tua dan menyayangi orang yang lebih muda
4) Berikap dantun baik dalam perkataan maupun perbuatan
5) Berperiaku juujur dan berkata benar
6) Berperasangka baik (husnudzan)
7) Memafkan kesalahan orang lain, dan banyak lainnya.
Selain sifat dan perilaku terpuji diatas, kami akan memaparkan beberapa sifat dan perilaku buruk yang harus dihindari dan yang sering dilakukan dalam pergaulan remaja, antara lain :
Berbohong, malas, suka merokok, suka minum-minuman keras, tidak dopan, mencuri, pergaulan bebas, saling menghina, tauran dan banyak lainnya.
C. Bentuk dan Dampak Positif Akhlakul Karimah dalam Pergaulan Remaja
1. Ta’aruf dan Tafahum : upaya untuk saling mengenal dan memahami keadaannya secara jelas, baik yang menyangkut kepribadian maupun keadaan keluarga. Dampaknya itu dapat memperluas hubungan persahabatan dan persatuan, dan juga menumbuhkan sikap saling tolong menolong.
2. Ta’awun dan Tasamuh : terwujudnya kerukunan hidup bermasyarakat dan tercukupi kebutuhan hidupnya masing-masing, dan juga terpenuhi haknya secara adil sesama remaja.
3. Jujur dan Adil : menumbuhkan kepuasan batin karena masing-masing pihak dapat memperoleh hak sebagaimana mestinya.
4. Amanah dan Menepati janji : dapat menumbuhkan rasa kepercayaan bagi pihak lain(yang memberi amanah) dan juga menumbuhkan sikap saling percaya sesama remaja sehingga hubungan persaudaraan terbina kukuh dan baik.
4. Metodologi Pengajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran Akidah Akhlak ini adalah :
1) Ceramah
2) Tanya Jawab
3) Diskusi / Presentasi
4) Praktik / Drama
5) Demonstrasi
5. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian.
6. Analisis
Setelah kami membaca dan memahami SK KD ini, kami setuju dan patuh dengan susunan SK KD ini, karena menurut kami susunannya sudah bagus dan lengkap, dimulai dari iman kepada Allah sampai iman kepada taqdir, dan juga berbicara tentang akhlak baik yang dibarengi dengan akhlak tercelanya. Di kompetensi dasarnya juga tersususn dengan rapih, dari mulai penjelasan pengertian, pengidentifikasian, menjelaskan ciri / bukti, dan juga ciri pelakunya dan bagaimana cara mencontohya dengan menampilkan dan mencoba untuk membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari . Jadi menurut kami SK KD ini Sudah bagus, baik dan tidak butuh perubahan lagi.
Daftar Pustaka
Ibrahim , T. dan H. Darso. Membangun Aqidah dan Akhlak untuk madarasah Tsanawiyah. KTSP. Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009.
Masan A.F. Drs. H. M.Pd. Pendidikan Agama Islam Akidah akhlak madrasah Tsanawiyah kurikulum 2008. Semarang : Toha Putra. 2009.
Muhammad bin Shalih Al-Munajjid. Silsilah Amalan Hati. Bandung : Irsyad Baitus Salam. 2006.
Rahman, S.Pi. Aqidah Akhlak (LKS). Bekasi : Hidayah.
a. Kelas VII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Memahami dasar dan tujuan akidah Islam
1.1 Menjelaskan dasar dan tujuan akidah Islam
1.2 Menunjukkan dalil tentang dasar dan tujuan akidah Islam
1.3 Menjelaskan hubungan Iman, Islam, dan Ihsan
1.4 Menunjukkan dalil tentang Iman, Islam, dan Ihsan
2. Meningkatkan keimanan kepada Allah melalui pemahaman sifat-sifat-Nya 2.1 Mengidentifikasi sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah.
2.2 Menunjukkan bukti/dalil naqli dan aqli dari sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan ma’nawiyah.
2.3 Menguraikan sifat-sifat mustahil dan jaiz bagi Allah SWT.
2.4 Menunjukkan ciri-ciri/tanda perilaku orang beriman kepada sifat-sifat wajib, mustahil, dan Jaiz Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah
1.1
Menjelaskan pengertian dan pentingnya ikhlas, taat, khauf dan taubat
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku ikhlas, taat, khauf, dan taubat dalam kehidupan sehari-hari
b. Kelas VII, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Memahami al-asma' al-husna
1.1
Menguraikan 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.2 Menunjukkan bukti kebenaran tanda-tanda kebesaran Allah melalui pemahaman terhadap 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.3 Menunjukkan perilaku orang yang mengamalkan 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum)
1.4 Meneladani sifat-sifat Allah yang terkandung dalam 10 al-asma' al-husna (al-‘Aziiz, al-Ghaffaar, al-Baasith, an-Naafi’, ar-Ra’uuf, al-Barr, al-Ghaffaar, al-Fattaah, al-‘Adl, al-Qayyuum) dalam kehidupan sehari-hari
2.2 Meningkatkan keimanan kepada malaikat-malaikat Allah SWT dan makhluk gaib selain malaikat 2.1
2.2
2.3
2.4 Menjelaskan pengertian iman kepada malaikat Allah SWT dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan
Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan
Menjelaskan tugas, dan sifat-sifat malaikat Allah serta makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan
Menerapkan perilaku beriman kepada malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan dalam fenomena kehidupan
Akhlak
3.3. Menghindari akhlak tercela kepada Allah
3.1 Menjelaskan pengertian riya' dan nifaaq
3.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan riya' dan nifaaq
3.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan riya' dan nifaaq dalam fenomena kehidupan
3.4
Membiasakan diri untuk menghindari perbuatan riya' dan nifaaq dalam kehidupan sehari-hari
c. Kelas VIII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah SWT
1.1
Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah SWT
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya kitab-kitab Allah SWT
1.3 Menjelaskan macam-macam, fungsi, dan isi kitab Allah SWT
1.4 Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada kitab Allah SWT
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri
1.1
1.2
1.3
1.4
Menjelaskan pengertian dan pentingnya tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah
Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah
Menunjukkan nilai-nilai positif dari tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah dalam fenomena kehidupan
Menampilkan perilaku tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukuur dan qana’ah
2. Menghindari akhlak tercela kepada diri sendiri
2.1
Menjelaskan pengertian ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur
2.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak dan takabur
2.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan ananiah, putus asa, ghadab, tamak, dan takabur
2.4 Membiasakan diri menghindari perilaku ananiah, putus asa, ghadab, tamak, dan takabur
d. Kelas VIII, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada Rasul Allah 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya beriman kepada Rasul Allah SWT
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran adanya Rasul Allah SWT
1.3 Menguraikan sifat-sifat Rasul Allah SWT
1. 4 Menampilkan perilaku yang mencerminkan beriman kepada Rasul Allah dan mencintai Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan
2. Memahami mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) 2.1 Menjelaskan pengertian mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash)
2.2 Menunjukkan hikmah adanya mukjizat dan kejadian luar biasa lainnya (karamah, ma’unah, dan irhash) bagi Rasul Allah dan orang-orang pilihan Allah
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji
kepada sesama 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku husnuzh-zhan, tawaadhu’, tasaamuh, dan ta’aawun dalam kehidupan sehari-hari
2. Menghindari akhlak tercela kepada sesama
2.1 Menjelaskan pengertian hasad, dendam, ghibah, fitnah, dan namiimah
2.2 Mengidentifikasi bentuk perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah
2.3 Menunjukkan nilai-nilai negatif akibat perbuatan hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah
2.4 Membiasakan diri menghindari perilaku hasad, dendam, ghibah, fitnah dan namiimah dalam kehidupan sehari-hari
Kelas IX, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada hari akhir dan alam gaib yang masih berhubungan dengan hari akhir 1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada hari akhir
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan terjadinya hari akhir
1.3 Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan hari akhir
1.4 Menjelaskan macam-macam alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir
1.5 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan terhadap hari akhir
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji kepada diri sendiri 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif
1.3 Menunjukkan nilai-nilai positif dari berilmu, kerja keras, kreatif dan produktif dalam fenomena kehidupan
1.4 Membiasakan perilaku berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
f. Kelas IX, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
Akidah
1. Meningkatkan keimanan kepada Qada dan Qadar 1.1 Menjelaskan pengertian beriman kepada Qada dan Qadar
1.2 Menunjukkan bukti/dalil kebenaran akan adanya Qada dan Qadar
1.3 Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan adanya Qada dan Qadar
1.4 Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qada dan Qadar Allah.
1.5 Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Qada dan Qadar Allah
Akhlak
1. Menerapkan akhlak terpuji dalam pergaulan remaja 1.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
1.2 Mengidentifikasi bentuk dan contoh-contoh perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja
1.3 Menunjukkan nilai negatif akibat perilaku pergaulan remaja yang tidak sesuai dengan akhlak Islam dalam fenomena kehidupan
1.4 Menampilkan perilaku akhlak terpuji dalam pergaulan remaja dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pemilihan Materi
Alasan kami memilih Kelas VII semester I tentang Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah dan Kelas IX semester II tentang Akhlak Terpuji Dalam Pergaulan Remaja adalah karena kami ingin menyelaraskan antara hubungan kita kepada Allah dan hubungan kita sesama makhluk/manusia lainnya. Di kelas VII kami ingin menjelaskan cara seseorang untuk bisa dekat kepada Allah dan ini memang harus dipupuk sejak dini untuk menumbuhkan rasa cinta dan gemar. Selanjutnya kami membahas hubungan dengan sesama teman lainnya agar hubungan sesama bisa berjalan dengan baik, langgeng dan berjalan sesuai dengan ajaran agama.
3. Materi Pembelajaran
Kelas VII semester I
Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah
A. Pengertian dan Pentingnya Ikhlas, Taat, Khauf, dan Taubat
1. Ikhlas
Ikhlas menurut ahli bahasa adalah membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syari’at adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.
Setelah diketahui pengertian ikhlas dapat diambil kesimpulan bahwa seseorang dapat dikatakan ikhlas dalam beribadah apabila ia bertauhid dan meninggalkan segala jenis syirik.
Allah berfirman dalam al- Quran yang artinya:
“katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagin-NYA dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama- tama berserah diri (kepada Allah)).” (Qs. Al-an’am ayat, 6: 162-163)
Berikut adalah pertanda orang-orang ikhlas :
1. Bersemangat dalam beramal demi agama
2. Bersegera dalam mengerjakan amal kebaikan dan menuai pahala
3. Sabar, bertahan, dan tidak mengeluh dalam mengerjakan amal kebaikan
4. Antusias dalam menyembunyikan amal kebaikan
5. Mengerjakan amal kebaikan dengan tuntas dan rapih secara rahasia
6. Memperbanyak amal kebaikan yang dilakukan secara rahasia.
2. Taat
Taat berarti patuh dan tunduk kepada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Taat sesama manusia dilaksanakan selagi perintah dan larangannya bukan perkara maksiat. Sebagai mana firman Allah yang artinya:
“katakanlah wahai Muhammad, taatlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya. Oleh itu, jika kmu berpaling (durhaka) maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang- orang yang kafir”. (QS.Al-imran :32).
Dan firman Allah lainnya yang artinya:
“hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul (NYA), dan ulul ‘amri di antara kalian……(QS. An-nisa:59). Seringan dengan ayat tersebut Nabi bersbda: “atas seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam hal yang ia suka dan tidak suka kecuali diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat”. Riwayat Bukhori dan Muslim.
3. Khauf
Khauf adalah rasa sakit serta bergetarnya hati karena ada sesuatu yang dibenci dihadapannya. Perumpamaannya seperti jika seseorang yang akan dihukum pancung oleh raja, lalu raja itu telah memerintahkan algojonya dan algojo itu telah memegang pedangnya, maka ia telah merasa yakin akan kematiannya sebentar lagi, maka terasalah pedih hatinya saat itu dan bergetar karena rasa takut yang sangat, dan inilah yang disebut khauf.
Khauf ini dapat menjadi kaut dan lemah tergantung pada keyakinan seseorang kepada Allah. Selain khauf yang disebabkan dari rasa takut seperti diatas, ada pula khauf yang disebabkan oleh karena takut akan kebesaran dan keagungan Allah. Sebagai mana firman Allah yang artinya::
“sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNYA adalah ulama”. (QS. Faathir :28).
Tanda-tanda khauf
Adanya kesesuaian antara lahir dan batin. Artinya, perbuatan dan hati seseorang tidak saling bertentangan. Amal lahirnya tidak lebuh baik dari pada batinnya.
Jujur kepada Allah dalam ucapan, perbuatan dan sikap.
Menyesali kejelekan dan bergembira atas amal baik yang telah diperbuat.
