Kamis, 30 Desember 2010

kumpulan makalah filasafat ilmu

01. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

A. Pengertian
Harun Nasution berpendapat bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa arab . filsafat ialah study tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijaarkan dalam konsep mendalam.
B. Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu ialah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
C. Sejarah timbulnya Filsafat
Pada saat kita mempelajari filsafat melalui sejarah filsafat, berarti bahwa dengan dasar kategori waktu, kita mempermasalahkan segala hal mengenai pemikiran kronologi scara kronologis. Sampai saat ini, kita belum dapat mengetahui kapan sebenarnya filsafat mulai muncul. Pada 60.000 tahun yang lalu atau abad ke-600 SM, ditemukan daerah-daerah suber filsafat yang hingga saat ini telah diketahui manusia. Pikiran-pikiran sebelumnya disebut sebagai masa pra-filsafat atau pra-nalar. Prakiraan para ahli mengenai hal tersebut bahwa pada 600 SM itu telah terjadi perubahan besar dalam perkembangan pemikiran dan budaya manusia.
D. Tujuan Filsafat ilmu
Tujuan filsafat ilmu ialah mendalami unsure-unsur pokok ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
E. Cakupan dan Permasalahan Filsafat ilmu
Enam problem permasalahan mendasar 1. Problem-problem epistimologi tentang ilmu, 2. Metafisis dalam ilmu 3. Metodologis ilmu, 4. Logis tentang ilmu, 5. Etis tentang ilmu, 6. Estetis dalam ilmu
F. Objek study dan metode Filafat
Objek material ilmu ialah ilmu dan objek formal filsafat ilmu ialah ilmu atas dasar tinjauan filosofis.
G. Hubungan Filsafat dengan ilmu
Interaksi ilmu dan filsafat emngandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak akan berkembang dengan baik jika terpisah dengan ilmu.


02. Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu

a. Perkembangan Ilmu Pada Zaman Yunani
Peride filsafat yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi.
Pada zaman yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah filsafat, yaitu :
1. Masa awal
Masa awal filsafat yunani kuno ditandai oleh tercatatnya tiga nama filsuf yang berasal dari daerah Miletos, yaitu Thales, Anaximandros, dan Anaximenes.
Filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM). Ia digelari bapak filsafat karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan, “Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?” Pertanyaan ini sangat mendasar, terlepas apapun jawabannya. Namun ang terpenting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Ia mengatakan asal usul alam adalah air karena air unsur penting bagi setiap makhlik hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda padat, seperti es, dan bumi ini juga berda di atas air.*
Setelah Thales, muncul Anaximandros (610-540 SM) Anaximadros mencoba menjelaskan bahwa subtabsi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Dia tidak setuju unsure utama alam adalah salah satu dari unsure-unsur yang ada seperti air dan tanah. Unsur utama alam harus yang mencakup segalanya dan di atas segalanya, yang dinamakan apeiron. Ia adalah air, maka air harus meliputi segalanya termasuk api yang merupakan lawannya. Padahal tidak mungkin air menyingkirkan anasir api. Krena itu Anaximandros tidak puas denganmenunjukan salah satu anasir sebagai prinsip alam, tetapi dia mencari yang lebih dalam yaitu zat yang tidak dapat diamati oleh panca indera. *
2. Masa Keemasan
Salah satu tokoh pada masa keemasan adalah Socrates, Ia berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adlah pengujian diri sendiri Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri. Semboyan yang paling digemarinya adalah apa yang tertera pada Kuil Delphi, yaitu: “Kenalilah dirimu sendiri”.
Puncak kejayaan filsafat yunani terjadi pada masa Aristoteles. Ia adalah murid Plato. Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika, dan fisika, dan yang praktis mencakup etika, ekonomi dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristotelas juga dianggap Bapak Ilmu karena dia mam pu meletakan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
3. Masa Helenitas dan Romawi
Adalah suatu masa yang tidak dapat dilepaskan dari peranan raja Alexander Agung. Raja ini telah mampu mendirikan Negara besar yang tidak sekadar meliputi seluruh Yunani, tetapi di daerah-daerah sebelah Timurnya. Kebudayaan Yunani menjadi kebudayaan Supranasional. Kebudayaan Yunani ini disebut Kebudayaan Helenitas. Dalam bidang kebudayaan, selain akdemia lykeion dibuka juga sekolah-sekolah baru yang menjadi tekanan pembelajarannya adalah masalah etika, yaitu bagaimana sebaiknya orang mengatur tingah lakunya agar dapat bahagia dalam kehidupan bersama.
Setelah Masa Helenitas atau tepatnya pada ujung zaman Helenisme yaitu pada ujung sebelum Masehi menjelang Neo Platonisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.
b. Perkembangan Filsafat Ilmu Zaman Islam
1. Penyampaian ilmu dan filsafat yunani ke dunia islam
Dalam perjalanan ilmu dan juga filsafat di dunia islam, pada dasarnya terdapat upaya rekonsiliasi, dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda, bahan sering kali ekstrim antara pandangan filsafat Yunani seperti fisafat Plato dan Aristoteles, dengan pandangan keagamaan dalam islam yang sering kali menimbulkan benturan-benturan. Sebagai contoh konkret dapat disebutkan bahwa Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh yang besar pada madzhab-madzhab islam, khususnya madzhab alektisisme.
Al-Farabi dalam hal ini memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filasafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Bahkan bisa dikatakan para filosof muslim mulai dari Al-Kindi sampai Ibn Rusyd terlibat dalam upaya rekonsiliasi tersebut, dengan cara mengemukakan pandangan-pandangan yang relative baru dan menarik. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya kedalam studi-studi keislaman lainnya, dan tidak diragkan lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof muslim ini menghasilkan afinitas dan ikatan yang kuat antara filsafat arab dan filsafat Yunani.
2. Perkembangan ilmu pada masa islam klasik