Hari ini lebih baik dari kemarin.
Menumbuhkan khauf
Membaca dan menghayati ayat-ayat Al-quran yang berkenaan dengan hari kiamat dan azab Allah.
Mengingat kematian dengan berziarah kubur
Selalu merasa diawasi Allah.
Bergabung bersama orang-orang yang selalu mengingat Allah.
4. Taubat
a) Pengertian tobat
taubat artinya meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaan kepada Allah, karena Allah adalah Dzat yang berhak disembah dan ditaati. Hakekat dari penghambaan itu adalah menghinakan dan merendahkan diri di hadapan Allah atas dasar cinta dan pengagungan. Jika seorang hamba sadar akan kedudukan Alllah, maka hendaklah ia menghadap Allah, memohon ampuna-NYA. Taubat itu wajib hukumnya dan haram ditunda-tunda.
b) Hakikat taubat
hakikat taubat adalah kembali tunduk kepada Allah dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepada Allah.
c) Keutamaan taubat
Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah.
Taubat merupakan sebab keberuntungan.
Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas segala kesalahan-kesalahannya.
Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka.
Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat.
Berlama-lama dalam kemaksiatan menyebabkan hati menjadi keras dan menjauhkan seseorang dari Allah yang konsekuensinya akan melemahkan iman, karena iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Taubat yang diperintahkan Allah kepada manusia adalah taubat Nasuha, sebagaimana firman Allah yang artinya: “hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan masuklah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (At-tahrim:8)
Taubat memiliki lima syarat utama yaitu:
• Ikhlas semata-mata karena Allah
• Hendaknya ia menyesal dan bersedih atas kemaksiatannya yang telah lalu disertai cita-cita semestinya di tidak pernah jatuh dalam pelanggaran tersebut.
• Hendaknya ia berhenti dari kemaksiatan itu secara total.
• Hendaknya ia ber-azam untuk tidak kembali lagi kepada kemaksiatan itu pada hari-hari mendatang.
Maka dari itu hendaklah bersigrah dalam melakukan taubat untuk mengharap ampunan Allah sebelum kematian datang.
B. Nilai-nilai positif dari perilaku ikhlas, taat, khauf dan taubat dalam kehidupan sehari-hari.
1) Dampak positif ihklas dan taat dalam kehidupan sehari-hari
• Dampak positif ihklas dalam kehidupan sehari-hari
1) Melatih diri agar tidak mersa bangga jika perbuatan baiknya dipuji orang lain.
2) Dapat menjaga keistiqomahan dan kerutinan dalam berbuat baik, meskipun perbuatan amal baiknya itu tidak terlihat oleh manusia.
3) Merasa senang karena adanya harapan mencari ridha dari Allah semata.
4) Melatih diri agar tidak merasa bangga jika perbuatan baiknya dipuji oleh orang lain.
• Dampak positif taat dalam kehidupan sehari-hari
Memperoleh kepuasan batin karena telah melaksanakan salah satu kewajibannya kepada Allah.
Memperoleh kemenangan yang besar
Mendapatkan ridho Allah karena telah mampu mentaati perintah-NYA.
Melatih diri untuk disiplin dalam segala hal termasuk dalam urusan belajar dan mematuhi peraturan sekolah.
Selalu taat dengan peraturan sekolah baik dilihat oleh guru maupun tidak.
Segera mempersiapkan diri apabila tiba waktunya beribadah kepada Allah.
• Dampak positif khauf dalam kehidupan sehari-hari
Dapat meningkatkan kualitas perbuatan baiknya karena mengharap ridho dari Allah.
Tidak menganggap ringan terhadap semua perbuatan dosa karena akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Tidak bangga dengan kebaikan yang dilakukan dimasa lalu karena belum tentu kebaikannya tersebut diterima disisi Allah.
Bersikap hati-hati dalam berusaha sehingga rizki yang diperoleh halal dan diridhoi Allah.
Mengingat-ingat dosa dan kesalahan dimasa lalu karena belum tentu dimaafkan Allah.
Melupakan kebaikan dimasa lalu kerena belum tentu diterima Allah.
• Dampak positif taubat dalam kehidupan sehari-hari
• Memperoleh semangat dan gairah hidup baru karena Allah berkenan menerima taubatnya.
• Dapat memperoleh jalan yang benar setelah terjerumus dalam jalan kesesatan.
• Mendapatkan simpati dan dihargai oleh orang lain karena telah kembali kejalan yang benar.
• Dapat mengembalikan nama baik keluarga yang sempat tercoreng meskipun dalam waktu yang lama.
• Menjadikan rasa aman dan tentram bagi kehidupan masyarakat.
Kelas IX semester II
Akhlak Terpuji Dalam Pergaulan Remaja
A. Pengertian Akhlak Terpuji Dalam Pergaulan Remaja
Akhlak karimah adalah segala sikap, ucapan, dan perbuatan yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Kendatipun manusia menilai baik, namun apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka hal itu tidak dikatakan baik. Sebalikya, walaupun manusia menilai kurang baik, namun apabila ajaran Islam manila baik, maka hal itu tetaplah baik.
Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak menuju usia dewasa. Namun remaja belum dapat dimasukkan kedalam kelompok orang dewasa, karena mereka masih dalam tahap perkembangan, baik perkembangan fisik maupun perkembangan mental. Usia remaja bag laki-laki dimulai pada umur sekitar 9 -14 tahun, dan bagi perempuan 10-16 tahun.
Dalam pergaulannya sehari-hari antar sesama remaja, seorang remaja muslim harus menadikan nilai-nilai agama dan moral sebagai dasar dalam melakukan berbagai aktifitasnya. Mereka harus tetap berusaha berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut dan menjadikan akhlaqul karimah sebagai hiasan indah yang tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Mereka tidak boleh ikut-ikutan dalam pergaulan remaja yang tidak sesuai engan moral islamu dan budaya bangsa walupun model pergaulan tersebut katanya sedang ngetrend .
B. Contoh perilaku terpuji dan tercela dalam pergaulan remaja
Sikap dan perilaku yang harus dimiliki da diamalkan oleh seorang remaja seseuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, antara lain sebagai berikut :
1) Melakukan ibadah wajib seperti shalat, puasa dan lainnya
2) Mengucapkan salam kepada orang lain, terutama orang tua dan Guru
3) Menghormati orang yang labih tua dan menyayangi orang yang lebih muda
4) Berikap dantun baik dalam perkataan maupun perbuatan
5) Berperiaku juujur dan berkata benar
6) Berperasangka baik (husnudzan)
7) Memafkan kesalahan orang lain, dan banyak lainnya.
Selain sifat dan perilaku terpuji diatas, kami akan memaparkan beberapa sifat dan perilaku buruk yang harus dihindari dan yang sering dilakukan dalam pergaulan remaja, antara lain :
Berbohong, malas, suka merokok, suka minum-minuman keras, tidak dopan, mencuri, pergaulan bebas, saling menghina, tauran dan banyak lainnya.
C. Bentuk dan Dampak Positif Akhlakul Karimah dalam Pergaulan Remaja
1. Ta’aruf dan Tafahum : upaya untuk saling mengenal dan memahami keadaannya secara jelas, baik yang menyangkut kepribadian maupun keadaan keluarga. Dampaknya itu dapat memperluas hubungan persahabatan dan persatuan, dan juga menumbuhkan sikap saling tolong menolong.
2. Ta’awun dan Tasamuh : terwujudnya kerukunan hidup bermasyarakat dan tercukupi kebutuhan hidupnya masing-masing, dan juga terpenuhi haknya secara adil sesama remaja.
3. Jujur dan Adil : menumbuhkan kepuasan batin karena masing-masing pihak dapat memperoleh hak sebagaimana mestinya.
4. Amanah dan Menepati janji : dapat menumbuhkan rasa kepercayaan bagi pihak lain(yang memberi amanah) dan juga menumbuhkan sikap saling percaya sesama remaja sehingga hubungan persaudaraan terbina kukuh dan baik.
4. Metodologi Pengajaran
Metode yang digunakan dalam pembelajaran Akidah Akhlak ini adalah :
1) Ceramah
2) Tanya Jawab
3) Diskusi / Presentasi
4) Praktik / Drama
5) Demonstrasi
5. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan standar proses dan standar penilaian.
6. Analisis
Setelah kami membaca dan memahami SK KD ini, kami setuju dan patuh dengan susunan SK KD ini, karena menurut kami susunannya sudah bagus dan lengkap, dimulai dari iman kepada Allah sampai iman kepada taqdir, dan juga berbicara tentang akhlak baik yang dibarengi dengan akhlak tercelanya. Di kompetensi dasarnya juga tersususn dengan rapih, dari mulai penjelasan pengertian, pengidentifikasian, menjelaskan ciri / bukti, dan juga ciri pelakunya dan bagaimana cara mencontohya dengan menampilkan dan mencoba untuk membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari . Jadi menurut kami SK KD ini Sudah bagus, baik dan tidak butuh perubahan lagi.
Daftar Pustaka
Ibrahim , T. dan H. Darso. Membangun Aqidah dan Akhlak untuk madarasah Tsanawiyah. KTSP. Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009.
Masan A.F. Drs. H. M.Pd. Pendidikan Agama Islam Akidah akhlak madrasah Tsanawiyah kurikulum 2008. Semarang : Toha Putra. 2009.
Muhammad bin Shalih Al-Munajjid. Silsilah Amalan Hati. Bandung : Irsyad Baitus Salam. 2006.
Rahman, S.Pi. Aqidah Akhlak (LKS). Bekasi : Hidayah.
Kamis, 14 Oktober 2010
perncannan dan strategi pembelajaran
Bab I
Pendahuluan
Mengajar merupakan suatu kegiatan yang sangat memerlukan keterampilan propesional dan banyak sekali dari apa yang harus dikerjakan oleh guru dan instruktur baik di dalam maupun di luar kelas melibatkan pengambilan berbagai keputusan.
Dari masa lampau, banyak dari keputusan-keputusan ini diambil hanya berdasarkan pemikiran ala kadarnya saja dari waktu ke waktu. Pendekatan seperti ini untuk masa sekarang ini tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Pentingnya pengambilan keputusan yang memadai oleh guru untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Adalah merupakan karakteristik yang penting dalam proses belajar mengajar, pada hakekatnya keputusan- keputusan ini sering tidak jelas menampak untuk bertumbuh lebih kompleks, apalagi faktor-faktor yang terlibat sering sulit dapat diterapkan semuanya ini menuntut adanya peningkatan propesionalisme dari pihak guru.
Tugas dan tanggung jawab utama seorang guru atau pengajar adalah mengelola pengajaran serta lebih efektif, dinamis, efisien dan positif, yang ditandai dengan adanya kesadaran dan keterlibatan aktif diantara 2 subjek pengajaran. Guru sebagai penginisiatif awal dan pengarah serta pembimbing, sedang peserta didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pengajaran.
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode mengajar yang tepat sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalamproses belajar mengajar.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Sebelum mengetahui makna dari perencanaan pembelajaran, tentu kita harus mengetahui dulu apa itu perencanaan. Ada beberapa pendapat menurut para ahli, diantaranya:
1. Perencanaan adalah sebuah proses pemecahan masalah, yang bertujuan adanya solusi dalam suatu pilihan. -Herbert Simon- (1996)
2. Perencanan bukan hanya membantu untuk mencipkan solusi tapi juga membantu untuk lebih memahami permasalahan itu sendiri. -Gordon Rowland- (1993)
3. Perencanaan membantu kita melihat masalah dalam pemikiran yang baru, pandangan yang berbeda dari yang lain, dan lebih baik dalam memahami masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana. -See Sabon- (1987)
4. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. -Oemar Hamalik.
Jadi, kesimpulan yang dapat kita ambil dari pendapat para ahli diatas adalah bahwa perencanaan merupakan suatu proses pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Berikut definisi tentang perencanaan pembelajaran:
1. Suatu sistem yang berisi prosedur untuk mengembangkan pendidikan dengan cara yang konsisten dan reliable. -Branch- (2002)
2. Ilmu yang merancang detail secara spesifik untuk pengembangan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pengetahuan diantara satuan besar dan kecil persoalan pokok. -Ritchy-
3. Proses sistematis dalam mengartikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran. -Smith & Ragan-(1993)
4. Proses berfikir sistematis untuk membantu pelajar memahami (belajar). -Zook- (2000)
Definisi lain mengenai Perencanaan Pembelajaran adalah proses membantu guru secara sistematik dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan. Perencanaan pembelajaran merupakan sebuah rancangan atau persiapan yang dibuat oleh guru tentang pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
B. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi Pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas,dick dan carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Berkenaan dengan model pembelajaran (strategi pembelajaran), Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
C. Tujuan Perencanaan Pembelajaran
Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa :
(1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
(2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik.
Yang menarik untuk digaris bawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Dick dan Carey (Hamzah Uno, 2009) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran terdiri atas: (1) tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik; (2) menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat yang hadir pada waktu anak didik berbuat; dan (3) menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.
Pada bagian lain, Hamzah B. Uno (2009) mengemukakan tentang teknis penyusunan tujuan pembelajaran dalam format ABCD. A=Audience (petatar, siswa, mahasiswa, murid dan sasaran didik lainnya), B=Behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar), C=Condition (persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai, dan D=Degree (tingkat penampilan yang dapat diterima).
D. Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Berikut fungsi perencanaan pembelajaran :
1. Memberi guru pemahaman yang jelas tentang tujuan pendidikan
2. Membantu guru memperjelas pemikirannya terhadap tujuan pendidikan
3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai dan prosedur yang digunakan
4. Membantu guru dalam mengenal kebutuhan murid
5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error dalam mengajar
6. Murid akan menghormati guru yang telah mempersiapkan diri
7. Memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan profesionalnya
8. Membantu guru memiliki perasaan percaya diri
9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan memberikan bahan up to date
E. Prinsip Perencanaan Pembelajaran
Berikut prinsip perencanaan pembelajaran :
1. Pembelajaran yang disiapkan secara cermat dan sistematis akan dapat membantu perkembangan siswa secara maksimal.
2. Perencanaan yang cermat dan sistematis dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti teori belajar dan karakteristik siswa.
3. Hendaknya diarahkan untuk membantu proses belajar siswa secara individual.
4. Hendaknya dikembangkan dengan pendekatan sistem. Menggunakan langkah-langkah dalam proses pengembangan
5. Harus mempertimbangkan pemanfaatan berbagai sumber dan alat bantu belajar.
Bab III
Kesimpulan
Perencanaan merupakan suatu proses pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Perencanaan Pembelajaran adalah proses membantu guru secara sistematik dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan. Perencanaan pembelajaran merupakan sebuah rancangan atau persiapan yang dibuat oleh guru tentang pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
J. R David, Wina Senjaya menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Kemp dan David E. Kapel menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Sementara itu, Oemar Hamalik menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Fungsi perencanaan pembelajaran, diantaranya: Memberi guru pemahaman yang jelas tentang tujuan pendidikan, Membantu guru memperjelas pemikirannya terhadap tujuan pendidikan, Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai dan prosedur yang digunakan, Membantu guru dalam mengenal kebutuhan murid.
Prinsip perencanaan pembelajaran diantaranya : Pembelajaran yang disiapkan secara cermat dan sistematis akan dapat membantu perkembangan siswa secara maksimal, Perencanaan yang cermat dan sistematis dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti teori belajar dan karakteristik siswa, Hendaknya diarahkan untuk membantu proses belajar siswa secara individual.
Daftar Pustaka
Hamalik, Umar . 2003 Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. Dr. MPd. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Supriawan, Dedi dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung
Uno, Hamzah B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Http/www. Goegle. Perencanaan pembelajaran (file. Upi. Eduai. Php.)
Http/www. Zaifbio.wordpress.com
Pendahuluan
Mengajar merupakan suatu kegiatan yang sangat memerlukan keterampilan propesional dan banyak sekali dari apa yang harus dikerjakan oleh guru dan instruktur baik di dalam maupun di luar kelas melibatkan pengambilan berbagai keputusan.
Dari masa lampau, banyak dari keputusan-keputusan ini diambil hanya berdasarkan pemikiran ala kadarnya saja dari waktu ke waktu. Pendekatan seperti ini untuk masa sekarang ini tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Pentingnya pengambilan keputusan yang memadai oleh guru untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Adalah merupakan karakteristik yang penting dalam proses belajar mengajar, pada hakekatnya keputusan- keputusan ini sering tidak jelas menampak untuk bertumbuh lebih kompleks, apalagi faktor-faktor yang terlibat sering sulit dapat diterapkan semuanya ini menuntut adanya peningkatan propesionalisme dari pihak guru.
Tugas dan tanggung jawab utama seorang guru atau pengajar adalah mengelola pengajaran serta lebih efektif, dinamis, efisien dan positif, yang ditandai dengan adanya kesadaran dan keterlibatan aktif diantara 2 subjek pengajaran. Guru sebagai penginisiatif awal dan pengarah serta pembimbing, sedang peserta didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pengajaran.
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode mengajar yang tepat sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalamproses belajar mengajar.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Sebelum mengetahui makna dari perencanaan pembelajaran, tentu kita harus mengetahui dulu apa itu perencanaan. Ada beberapa pendapat menurut para ahli, diantaranya:
1. Perencanaan adalah sebuah proses pemecahan masalah, yang bertujuan adanya solusi dalam suatu pilihan. -Herbert Simon- (1996)
2. Perencanan bukan hanya membantu untuk mencipkan solusi tapi juga membantu untuk lebih memahami permasalahan itu sendiri. -Gordon Rowland- (1993)
3. Perencanaan membantu kita melihat masalah dalam pemikiran yang baru, pandangan yang berbeda dari yang lain, dan lebih baik dalam memahami masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana. -See Sabon- (1987)
4. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. -Oemar Hamalik.
Jadi, kesimpulan yang dapat kita ambil dari pendapat para ahli diatas adalah bahwa perencanaan merupakan suatu proses pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Berikut definisi tentang perencanaan pembelajaran:
1. Suatu sistem yang berisi prosedur untuk mengembangkan pendidikan dengan cara yang konsisten dan reliable. -Branch- (2002)
2. Ilmu yang merancang detail secara spesifik untuk pengembangan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pengetahuan diantara satuan besar dan kecil persoalan pokok. -Ritchy-
3. Proses sistematis dalam mengartikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran. -Smith & Ragan-(1993)
4. Proses berfikir sistematis untuk membantu pelajar memahami (belajar). -Zook- (2000)
Definisi lain mengenai Perencanaan Pembelajaran adalah proses membantu guru secara sistematik dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan. Perencanaan pembelajaran merupakan sebuah rancangan atau persiapan yang dibuat oleh guru tentang pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
B. Pengertian Strategi Pembelajaran
Strategi Pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapat diatas,dick dan carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Berkenaan dengan model pembelajaran (strategi pembelajaran), Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
C. Tujuan Perencanaan Pembelajaran
Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa :
(1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
(2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik.
Yang menarik untuk digaris bawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Dick dan Carey (Hamzah Uno, 2009) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran terdiri atas: (1) tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik; (2) menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat yang hadir pada waktu anak didik berbuat; dan (3) menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.
Pada bagian lain, Hamzah B. Uno (2009) mengemukakan tentang teknis penyusunan tujuan pembelajaran dalam format ABCD. A=Audience (petatar, siswa, mahasiswa, murid dan sasaran didik lainnya), B=Behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar), C=Condition (persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai, dan D=Degree (tingkat penampilan yang dapat diterima).
D. Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Berikut fungsi perencanaan pembelajaran :
1. Memberi guru pemahaman yang jelas tentang tujuan pendidikan
2. Membantu guru memperjelas pemikirannya terhadap tujuan pendidikan
3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai dan prosedur yang digunakan
4. Membantu guru dalam mengenal kebutuhan murid
5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error dalam mengajar
6. Murid akan menghormati guru yang telah mempersiapkan diri
7. Memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan profesionalnya
8. Membantu guru memiliki perasaan percaya diri
9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan memberikan bahan up to date
E. Prinsip Perencanaan Pembelajaran
Berikut prinsip perencanaan pembelajaran :
1. Pembelajaran yang disiapkan secara cermat dan sistematis akan dapat membantu perkembangan siswa secara maksimal.
2. Perencanaan yang cermat dan sistematis dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti teori belajar dan karakteristik siswa.
3. Hendaknya diarahkan untuk membantu proses belajar siswa secara individual.
4. Hendaknya dikembangkan dengan pendekatan sistem. Menggunakan langkah-langkah dalam proses pengembangan
5. Harus mempertimbangkan pemanfaatan berbagai sumber dan alat bantu belajar.
Bab III
Kesimpulan
Perencanaan merupakan suatu proses pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Perencanaan Pembelajaran adalah proses membantu guru secara sistematik dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan. Perencanaan pembelajaran merupakan sebuah rancangan atau persiapan yang dibuat oleh guru tentang pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
J. R David, Wina Senjaya menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Kemp dan David E. Kapel menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Sementara itu, Oemar Hamalik menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Fungsi perencanaan pembelajaran, diantaranya: Memberi guru pemahaman yang jelas tentang tujuan pendidikan, Membantu guru memperjelas pemikirannya terhadap tujuan pendidikan, Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai dan prosedur yang digunakan, Membantu guru dalam mengenal kebutuhan murid.
Prinsip perencanaan pembelajaran diantaranya : Pembelajaran yang disiapkan secara cermat dan sistematis akan dapat membantu perkembangan siswa secara maksimal, Perencanaan yang cermat dan sistematis dikembangkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti teori belajar dan karakteristik siswa, Hendaknya diarahkan untuk membantu proses belajar siswa secara individual.
Daftar Pustaka
Hamalik, Umar . 2003 Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. Dr. MPd. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Supriawan, Dedi dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung
Uno, Hamzah B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Http/www. Goegle. Perencanaan pembelajaran (file. Upi. Eduai. Php.)
Http/www. Zaifbio.wordpress.com
filsafat ilmu
Bab I
PENDAHULUAN
Pada dasarnya , setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan,seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran.
Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radil juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak.
Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris,yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan adapun, objek formal,dan rasional adalah sudut pandang yang menyeluruh,radikal,dan rasional tentang segala yang ada.setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakain bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang peraktis.inilah peruses terbentuknya ilmu secara bersenambungan .Will Durant mengibaratkan filsafat bagaikan pasukan mariner yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Karena itu, filsafat oleh para filosofi disebut sebagai induk ilmu. Sebab,dari filsafat lah, ilmu-ilmu moderen dan konten pontemporer berkembang, sehingga manusia dapat menikmati ilmu dan sekaligus buahnya,yaitu teknologi.
Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan,tetapi sudah menjadi sektoral. Contohnya, filsafat agama, filsafat hokum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu.
Tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagi kepentingan. Filsafat sepatutnya mengukuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radiakal, menyeluruh dan rasional dan begitu juga sifat pendekatan spekulatif dalm filsafat sepatutnya merupakan bagian dari ilmu
Bab II
PEMBAHASAN
FILSAFAT ILMU
A. Pengertian
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Dilihat dari arti praktisnya, filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. Berfilsafat adalah berfikir.
Harun nasution bependapat bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa arab karena orang arab lebih dulu dating dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia dari pada orang dan bahasa inggris.oleh karena itu dia konsisten menggunakan kata falsafat.
Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster Professional (2001), menyatakan karakteristik filsafat sebagai berikut.
1. Filsafat adalah berpikir secara kritis.
2. Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.
3. Filsafat mengahasilkan sesuatu yang runtut.
4. Filsafat adalah berpikir secara rasional.
5. Filsafat bersifat komprehensif.
Berikut beberapa pengertian filsafat dari berbagai ahli:
Aristoteles, filsafat adalah menyelidiki sebab dan hakikat segala benda yang ada.
Al-kindi, Filsafat adalah pengetahuan manusia mengenai hakikat segala yang ada.
Peodjawiyatna, filsafat adalah pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam - dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan fikiran belaka.
B. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia ( The Liang Gie, 2004:61 ).
Conny Semiawan at al (1998 : 45) menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.
C. Sejarah Timbulnya Filsafat
Sejarah pemikiran filsafat sudah dimulai di Yunani pada kira-kira abad ke 6 SM oleh para filsuf alam, yaitu Thales, Anaximander, Anaximenes, dan lain-lain, para filsuf yang muncul pada priode ini dikenal sebagai filusuf alam karena fokus pemikiran meraka tentang alam . Pada priode selanjutnya , disebut priode kedua /tahab kedua, muncullah filsuf-filsuf manusia, seperti Socrates, Plato, Aristoteles. Pada priode ini minat-minat para filsuf bergeser obyeknya, yaitu dari alam ke manusia dan kehidupan masyarakat.. Aristoteles adalah orang yang mula-mula memperkenalkan dasar-dasar emperisme. Priode ketiga yaitu priode Skolastik. Pada priode ini agama Kristen menjadi tempat berpijak.Agama dikembangkan menurut berbagai argumentasi dimana filsafat menjadi teologi (argumentasi menopang keimanana). Priode keempat adalah priode filsaf modern dengan tokoh utamanya adalah Rene Descartes. Kemudian lahir priode kelima yaitu priode ilmu-ilmu alam dengan aliran positivisme dan emperisme. Pada priode ini ilmu alam mejadi model. Selanjutnya sampai pada priode keenam yang dinamakan priode Simbol. Priode ini berbagai ilmu dipandang dari sudut sistem simbol. Bahasapun desebut sebagai sistem simbolis. Psychologi, antropologi budaya, gejala, benda-benda dalam kebuadayaan sebagai sitem simbolis yang mewujudkan nilai-nilai dasar kebudayaan.
D. Tujuan Filsafat Ilmu
Tujuan Filsafat Ilmu adalah :
1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memeahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan,dan kemajuan ilmu di berbagai bidang,sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
4. Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumberdan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.
Secara sederhana tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu didalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan kepada yang lebih layak.
E. Cakupan dan Permasalahan Filsafat Ilmu
Menurut John Loss filsafat ilmu dapat digolongkan menjadi empat konsepsi yaitu:
1. Berusaha menyusun padangan-pandangan dunia sesuai atau berdasarkan toeri-teori ilmiah yang penting.
2. Memaparkan praanggapan dan kecenderungan para ilmuwan
3. Sebagai suatu cabang pengetahuan yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu.
4. Sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah ilmu sebagai sasarannya.
Enam problem atau permasalahan mendasar :
a. Problem-problem epistimologi tentang ilmu
b. Problem-problem metafisis tentang ilmu
c. Problem-problem metodologis tentang ilmu
d. Problem-problem logis tentang ilmu
e. Problem-problem etis tentang ilmu
f. Problem-problem estetis tentang ilmu
F. Objek Studi dan Metode Filsafat
Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada. “Ada” itu sendiri dapat dipilah dalam tiga kategori : tipikal/ sungguh-sungguh ada dalam kenyataan, ada dalam kemungkinana, ada dalam pikran atau konsep. Objek formal filsafat adalah hakikat terdalam / substansi/ esensi/ intisari.
Objek filsafat ilmu
1) Objek material filsafat ilmu adalah ilmu
2) Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis, yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
G. Hubungan Filsafat dengan Ilmu
Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan filsafat berfungsi sebagai master scientist dan sebagai underlaborer. Sebagai master scientist filsafat sebagai dasar atau basis dalam berlangsungnya ilmu pengetahuan. Disini filsafat bertugas untuk mengkontruksikan teori-teori atau menolaknya berdasarkan pengetahuan apreori, sedangkan bagi para emperis pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengetahuan inderawi.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Bab III
Kesimpulan
Kata filsafat dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Dilihat dari arti praktisnya, filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran.
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
Secara sederhana tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu didalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan kepada yang lebih layak.
Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada. “Ada” itu sendiri dapat dipilah dalam tiga kategori : tipikal/ sungguh-sungguh ada dalam kenyataan, ada dalam kemungkinana, ada dalam pikran atau konsep. Objek formal filsafat adalah hakikat terdalam / substansi/ esensi/ intisari.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Daftar Pustaka
Meliono, Irmayanti dkk.MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. 2007
Wiramihardja, Sutarjo A. Prof.Dr. Psi. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Refika Aditama cet. 1. 2006
Associate Webmaster Professional. (2001) “Terminologi Filsafat” February 3, 2006
Susan Langer, Philosophy nin a New Keyi ,
Louis.O.kattsoff . (alih bahasa: Soejono Soemargono). Pengantar filsafat. Yogyakarta: TW . 2006.
PENDAHULUAN
Pada dasarnya , setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan,seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran.
Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan radil juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak.
Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris,yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan adapun, objek formal,dan rasional adalah sudut pandang yang menyeluruh,radikal,dan rasional tentang segala yang ada.setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakain bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang peraktis.inilah peruses terbentuknya ilmu secara bersenambungan .Will Durant mengibaratkan filsafat bagaikan pasukan mariner yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Karena itu, filsafat oleh para filosofi disebut sebagai induk ilmu. Sebab,dari filsafat lah, ilmu-ilmu moderen dan konten pontemporer berkembang, sehingga manusia dapat menikmati ilmu dan sekaligus buahnya,yaitu teknologi.
Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan,tetapi sudah menjadi sektoral. Contohnya, filsafat agama, filsafat hokum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu.
Tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagi kepentingan. Filsafat sepatutnya mengukuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radiakal, menyeluruh dan rasional dan begitu juga sifat pendekatan spekulatif dalm filsafat sepatutnya merupakan bagian dari ilmu
Bab II
PEMBAHASAN
FILSAFAT ILMU
A. Pengertian
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Dilihat dari arti praktisnya, filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran. Berfilsafat adalah berfikir.
Harun nasution bependapat bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa arab karena orang arab lebih dulu dating dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia dari pada orang dan bahasa inggris.oleh karena itu dia konsisten menggunakan kata falsafat.
Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster Professional (2001), menyatakan karakteristik filsafat sebagai berikut.
1. Filsafat adalah berpikir secara kritis.
2. Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.
3. Filsafat mengahasilkan sesuatu yang runtut.
4. Filsafat adalah berpikir secara rasional.
5. Filsafat bersifat komprehensif.
Berikut beberapa pengertian filsafat dari berbagai ahli:
Aristoteles, filsafat adalah menyelidiki sebab dan hakikat segala benda yang ada.
Al-kindi, Filsafat adalah pengetahuan manusia mengenai hakikat segala yang ada.
Peodjawiyatna, filsafat adalah pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam - dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan fikiran belaka.
B. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia ( The Liang Gie, 2004:61 ).
Conny Semiawan at al (1998 : 45) menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.
C. Sejarah Timbulnya Filsafat
Sejarah pemikiran filsafat sudah dimulai di Yunani pada kira-kira abad ke 6 SM oleh para filsuf alam, yaitu Thales, Anaximander, Anaximenes, dan lain-lain, para filsuf yang muncul pada priode ini dikenal sebagai filusuf alam karena fokus pemikiran meraka tentang alam . Pada priode selanjutnya , disebut priode kedua /tahab kedua, muncullah filsuf-filsuf manusia, seperti Socrates, Plato, Aristoteles. Pada priode ini minat-minat para filsuf bergeser obyeknya, yaitu dari alam ke manusia dan kehidupan masyarakat.. Aristoteles adalah orang yang mula-mula memperkenalkan dasar-dasar emperisme. Priode ketiga yaitu priode Skolastik. Pada priode ini agama Kristen menjadi tempat berpijak.Agama dikembangkan menurut berbagai argumentasi dimana filsafat menjadi teologi (argumentasi menopang keimanana). Priode keempat adalah priode filsaf modern dengan tokoh utamanya adalah Rene Descartes. Kemudian lahir priode kelima yaitu priode ilmu-ilmu alam dengan aliran positivisme dan emperisme. Pada priode ini ilmu alam mejadi model. Selanjutnya sampai pada priode keenam yang dinamakan priode Simbol. Priode ini berbagai ilmu dipandang dari sudut sistem simbol. Bahasapun desebut sebagai sistem simbolis. Psychologi, antropologi budaya, gejala, benda-benda dalam kebuadayaan sebagai sitem simbolis yang mewujudkan nilai-nilai dasar kebudayaan.
D. Tujuan Filsafat Ilmu
Tujuan Filsafat Ilmu adalah :
1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memeahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan,dan kemajuan ilmu di berbagai bidang,sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
4. Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumberdan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.
Secara sederhana tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu didalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan kepada yang lebih layak.
E. Cakupan dan Permasalahan Filsafat Ilmu
Menurut John Loss filsafat ilmu dapat digolongkan menjadi empat konsepsi yaitu:
1. Berusaha menyusun padangan-pandangan dunia sesuai atau berdasarkan toeri-teori ilmiah yang penting.
2. Memaparkan praanggapan dan kecenderungan para ilmuwan
3. Sebagai suatu cabang pengetahuan yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu.
4. Sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah ilmu sebagai sasarannya.
Enam problem atau permasalahan mendasar :
a. Problem-problem epistimologi tentang ilmu
b. Problem-problem metafisis tentang ilmu
c. Problem-problem metodologis tentang ilmu
d. Problem-problem logis tentang ilmu
e. Problem-problem etis tentang ilmu
f. Problem-problem estetis tentang ilmu
F. Objek Studi dan Metode Filsafat
Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada. “Ada” itu sendiri dapat dipilah dalam tiga kategori : tipikal/ sungguh-sungguh ada dalam kenyataan, ada dalam kemungkinana, ada dalam pikran atau konsep. Objek formal filsafat adalah hakikat terdalam / substansi/ esensi/ intisari.
Objek filsafat ilmu
1) Objek material filsafat ilmu adalah ilmu
2) Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis, yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
G. Hubungan Filsafat dengan Ilmu
Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan filsafat berfungsi sebagai master scientist dan sebagai underlaborer. Sebagai master scientist filsafat sebagai dasar atau basis dalam berlangsungnya ilmu pengetahuan. Disini filsafat bertugas untuk mengkontruksikan teori-teori atau menolaknya berdasarkan pengetahuan apreori, sedangkan bagi para emperis pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengetahuan inderawi.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Bab III
Kesimpulan
Kata filsafat dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Dilihat dari arti praktisnya, filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran.
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
Secara sederhana tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu didalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan kepada yang lebih layak.
Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada. “Ada” itu sendiri dapat dipilah dalam tiga kategori : tipikal/ sungguh-sungguh ada dalam kenyataan, ada dalam kemungkinana, ada dalam pikran atau konsep. Objek formal filsafat adalah hakikat terdalam / substansi/ esensi/ intisari.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Daftar Pustaka
Meliono, Irmayanti dkk.MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. 2007
Wiramihardja, Sutarjo A. Prof.Dr. Psi. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Refika Aditama cet. 1. 2006
Associate Webmaster Professional. (2001) “Terminologi Filsafat” February 3, 2006
Susan Langer, Philosophy nin a New Keyi ,
Louis.O.kattsoff . (alih bahasa: Soejono Soemargono). Pengantar filsafat. Yogyakarta: TW . 2006.
AL_KINDI
Bab I
Pendahuluan
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalam pemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong perkembangan filsafat Islam menjadi makin pesat. Namun demikian, seperti dikatakan Oliver Leaman, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya nukilan dari filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan, atau dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama, bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebek semata. Mesti difahami bahwa kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan berinteraksi. Pergumulan dan intereksi ini melahirkan pemikiran- pemikiran baru. Jika kebudayaan Islam tersebut terpengaruh oleh kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradaban India dan Persia, misalnya. Artinya, transformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan perbudakan dan penjiplakan. masyarakat muslim sebelum kedatangan filsafat Yunan Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada masa kekuasaan Bani Umaiyah, tetapi buku- buku filsafatnya yang kemudian melahirkan filosof pertama muslim, yakni al-Kindi (801-873 M), baru mulai digarap pada masa dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa al-Makmun (811- 833 M), oleh orang-orang seperti Yahya al-Balmaki (w. 857 M), Yuhana ibn Musyawaih dan Hunain ibn Ishaq.
Al-Kindi adalah filosof yang pertama menyelami persoalan filsafat dan keilmuan dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagai seorang yang mempelajari pikiran-pikiran filsafat dari masa sebelumnya, maka ia juga harus memperkenalkan pikiran-pikiran tersebut kepada dunia Arab-Islam tentang berbagai persoalan yang sebenarnya terasa asing sama sekali oleh mereka. Disinilah Al-Kindi menghadapi kesulitan, akan tetapi ia telah dapat menghadapinya dengan baik.
Bab II
Pembahasan
AL-KINDI
A. Biografi Al-Kindi
Al-kindi yang dikenal sebagai filosuf muslim keturunan Arab pertama, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy’as ibn Qais al-Kindi. Ia populer dengan sebutan Al-Kindi, yaitu dinisbatkan kepada Kindah, yakni suatu kabilah terkemuka pra-islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan yang menetap di Yaman. Ia lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, al-Asy’as ibn Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa’ad ibn Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum muslimin dengan Persia di Irak.. sedangkan ayahnya, Ishaq ibn al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M) dan Al-Rasyid (786-809 M). ayahnya wafat ketika ia masih kanak-kanak, namun ia tetap memperoleh kesempatan untuk menuntut ilmu dengan baik di Bashrah dan Baghdad di mana dia dapat bergaul dengan ahli pikir tekenal.
Al-Kindi mempelajari berbagai macam cabang ilmu keagamaan seperti hukum syari’at dan ilmu kalam. Ia pun turut menyumbangkan pemikirannya secara efektif dalam memasukkan filsafat kedalam khazanah pengetahuan Islam. Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid’ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.
B. Ajaran dan Pemahaman Al-Kindi
Al-Kindi adalah filosof islam yang mempercayai kepada kemampuan akal unuk memperoleh pengetahuan yang benar, Al-Kindi berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam pada filsafat Yunani apalagi dalam masalah keesaan tuhan. Ia bependapat bahwa Allah Esa tak terbilang, sama sekali tidak menyamai makhluknya, kekal tak akan fana. Al-Kindi menetapkan bahwa Al-Ba’ri (tuhan) punya sifat-sifat zat, Af’al dan negasi, seperti yang si sebutkan di dalam asar dan apa yang di pegangi oleh Mu’tazilah.
Al-Kindi telah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, namun sebagai seorang filosuf Muslim, ia mempunyai kepribadian seorang Muslim sejati yang tak tergoda dan tetap mayakini prinsip-prinsip di dalam Islam. Sebagaimana telah diketahui, Al-Kindi banyak mempelajari filsafat Yunani, maka dalam pemikirannya banyak kelihatan unsur-unsur filsafat Yunani itu. Unsur-unsur yang terdapat dalam pemikiran filsafat Al Kindi ialah :
1. Aliran Pitagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filsafat
2. Pikiran-pikiran Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al- Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
3. Pikiran-pikiran Plato dalam soal kejiwaan.
4. Pikiran-pikiran Plato dan Aristo bersam-sama dalam soal etika.
5. Wahyu dan Iman (ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan dan Sifat-sifatNya.
6. Pikiran-pikiran aliran Mu’tazilah dalam penghargaan kekuatan akal dan dalam mena’wilkan ayat-ayat Qur’an.
Mustafa Abdurraziq juga menjunjung al-kindi sebagai ahli falsafat islam yang pertama karena tiga hal:
1. Al-kindi mula-mula membagi falsafat dalam 3 ilmu, yaitu ilmu ketuhanan, ilmu pasti, dan ilmu alam, ketiga-tiganya adalah merupakan dasar falsafat islam.
2. Al-kindilah yang mula-mula membuka jalan ke arah falsafat islam dengan mempertemukan dua pendapat yang berbeda antara plato dan aristoteles, sehingga dengan demikian itu bertemu pulalah agama dengan falsafat.
3. Al-kindi adalah seorang arab islam yang mula-mula merintis membuka ilmu falsafat ini, sehingga ilmu itu tersiar diantara orang arab dan dalam kalangan islam.
Sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yunani dan filosof-filosof islam lainnya, Al-Kindi, selain dari filosof adalah juga ahli ilmu pengetahuan. Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bagian:
1. Pengetahuan Ilahi (علم الهي, Divine science), sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an: yaitu pengetahuan lansung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini ialah keyakinan.
2. Pengetahuan manusiawi (علم انساني, human science) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason)
Argumen-argumen yang dibawa Al-Qur’an lebih meyakinkan daripada argument-argumen yang ditimbulkan falsafat. Tetapi falsafat dan Al-Qur’an tak bertentangan, kebenaran yang diberitakan wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran yang dibawa falsafat. Mempelajari falsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena teologi adalah bagian dari falsafat, dan umat islam diwajibkan belajar teologi.
Falsafat baginya ialah pengetahuan tentang yang benar (بحث عن الحق, knowledge of truth). Di sinilah terlihat persamaan falsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, falsafat itu pulalah tujuannya. Menurut Al-Kindi falsafat yang paling tinggi ialah falsafat tentang Tuhan. Sebagaimana katanya:
وَأسرَفُ الفَلسَفةِ وأعْلاهاَ مَرْتبَةً الفَلسفةُ الأُوْلى أعْنىِ عِلمَ الحَقِّ الأوَّلِ هُوَ عِلَّةُ كُلِّ حَقٍّ
“Falsafat yang termula dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu ilmu tentang yang benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.”
Al-Kindi juga mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan manusia, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :
1. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut Pengetahuan Inderawi.
2. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut Pengetahuan Rasional.
3. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan Pengetahuan Isyraqi Atau Iluminatif.
C. Filsafat dan Agama Menurut Al-Kindi
Agama yang bersumber dari wahyu Ilahi mengandung kebenaran, dan kebenaran ini dituangkan untuk manusia. Filsafat juga mengandung kebenaran, kebenarannya didasarkan pada pencarian nalar manusia. Dengan demikian ujung dari keduanya ialah “kebenaran”. Filsafat mencari kebenaran dan agama membawa kebenaran. Namun demikian kebenaran agama tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang berakal. Oleh sebab itu kebenaran agama harus digali agar lebih jelas. Penggalinya ini dilakukan dengan menggunakan nalar filsafat. Bagi al-kindi kebenaran yang dibawa oleh agama lebih positif dan lebih meyakinkan daripada kebenaran filsafat, walaupun ia juga harus memakai filsafat untuk lebih memperjelasnya, tetapi pekerjaan itu hanyalah pekerjaan membuka selubung barang yang telah ada. Jadi, kebenaran yang hendak dicari oleh filsafat, akallah yang menjadi alat pencariannya, dan kebenaran yang dibawa oleh agama akal pulalah yang berfungsi untuk membuka tabirnya. Dengan demikian akal berfungsi dalam filsafat dan juga dalam agama.
Selanjutnya pembahasan yang paling tinggi dalam filsafat ialah pembahasan tentang masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal, yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai kepada kebenaran pertama itu. Kebenaran pertama itulah Tuhan. Masalah ketuhanan digali dari berbagai jurusan, sehingga tampak dengan jelas kemutlakan-Nya, keadaan-Nya, keesaan-Nya dan sebagainya. Demikian pulalah dengan agama, di mana teologinya dengan dalil-dalil aklinya menetapkan tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Mutlak itu. Demikianlah pandangan al-kindi tentang filsafat dan agama. Keduanya berjalan seiring, yang satu membutuhkan yang lain. Suatu kali al-kindi pernah mengatakan, bahwa siapa yang mengatakan filsafat ini bertentangan dengan agama berarti dialah yang tidak beragama.
Dengan ini tampak dengan jelas, bahwa al-kindi sangat mengagumi filsafat di samping kecintaannya kepada agama. Melihat jalan fikirannya dengan demikian tidak salah ada diantara ahli sejarah yang menganggap dia sebagai ahli ilmu kalam dari golongan mu’tazilah ketimbang sebagai filosof. Tetapi karena al-kindilah orang yang pertama Memperkenalkan buah fikiran filosof-filosof yunani serta memberikan analisa-analisa yang jelimet tentang dasar-dasar filsafat yunani itu, maka oleh sebagian besar pemikir islam menamakan dia sebagai filosof.
D. Karya Al-Kindi
Sebagai seorang filosof islam yang produktif, diperkirakan karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah:
1. kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama),
2. kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyah wa al Muqtashah wa ma fawqa al-Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil, serta metafisika),
3. kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘ilm al-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika),
4. kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud-maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya),
5. kitab fi Ma’iyyah al-‘ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya),
6. Risalah fi Hudud al-Asyya’ wa Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya),
7. Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tilisan filosofis tentang rahasia-rahasia spiritual), dan lainnya.
Bab III
Kesimpulan
Al-kindi nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy’as ibn Qais al-Kindi. Al-Kindi adalah filosof islam yang mempercayai kepada kemampuan akal unuk memperoleh pengetahuan yang benar, Al-Kindi berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam pada filsafat Yunani.
Al-Kindi mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan manusia, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :
4. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut Pengetahuan Inderawi.
5. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut Pengetahuan Rasional.
6. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan Pengetahuan Isyraqi Atau Iluminatif.
Menurut Al-Kindi, pembahasan yang paling tinggi dalam filsafat ialah pembahasan tentang masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal, yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai kepada kebenaran pertama itu. Kebenaran pertama itulah Tuhan. Pandangan al-kindi tentang filsafat dan agama adalah bahwa keduanya berjalan seiring, yang satu membutuhkan yang lain. Suatu kali al-kindi pernah mengatakan, bahwa siapa yang mengatakan filsafat ini bertentangan dengan agama berarti dialah yang tidak beragama.
Sebagai seorang filosof islam yang produktif, diperkirakan karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah: kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama), kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘ilm al-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika),
Daftar Pustaka
Ali, Yunasril. Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1991.
Nasution, Harun. Falsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1999.
Nasution, Hasyimsyah. Dr.M.A. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 2002.
Fuad Al-Ahwani, Ahmad. Dr. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firadus. 2008.
Hanafi, Ahmad. MA. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.1996.
Http./sala/; Filsafat Islam
Pendahuluan
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalam pemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong perkembangan filsafat Islam menjadi makin pesat. Namun demikian, seperti dikatakan Oliver Leaman, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya nukilan dari filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan, atau dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama, bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebek semata. Mesti difahami bahwa kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan berinteraksi. Pergumulan dan intereksi ini melahirkan pemikiran- pemikiran baru. Jika kebudayaan Islam tersebut terpengaruh oleh kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradaban India dan Persia, misalnya. Artinya, transformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan perbudakan dan penjiplakan. masyarakat muslim sebelum kedatangan filsafat Yunan Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada masa kekuasaan Bani Umaiyah, tetapi buku- buku filsafatnya yang kemudian melahirkan filosof pertama muslim, yakni al-Kindi (801-873 M), baru mulai digarap pada masa dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa al-Makmun (811- 833 M), oleh orang-orang seperti Yahya al-Balmaki (w. 857 M), Yuhana ibn Musyawaih dan Hunain ibn Ishaq.
Al-Kindi adalah filosof yang pertama menyelami persoalan filsafat dan keilmuan dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagai seorang yang mempelajari pikiran-pikiran filsafat dari masa sebelumnya, maka ia juga harus memperkenalkan pikiran-pikiran tersebut kepada dunia Arab-Islam tentang berbagai persoalan yang sebenarnya terasa asing sama sekali oleh mereka. Disinilah Al-Kindi menghadapi kesulitan, akan tetapi ia telah dapat menghadapinya dengan baik.
Bab II
Pembahasan
AL-KINDI
A. Biografi Al-Kindi
Al-kindi yang dikenal sebagai filosuf muslim keturunan Arab pertama, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy’as ibn Qais al-Kindi. Ia populer dengan sebutan Al-Kindi, yaitu dinisbatkan kepada Kindah, yakni suatu kabilah terkemuka pra-islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan yang menetap di Yaman. Ia lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, al-Asy’as ibn Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa’ad ibn Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum muslimin dengan Persia di Irak.. sedangkan ayahnya, Ishaq ibn al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M) dan Al-Rasyid (786-809 M). ayahnya wafat ketika ia masih kanak-kanak, namun ia tetap memperoleh kesempatan untuk menuntut ilmu dengan baik di Bashrah dan Baghdad di mana dia dapat bergaul dengan ahli pikir tekenal.
Al-Kindi mempelajari berbagai macam cabang ilmu keagamaan seperti hukum syari’at dan ilmu kalam. Ia pun turut menyumbangkan pemikirannya secara efektif dalam memasukkan filsafat kedalam khazanah pengetahuan Islam. Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid’ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.
B. Ajaran dan Pemahaman Al-Kindi
Al-Kindi adalah filosof islam yang mempercayai kepada kemampuan akal unuk memperoleh pengetahuan yang benar, Al-Kindi berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam pada filsafat Yunani apalagi dalam masalah keesaan tuhan. Ia bependapat bahwa Allah Esa tak terbilang, sama sekali tidak menyamai makhluknya, kekal tak akan fana. Al-Kindi menetapkan bahwa Al-Ba’ri (tuhan) punya sifat-sifat zat, Af’al dan negasi, seperti yang si sebutkan di dalam asar dan apa yang di pegangi oleh Mu’tazilah.
Al-Kindi telah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, namun sebagai seorang filosuf Muslim, ia mempunyai kepribadian seorang Muslim sejati yang tak tergoda dan tetap mayakini prinsip-prinsip di dalam Islam. Sebagaimana telah diketahui, Al-Kindi banyak mempelajari filsafat Yunani, maka dalam pemikirannya banyak kelihatan unsur-unsur filsafat Yunani itu. Unsur-unsur yang terdapat dalam pemikiran filsafat Al Kindi ialah :
1. Aliran Pitagoras tentang matematika sebagai jalan ke arah filsafat
2. Pikiran-pikiran Aristoteles dalam soal-soal fisika dan metafisika, meskipun Al- Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles tentang qadimnya alam.
3. Pikiran-pikiran Plato dalam soal kejiwaan.
4. Pikiran-pikiran Plato dan Aristo bersam-sama dalam soal etika.
5. Wahyu dan Iman (ajaran-ajaran agama) dalam soal-soal yang berhubungan dengan Tuhan dan Sifat-sifatNya.
6. Pikiran-pikiran aliran Mu’tazilah dalam penghargaan kekuatan akal dan dalam mena’wilkan ayat-ayat Qur’an.
Mustafa Abdurraziq juga menjunjung al-kindi sebagai ahli falsafat islam yang pertama karena tiga hal:
1. Al-kindi mula-mula membagi falsafat dalam 3 ilmu, yaitu ilmu ketuhanan, ilmu pasti, dan ilmu alam, ketiga-tiganya adalah merupakan dasar falsafat islam.
2. Al-kindilah yang mula-mula membuka jalan ke arah falsafat islam dengan mempertemukan dua pendapat yang berbeda antara plato dan aristoteles, sehingga dengan demikian itu bertemu pulalah agama dengan falsafat.
3. Al-kindi adalah seorang arab islam yang mula-mula merintis membuka ilmu falsafat ini, sehingga ilmu itu tersiar diantara orang arab dan dalam kalangan islam.
Sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yunani dan filosof-filosof islam lainnya, Al-Kindi, selain dari filosof adalah juga ahli ilmu pengetahuan. Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bagian:
1. Pengetahuan Ilahi (علم الهي, Divine science), sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an: yaitu pengetahuan lansung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini ialah keyakinan.
2. Pengetahuan manusiawi (علم انساني, human science) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason)
Argumen-argumen yang dibawa Al-Qur’an lebih meyakinkan daripada argument-argumen yang ditimbulkan falsafat. Tetapi falsafat dan Al-Qur’an tak bertentangan, kebenaran yang diberitakan wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran yang dibawa falsafat. Mempelajari falsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena teologi adalah bagian dari falsafat, dan umat islam diwajibkan belajar teologi.
Falsafat baginya ialah pengetahuan tentang yang benar (بحث عن الحق, knowledge of truth). Di sinilah terlihat persamaan falsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, falsafat itu pulalah tujuannya. Menurut Al-Kindi falsafat yang paling tinggi ialah falsafat tentang Tuhan. Sebagaimana katanya:
وَأسرَفُ الفَلسَفةِ وأعْلاهاَ مَرْتبَةً الفَلسفةُ الأُوْلى أعْنىِ عِلمَ الحَقِّ الأوَّلِ هُوَ عِلَّةُ كُلِّ حَقٍّ
“Falsafat yang termula dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu ilmu tentang yang benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.”
Al-Kindi juga mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan manusia, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :
1. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut Pengetahuan Inderawi.
2. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut Pengetahuan Rasional.
3. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan Pengetahuan Isyraqi Atau Iluminatif.
C. Filsafat dan Agama Menurut Al-Kindi
Agama yang bersumber dari wahyu Ilahi mengandung kebenaran, dan kebenaran ini dituangkan untuk manusia. Filsafat juga mengandung kebenaran, kebenarannya didasarkan pada pencarian nalar manusia. Dengan demikian ujung dari keduanya ialah “kebenaran”. Filsafat mencari kebenaran dan agama membawa kebenaran. Namun demikian kebenaran agama tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang berakal. Oleh sebab itu kebenaran agama harus digali agar lebih jelas. Penggalinya ini dilakukan dengan menggunakan nalar filsafat. Bagi al-kindi kebenaran yang dibawa oleh agama lebih positif dan lebih meyakinkan daripada kebenaran filsafat, walaupun ia juga harus memakai filsafat untuk lebih memperjelasnya, tetapi pekerjaan itu hanyalah pekerjaan membuka selubung barang yang telah ada. Jadi, kebenaran yang hendak dicari oleh filsafat, akallah yang menjadi alat pencariannya, dan kebenaran yang dibawa oleh agama akal pulalah yang berfungsi untuk membuka tabirnya. Dengan demikian akal berfungsi dalam filsafat dan juga dalam agama.
Selanjutnya pembahasan yang paling tinggi dalam filsafat ialah pembahasan tentang masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal, yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai kepada kebenaran pertama itu. Kebenaran pertama itulah Tuhan. Masalah ketuhanan digali dari berbagai jurusan, sehingga tampak dengan jelas kemutlakan-Nya, keadaan-Nya, keesaan-Nya dan sebagainya. Demikian pulalah dengan agama, di mana teologinya dengan dalil-dalil aklinya menetapkan tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Mutlak itu. Demikianlah pandangan al-kindi tentang filsafat dan agama. Keduanya berjalan seiring, yang satu membutuhkan yang lain. Suatu kali al-kindi pernah mengatakan, bahwa siapa yang mengatakan filsafat ini bertentangan dengan agama berarti dialah yang tidak beragama.
Dengan ini tampak dengan jelas, bahwa al-kindi sangat mengagumi filsafat di samping kecintaannya kepada agama. Melihat jalan fikirannya dengan demikian tidak salah ada diantara ahli sejarah yang menganggap dia sebagai ahli ilmu kalam dari golongan mu’tazilah ketimbang sebagai filosof. Tetapi karena al-kindilah orang yang pertama Memperkenalkan buah fikiran filosof-filosof yunani serta memberikan analisa-analisa yang jelimet tentang dasar-dasar filsafat yunani itu, maka oleh sebagian besar pemikir islam menamakan dia sebagai filosof.
D. Karya Al-Kindi
Sebagai seorang filosof islam yang produktif, diperkirakan karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah:
1. kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama),
2. kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyah wa al Muqtashah wa ma fawqa al-Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil, serta metafisika),
3. kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘ilm al-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika),
4. kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud-maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya),
5. kitab fi Ma’iyyah al-‘ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya),
6. Risalah fi Hudud al-Asyya’ wa Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya),
7. Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tilisan filosofis tentang rahasia-rahasia spiritual), dan lainnya.
Bab III
Kesimpulan
Al-kindi nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy’as ibn Qais al-Kindi. Al-Kindi adalah filosof islam yang mempercayai kepada kemampuan akal unuk memperoleh pengetahuan yang benar, Al-Kindi berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam pada filsafat Yunani.
Al-Kindi mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan manusia, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu :
4. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut Pengetahuan Inderawi.
5. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut Pengetahuan Rasional.
6. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan Pengetahuan Isyraqi Atau Iluminatif.
Menurut Al-Kindi, pembahasan yang paling tinggi dalam filsafat ialah pembahasan tentang masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal, yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai kepada kebenaran pertama itu. Kebenaran pertama itulah Tuhan. Pandangan al-kindi tentang filsafat dan agama adalah bahwa keduanya berjalan seiring, yang satu membutuhkan yang lain. Suatu kali al-kindi pernah mengatakan, bahwa siapa yang mengatakan filsafat ini bertentangan dengan agama berarti dialah yang tidak beragama.
Sebagai seorang filosof islam yang produktif, diperkirakan karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah: kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama), kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘ilm al-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika),
Daftar Pustaka
Ali, Yunasril. Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1991.
Nasution, Harun. Falsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1999.
Nasution, Hasyimsyah. Dr.M.A. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 2002.
Fuad Al-Ahwani, Ahmad. Dr. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firadus. 2008.
Hanafi, Ahmad. MA. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.1996.
Http./sala/; Filsafat Islam
Jumat, 04 Juni 2010
ikwanulmuslimin
Ikhwanul Muslimin
A. Sejarah
Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. Ikhwanul Muslimin pada saat itu dipimpin oleh Hassan al-Banna. Pada tahun 1930, Anggaran Dasar Ikhwanul Muslimin dibuat dan disahkan pada Rapat Umum Ikhwanul Muslimin pada 24 September1930. Pada tahun 1932, struktur administrasi Ikhwanul Muslimin disusun dan pada tahun itu pula, Ikhwanul Muslimin membuka cabang di Suez, Abu Soweir dan al-Mahmoudiya. Pada tahun 1933, Ikhwanul Muslimin menerbitkan majalah mingguan yang dipimpin oleh Muhibuddin Khatib.
Ikhwanul Muslimin menekankan pada pentingnya penelitian dan pembahasan terhadap dalil, serta urgensi kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah secara murni dan konsekuen. Memberishkan dari segla bentuk kemusyrikan untuk mencapi kesempurnaan tauhdi. Ikhwan juga mengambil nilai positif dari tasawuf sebagai sarana pendidikan dan peningkatan jiwa, tnpa penyimpangan akidah, jauh dari segala bentuk bid'ah, khurafat, menghina diri dari sifat negatif.
Hasan Al-Banna, snag pemimpin pertamanya, telah merangkum pemahaman tersebut dalam dakwah Ikhwan. Ditambah dengan konsepsi-konsepsi yng sesuai dengan kebutuhan zaman dan kondisi. Sehingga dakwah Ikhwan mampu menghsapi berbagai arus yagn melanda Mesir dan dunia Islam pada umumnya. Namun demikian, ide-ide dan pemikirannya tentang Ikhwanul Muslimin ini tak luput dari pemahaman yang negative yang muncul dari sementara kalangan. Bahkan tidk jarang muncul tuduhan-tuduhan yang sesungguhnya sangt jauh dari kenyataan. Sementara kalangan menempelkan ide pemikiran ghuluw (ekstrimisme), irhabiyah (terorisme), bid'ah bahkan syirik, dengna gerakan Ikhwan, pendiri dan sejumlah tokohnya.
B. Pembentukan Gerakan Ikhwanul Muslimin
Pada bulan Dzulqa'dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari pengiktunya mendatangi rumahnya membai'atnya demi beramal untuk Islam dan asma-asma bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. Dengan itu, muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Dzulqa'dah 1347 H/1928 M adalah bulan didirikannya cikal bakal gerakan Ikhwanul Muslimin.
Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindash ke ibu kota Kairo, bersama markas bear Ikhwanul Muslimin. Dengan berulirnya waktu, jangakauan dakwahnya semakin lebar. Kini satnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk pasukan khusus untuk melindungi jama'ahnya. Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk mencalonkan dirinya dalam pemilihan umum, tapi ia mencabutnya setelah maju, karena ada ancaman dari Mushthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum. Kronologis perjalanan Ikhwan adalah sebagai berikut:
Tahun 1932 Hasan Al-Banna pindah ke Kairo. Bersama itu pula gerakannya berpinsah dari Isma'iliyyah ke Kairo.
Tahun 1933 M/1352 H beliau menerbitkan sebuah majalah berita mingguan Al-Ikhwan All-Muslimun yang dipimpin oleh Muhibbudin Khatib (1303-1389 H/1969 M). Kemudian tahun 1938 M/1357 H terbit majalah Al-Nadzir. Lalu menyusl Al-Syihab, tahun 1947 M/1367 H. Seterusnya majalah berita-berita Ikhwan terbit secara teratur.
C. Pemikiran dan Doktrin
Pemahaman Ikhwan terhadap Islam bersifat universal, tidak mengenal adanya pemisahan antra satu aspek dengan aspek lainnya. Ikhwan berusaha keras memperluas kawan geraknya sampai menjadi sebuah gerakan Islam internasional.
Berkenaan dengan dakwah Ikhwan, Hasn Al-Banna mengakan bahwa gerakan Ikhwan adalah da'wah salafiyah karena berdakwah untuk mengajak kembali bersama Islam kepada sumbernya yagn jernih dari Kitab Allahd dan Sunnah Rasul-Nya; thariqah ssunniyyah, karena membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci, khususnya dalam masalh akidah dan ibadah, semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka; haqiqah shufiyyah, karena memahami bahwa asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, cinta pada Allah dan keterikatan kepada kebaikan; lembaga politik (hai'ah siyasiyah) karena menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan, meluruskan persepsi yang terkait hubungan uamt Islam terhadap bangsa-bangsa lain di luar negeri, mendidik bangsa agar memiliki semangan, dan menjaga identitasnya; klub olahraga (jama'ah riyadhiyah) karena sangat memperhatikan masalah fisik fan memahami benar bahwa seorang mukmin yang kuat lebih baik dari pada seorang mukmin yagn lemah; lembaga ilmiah dan kebudayaan (rabithah 'ilmiyah tsaqafiyah) karena Islam menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah; perserikatan ekonomi (syirkah iqtishadiyah) karena Islam sangat memperhatikan pemerolehan harta dan pndistribusiannya; dan pemikiran sosial (fikrah ijtima'iyah) karena sangat menaruh perhatian pada segala penyakit yang ada dalam masyarakat dan berusaha mengikis dan mengobatinya.
Selanjutnya Hasan Al-Bannaa menegaskan bahwa cirri gerakan Ikhwan adalah:
1. Jauh dari sumber pertentangan (khilafiyah)
2. Jauh dari pengaruh riya dan kesombongan
3. Jauh dari fanatisme partai politik dan lembaga-lemabga politik
4. Memperhatikan kaderisasi (takwin dan bertahap (tadarruj) dalam melangkah
5. Lebih mengutamakan aspek amaliyah produktif daipada propaganda dan reklame.
6. Memberi perhatian sangat serius kepada para pemuda.
7. Cepat tersebar di kampung-kampung dan di kota-kota.
Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah organisasi Islam berlandaskan ajaran Islam. Ia merupakan salah satu jamaah dari beberapa jamaah yang ada pada umat Islam, yang memandang bahwa Islam adalah dien yang universal dan menyeluruh, bukan hanya sekedar agama yang mengurusi ibadah ritual (shalat, puasa, haji, zakat, dll) saja. Tujuan Ikhwanul Muslimin adalah mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam. Ikhwanul Muslimin menolak segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat.
Dalam perpolitikan di berbagai negara, Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam proses demokrasi sebagai sarana perjuangannya, sebagaimana kelompok-kelompok lain yang mengakui demokrasi. Contoh utamanya adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir yang mengikuti proses pemilu di negara tersebut
Selain itu Hasan Al-Banna menyebutkan karakteristik Ikhwan sebagai berikut:
1. Gerakan Ikhwan adalah gerakan Rabbaniyyah (ketuhanan). Sebab, asas yang menjadi poros sasarannya ialah mendekatkan manusia kepada Rabbnya.
2. Gerakan Ikhwan bersifat alamiyah (internasional). Sebab, arah gerakan ditujukan kepada semua umat manusia. Semua manusia pada dasarnya bersaudara. Asalnya satu, nenek moyangnya satu dan nasbnya satu. Hanya taqwa yagn menentuakn sesorang itu lebih dari yang lain. Dari ketaqwaannya akan terefleksikan pada kebaikan dan keutamaannya yang utuh dan menyeluruh yang ia berikan kepada orang lain. Tidak ada perbedaan suku, agama dan ras (SARA) dalam Ikhwan.
3. Gerakan Ikhwan bersifat Islami. Sebab, orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam sebagai rahmatan lil'âlamîn.
Selain itu Hasn Al-Banna menetapkan tingkatan amal yang merupakan konsekuensi logis setiap anggota, yaitu:
1. Memperbaiki diri, sehingga menjadi pribadi yang kuat fisik, teguh dalam berakhlak, luas dal mberfikir, mampu mencari nafkah mandiri, lurus berakidah dan benar dalam beribadah.
2. Membentuk rumah tangga Islami. Sehingga keluarganya menjadi pendukung fikrah, menghormatinya dan memelihara tatakrama Islam dalam segala aspek kehidupan rumah tangganya sehari-hari.
3. Memotivasi masyarakat untuk menyebarkan kebaikan, memrangi kemungkaran dan kerusakan.
4.Memerdekakan Negara dengan membersihkan rakyatnya dari berbagai bentuk kekuasaan asing yang tidak sejalan dengan ajaran Islam di bidang politik ataupun mental spiritual.
5. Memperbaiki pemerintahan sehinga benar-benar menjadi pemerintahan yang Islami.
6. Mengembalikan eksistensi Negara-negara Islam dengan memerdekakan negerinya dan menghidupkan kembali keagungannya.
7. Menjadi guru dunia dengan menyebarkan Isalam ke tengah-tengah umat manusia, sehingga tidak ada fitnah lagi dan Dien benar-benar hanya milik Allah.
"Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan Nur (dien)Nya."
Tentang tahapan dakwah, Hsan Al-Banna membaginya menjadi tiga tahap:
Tahap pengenalan
Tahap pembentukan
Tahap pelaksanaan.
D. Ikhwanul Muslimin di Indonesia
Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, Agus Salim menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia.
Ikhwanul Muslimin memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, negara Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, setelah dijajah oleh Belanda. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.
Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah Muhammad Natsir mendirikan partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, yaitu Partai Masyumi.
Partai Masyumi kemudian dibredel oleh Soekarno dan dilarang keberadaannya. Kemudian pada Pemilu tahun 1999 berdiri partai yang menggunakan nama Masyumi, yaitu Partai Masyumi Baru dan Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (PPII Masyumi)[23]. Selain itu berdiri juga Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan (PK) yang sebelumnya banyak dikenal dengan jamaah atau kelompok Tarbiyah. PBB mendeklarasikan partainya sebagai keluarga besar pendukung Masyumi[24]. Sedangkan menurut Yusuf Qaradhawi, Partai Keadilan (kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera atau PKS) merupakan perpanjangan tangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir yang mewadahi komunitas terbaik kalangan muda intelektual yang sadar akan agama, negeri, dunia, dan zamannya Namun tulisan ulama yang kini bermukim di Qatar itu belum pernah mendapat konfirmasi dari para pengurus DPP PKS. Jika dilihat dari Piagam Deklarasi PKS dan AD/ART PKS, PKS tidak pernah menyebutkan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin.
Selain partai-partai di atas, ada juga ormas Islam di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin ini, paling tidak itu terlihat dari nama ormas tersebut. Ormas yang dimaksud, antara lain adalah Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) yang berafiliasi ke PPP, dan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI). Parmusi saat ini diketuai oleh Bachtiar Chamsyah. Sedangkan IMI yang dideklarasikan di Depok pada tahun 2001, diketuai oleh Habib Husein Al Habsyi
Lalu pada Pemilu tahun 2004, Partai Masyumi Baru dan PPII Masyumi tidak dapat mengikuti pemilu lagi karena tidak lolos electoral threshold. Partai Masyumi Baru bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PBB masih dapat terus mengikuti pemilu. Sedangkan PK mengikuti Pemilu 2004 setelah berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah pemilu 2004, PBB hampir tidak bisa mengikuti pemilu 2009 karena tidak lolos electoral threshold. Pada akhirnya PBB bisa mengikuti pemilu 2009 sebagaimana PKS dan PPP yang masih dapat terus mengikuti pemilu 2009 karena lolos electoral threshold.
Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Jika diringkas, organisasi di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin antara lain:
Partai Masyumi
Persaudaraan Muslimin Indonesia
Partai Masyumi Baru (1998)
Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (1998)
Partai Bulan Bintang (1998)
Partai Keadilan (1998)
Ikhwanul Muslimin Indonesia (2001)
Partai Keadilan Sejahtera (2002)
E. Akar Pemikiran dan Sifat Ideologi
Al-Ikhwan al-Muslimun telah mengadopsi dakwah dari berbaga sumber yang menjadi gerakan dakwaknya. Ia tidak hanya menekankan kepada pentingnya pembersihan jiwa (manajemen qalbu) tetapi juga merujuk pada dalil-dalil yang shahih serta selalu melakukan perbaikan aqidah dan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Al-Sunnah dan membersihkan dari segala bentuk kemusyrikan untuk mencapai kesempurnaan tauhid.
Dakwah Ikhwan banyak dipengaruhi gerakan dakwah yang dibawa oleh geneasi salafus shalih. Pendirinya tetap terbuka dengan perkembangan zaman dadn menggabungkan kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Pada umumnya dakwah tersebut mengambil metode-metode dakwah yang dibawa Rasulullah Saw. dan para sahabat yang melandasi gerakan dakwah ini.
Hasan Al-Banna merangkum semua pemahaman tersebut dalam dakwah. Ditambah dengan konsepsi-konsepsi yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan lingkungan. Sehingga dakwahnya mampu menghadapi berbagai arus yang melanda Mesir dan kawasan lain.
F. Pemikiran Teologi Ikhwanul Muslimin
Manhaj akidah Al-Ikhwan adalah manhaj salafi murni tanpa kesamaran sedikitpun. Ini jelas terlihat melalui pernyataan Hasan Al-Banna bahwa setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali Rasulullah Saw. yang ma'shum (terlindung dari kesalahan). Dan semua yang datang dari para salaf bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah maka diterima. Namun bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah sangat diutamakan untuk diikuti. Namun Ikhwanul Muslimin tidak akan melontarkan tuduhan dan kritikan terhadap pribadi atau golongan yang berselisih dalam hal ini.
Dalam hal ini, Al-Banna memberi catatan bahwa tidak ada 'ishmah menurut ahlu haq kecuali Al-Qur'an dan Sunnah. Karenanya kesalahan yang terjadi selain dari keduanya adalah masalah yang mungkin terjadi. Selanjutnya, pendapat yang dilontarkan oleh seseorang, setelah Allah dan Rasul-Nya, dapat diambil atau ditolak. Termasuk dalam hal ini pendapat para salaf dan para imam. Ikhwan menolak setiap perkatan yang berlawnan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, siapa pun yang mengatakannya. Hasan Al-Banna dalam prinsip ke Sembilan menyatakan bahwa seitap masalah yang tidak didasari dengan amal perbuatan, maka mendalami masalah tersebut termasuk takalluf (memberat-beratkan) yang dilarang oleh syari'at. Termasuk mendalami masalah-masalah cabang (far'iyat) terhadap ketentuan hukum yang belum terjadi.
Ada beberapa masalah termasuk bab akidah yang kita tidak diperintahkan untuk membahasnya. Ada masalah yang termasuk bab fiqih dan kita atau kaum muslimin tidak memerlukannya. Ada pula masalah yang tidak termasuk bab akhlak, tidak disebutkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, serta bukan merupakn sesuatu keharusan dalam urusan dunia dan diri. Waktu kita tidak perlu disibukkan terhadap masalah-masalah seperti ini. Karena hal tersebut tidak lain hanya melelahkan jiwa dan akal, serta menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat. Bahkan bias jadi, termasuk dalam akhlak tercela dari akhlak mutafashihin (berlebihan dalam kefasihan), mutaqarri'in (berlebihan dalam membaca), mutafaqqihin (berlebihan dalam pemahaman fiqih), semuanya yang termasuk takalluf yang dilarang oleh syari'at. Allah Swt. berfirman, "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada."
Untuk lebih menjelaskan manhaj Ikhwan dalam hal ini, harus disebutkan dulu sebagian rincian masalah dalam manhaj fiqih.
A. Sejarah
Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. Ikhwanul Muslimin pada saat itu dipimpin oleh Hassan al-Banna. Pada tahun 1930, Anggaran Dasar Ikhwanul Muslimin dibuat dan disahkan pada Rapat Umum Ikhwanul Muslimin pada 24 September1930. Pada tahun 1932, struktur administrasi Ikhwanul Muslimin disusun dan pada tahun itu pula, Ikhwanul Muslimin membuka cabang di Suez, Abu Soweir dan al-Mahmoudiya. Pada tahun 1933, Ikhwanul Muslimin menerbitkan majalah mingguan yang dipimpin oleh Muhibuddin Khatib.
Ikhwanul Muslimin menekankan pada pentingnya penelitian dan pembahasan terhadap dalil, serta urgensi kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah secara murni dan konsekuen. Memberishkan dari segla bentuk kemusyrikan untuk mencapi kesempurnaan tauhdi. Ikhwan juga mengambil nilai positif dari tasawuf sebagai sarana pendidikan dan peningkatan jiwa, tnpa penyimpangan akidah, jauh dari segala bentuk bid'ah, khurafat, menghina diri dari sifat negatif.
Hasan Al-Banna, snag pemimpin pertamanya, telah merangkum pemahaman tersebut dalam dakwah Ikhwan. Ditambah dengan konsepsi-konsepsi yng sesuai dengan kebutuhan zaman dan kondisi. Sehingga dakwah Ikhwan mampu menghsapi berbagai arus yagn melanda Mesir dan dunia Islam pada umumnya. Namun demikian, ide-ide dan pemikirannya tentang Ikhwanul Muslimin ini tak luput dari pemahaman yang negative yang muncul dari sementara kalangan. Bahkan tidk jarang muncul tuduhan-tuduhan yang sesungguhnya sangt jauh dari kenyataan. Sementara kalangan menempelkan ide pemikiran ghuluw (ekstrimisme), irhabiyah (terorisme), bid'ah bahkan syirik, dengna gerakan Ikhwan, pendiri dan sejumlah tokohnya.
B. Pembentukan Gerakan Ikhwanul Muslimin
Pada bulan Dzulqa'dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari pengiktunya mendatangi rumahnya membai'atnya demi beramal untuk Islam dan asma-asma bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. Dengan itu, muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Dzulqa'dah 1347 H/1928 M adalah bulan didirikannya cikal bakal gerakan Ikhwanul Muslimin.
Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindash ke ibu kota Kairo, bersama markas bear Ikhwanul Muslimin. Dengan berulirnya waktu, jangakauan dakwahnya semakin lebar. Kini satnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk pasukan khusus untuk melindungi jama'ahnya. Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk mencalonkan dirinya dalam pemilihan umum, tapi ia mencabutnya setelah maju, karena ada ancaman dari Mushthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum. Kronologis perjalanan Ikhwan adalah sebagai berikut:
Tahun 1932 Hasan Al-Banna pindah ke Kairo. Bersama itu pula gerakannya berpinsah dari Isma'iliyyah ke Kairo.
Tahun 1933 M/1352 H beliau menerbitkan sebuah majalah berita mingguan Al-Ikhwan All-Muslimun yang dipimpin oleh Muhibbudin Khatib (1303-1389 H/1969 M). Kemudian tahun 1938 M/1357 H terbit majalah Al-Nadzir. Lalu menyusl Al-Syihab, tahun 1947 M/1367 H. Seterusnya majalah berita-berita Ikhwan terbit secara teratur.
C. Pemikiran dan Doktrin
Pemahaman Ikhwan terhadap Islam bersifat universal, tidak mengenal adanya pemisahan antra satu aspek dengan aspek lainnya. Ikhwan berusaha keras memperluas kawan geraknya sampai menjadi sebuah gerakan Islam internasional.
Berkenaan dengan dakwah Ikhwan, Hasn Al-Banna mengakan bahwa gerakan Ikhwan adalah da'wah salafiyah karena berdakwah untuk mengajak kembali bersama Islam kepada sumbernya yagn jernih dari Kitab Allahd dan Sunnah Rasul-Nya; thariqah ssunniyyah, karena membawa jiwa untuk beramal dengan sunnah yang suci, khususnya dalam masalh akidah dan ibadah, semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan mereka; haqiqah shufiyyah, karena memahami bahwa asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinuitas amal, berpaling dari ketergantungan kepada makhluk, cinta pada Allah dan keterikatan kepada kebaikan; lembaga politik (hai'ah siyasiyah) karena menuntut perbaikan dari dalam terhadap hukum pemerintahan, meluruskan persepsi yang terkait hubungan uamt Islam terhadap bangsa-bangsa lain di luar negeri, mendidik bangsa agar memiliki semangan, dan menjaga identitasnya; klub olahraga (jama'ah riyadhiyah) karena sangat memperhatikan masalah fisik fan memahami benar bahwa seorang mukmin yang kuat lebih baik dari pada seorang mukmin yagn lemah; lembaga ilmiah dan kebudayaan (rabithah 'ilmiyah tsaqafiyah) karena Islam menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah; perserikatan ekonomi (syirkah iqtishadiyah) karena Islam sangat memperhatikan pemerolehan harta dan pndistribusiannya; dan pemikiran sosial (fikrah ijtima'iyah) karena sangat menaruh perhatian pada segala penyakit yang ada dalam masyarakat dan berusaha mengikis dan mengobatinya.
Selanjutnya Hasan Al-Bannaa menegaskan bahwa cirri gerakan Ikhwan adalah:
1. Jauh dari sumber pertentangan (khilafiyah)
2. Jauh dari pengaruh riya dan kesombongan
3. Jauh dari fanatisme partai politik dan lembaga-lemabga politik
4. Memperhatikan kaderisasi (takwin dan bertahap (tadarruj) dalam melangkah
5. Lebih mengutamakan aspek amaliyah produktif daipada propaganda dan reklame.
6. Memberi perhatian sangat serius kepada para pemuda.
7. Cepat tersebar di kampung-kampung dan di kota-kota.
Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah organisasi Islam berlandaskan ajaran Islam. Ia merupakan salah satu jamaah dari beberapa jamaah yang ada pada umat Islam, yang memandang bahwa Islam adalah dien yang universal dan menyeluruh, bukan hanya sekedar agama yang mengurusi ibadah ritual (shalat, puasa, haji, zakat, dll) saja. Tujuan Ikhwanul Muslimin adalah mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam. Ikhwanul Muslimin menolak segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat.
Dalam perpolitikan di berbagai negara, Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam proses demokrasi sebagai sarana perjuangannya, sebagaimana kelompok-kelompok lain yang mengakui demokrasi. Contoh utamanya adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir yang mengikuti proses pemilu di negara tersebut
Selain itu Hasan Al-Banna menyebutkan karakteristik Ikhwan sebagai berikut:
1. Gerakan Ikhwan adalah gerakan Rabbaniyyah (ketuhanan). Sebab, asas yang menjadi poros sasarannya ialah mendekatkan manusia kepada Rabbnya.
2. Gerakan Ikhwan bersifat alamiyah (internasional). Sebab, arah gerakan ditujukan kepada semua umat manusia. Semua manusia pada dasarnya bersaudara. Asalnya satu, nenek moyangnya satu dan nasbnya satu. Hanya taqwa yagn menentuakn sesorang itu lebih dari yang lain. Dari ketaqwaannya akan terefleksikan pada kebaikan dan keutamaannya yang utuh dan menyeluruh yang ia berikan kepada orang lain. Tidak ada perbedaan suku, agama dan ras (SARA) dalam Ikhwan.
3. Gerakan Ikhwan bersifat Islami. Sebab, orientasi dan nisbatnya hanya kepada Islam sebagai rahmatan lil'âlamîn.
Selain itu Hasn Al-Banna menetapkan tingkatan amal yang merupakan konsekuensi logis setiap anggota, yaitu:
1. Memperbaiki diri, sehingga menjadi pribadi yang kuat fisik, teguh dalam berakhlak, luas dal mberfikir, mampu mencari nafkah mandiri, lurus berakidah dan benar dalam beribadah.
2. Membentuk rumah tangga Islami. Sehingga keluarganya menjadi pendukung fikrah, menghormatinya dan memelihara tatakrama Islam dalam segala aspek kehidupan rumah tangganya sehari-hari.
3. Memotivasi masyarakat untuk menyebarkan kebaikan, memrangi kemungkaran dan kerusakan.
4.Memerdekakan Negara dengan membersihkan rakyatnya dari berbagai bentuk kekuasaan asing yang tidak sejalan dengan ajaran Islam di bidang politik ataupun mental spiritual.
5. Memperbaiki pemerintahan sehinga benar-benar menjadi pemerintahan yang Islami.
6. Mengembalikan eksistensi Negara-negara Islam dengan memerdekakan negerinya dan menghidupkan kembali keagungannya.
7. Menjadi guru dunia dengan menyebarkan Isalam ke tengah-tengah umat manusia, sehingga tidak ada fitnah lagi dan Dien benar-benar hanya milik Allah.
"Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan Nur (dien)Nya."
Tentang tahapan dakwah, Hsan Al-Banna membaginya menjadi tiga tahap:
Tahap pengenalan
Tahap pembentukan
Tahap pelaksanaan.
D. Ikhwanul Muslimin di Indonesia
Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, Agus Salim pergi ke Mesir dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, Agus Salim menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia.
Ikhwanul Muslimin memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, negara Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, setelah dijajah oleh Belanda. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.
Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah Muhammad Natsir mendirikan partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, yaitu Partai Masyumi.
Partai Masyumi kemudian dibredel oleh Soekarno dan dilarang keberadaannya. Kemudian pada Pemilu tahun 1999 berdiri partai yang menggunakan nama Masyumi, yaitu Partai Masyumi Baru dan Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (PPII Masyumi)[23]. Selain itu berdiri juga Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan (PK) yang sebelumnya banyak dikenal dengan jamaah atau kelompok Tarbiyah. PBB mendeklarasikan partainya sebagai keluarga besar pendukung Masyumi[24]. Sedangkan menurut Yusuf Qaradhawi, Partai Keadilan (kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera atau PKS) merupakan perpanjangan tangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir yang mewadahi komunitas terbaik kalangan muda intelektual yang sadar akan agama, negeri, dunia, dan zamannya Namun tulisan ulama yang kini bermukim di Qatar itu belum pernah mendapat konfirmasi dari para pengurus DPP PKS. Jika dilihat dari Piagam Deklarasi PKS dan AD/ART PKS, PKS tidak pernah menyebutkan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin.
Selain partai-partai di atas, ada juga ormas Islam di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin ini, paling tidak itu terlihat dari nama ormas tersebut. Ormas yang dimaksud, antara lain adalah Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) yang berafiliasi ke PPP, dan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI). Parmusi saat ini diketuai oleh Bachtiar Chamsyah. Sedangkan IMI yang dideklarasikan di Depok pada tahun 2001, diketuai oleh Habib Husein Al Habsyi
Lalu pada Pemilu tahun 2004, Partai Masyumi Baru dan PPII Masyumi tidak dapat mengikuti pemilu lagi karena tidak lolos electoral threshold. Partai Masyumi Baru bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PBB masih dapat terus mengikuti pemilu. Sedangkan PK mengikuti Pemilu 2004 setelah berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah pemilu 2004, PBB hampir tidak bisa mengikuti pemilu 2009 karena tidak lolos electoral threshold. Pada akhirnya PBB bisa mengikuti pemilu 2009 sebagaimana PKS dan PPP yang masih dapat terus mengikuti pemilu 2009 karena lolos electoral threshold.
Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Jika diringkas, organisasi di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin antara lain:
Partai Masyumi
Persaudaraan Muslimin Indonesia
Partai Masyumi Baru (1998)
Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (1998)
Partai Bulan Bintang (1998)
Partai Keadilan (1998)
Ikhwanul Muslimin Indonesia (2001)
Partai Keadilan Sejahtera (2002)
E. Akar Pemikiran dan Sifat Ideologi
Al-Ikhwan al-Muslimun telah mengadopsi dakwah dari berbaga sumber yang menjadi gerakan dakwaknya. Ia tidak hanya menekankan kepada pentingnya pembersihan jiwa (manajemen qalbu) tetapi juga merujuk pada dalil-dalil yang shahih serta selalu melakukan perbaikan aqidah dan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Al-Sunnah dan membersihkan dari segala bentuk kemusyrikan untuk mencapai kesempurnaan tauhid.
Dakwah Ikhwan banyak dipengaruhi gerakan dakwah yang dibawa oleh geneasi salafus shalih. Pendirinya tetap terbuka dengan perkembangan zaman dadn menggabungkan kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya. Pada umumnya dakwah tersebut mengambil metode-metode dakwah yang dibawa Rasulullah Saw. dan para sahabat yang melandasi gerakan dakwah ini.
Hasan Al-Banna merangkum semua pemahaman tersebut dalam dakwah. Ditambah dengan konsepsi-konsepsi yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan lingkungan. Sehingga dakwahnya mampu menghadapi berbagai arus yang melanda Mesir dan kawasan lain.
F. Pemikiran Teologi Ikhwanul Muslimin
Manhaj akidah Al-Ikhwan adalah manhaj salafi murni tanpa kesamaran sedikitpun. Ini jelas terlihat melalui pernyataan Hasan Al-Banna bahwa setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan kecuali Rasulullah Saw. yang ma'shum (terlindung dari kesalahan). Dan semua yang datang dari para salaf bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah maka diterima. Namun bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah sangat diutamakan untuk diikuti. Namun Ikhwanul Muslimin tidak akan melontarkan tuduhan dan kritikan terhadap pribadi atau golongan yang berselisih dalam hal ini.
Dalam hal ini, Al-Banna memberi catatan bahwa tidak ada 'ishmah menurut ahlu haq kecuali Al-Qur'an dan Sunnah. Karenanya kesalahan yang terjadi selain dari keduanya adalah masalah yang mungkin terjadi. Selanjutnya, pendapat yang dilontarkan oleh seseorang, setelah Allah dan Rasul-Nya, dapat diambil atau ditolak. Termasuk dalam hal ini pendapat para salaf dan para imam. Ikhwan menolak setiap perkatan yang berlawnan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, siapa pun yang mengatakannya. Hasan Al-Banna dalam prinsip ke Sembilan menyatakan bahwa seitap masalah yang tidak didasari dengan amal perbuatan, maka mendalami masalah tersebut termasuk takalluf (memberat-beratkan) yang dilarang oleh syari'at. Termasuk mendalami masalah-masalah cabang (far'iyat) terhadap ketentuan hukum yang belum terjadi.
Ada beberapa masalah termasuk bab akidah yang kita tidak diperintahkan untuk membahasnya. Ada masalah yang termasuk bab fiqih dan kita atau kaum muslimin tidak memerlukannya. Ada pula masalah yang tidak termasuk bab akhlak, tidak disebutkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, serta bukan merupakn sesuatu keharusan dalam urusan dunia dan diri. Waktu kita tidak perlu disibukkan terhadap masalah-masalah seperti ini. Karena hal tersebut tidak lain hanya melelahkan jiwa dan akal, serta menyia-nyiakan waktu tanpa manfaat. Bahkan bias jadi, termasuk dalam akhlak tercela dari akhlak mutafashihin (berlebihan dalam kefasihan), mutaqarri'in (berlebihan dalam membaca), mutafaqqihin (berlebihan dalam pemahaman fiqih), semuanya yang termasuk takalluf yang dilarang oleh syari'at. Allah Swt. berfirman, "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada."
Untuk lebih menjelaskan manhaj Ikhwan dalam hal ini, harus disebutkan dulu sebagian rincian masalah dalam manhaj fiqih.
Langganan:
Postingan (Atom)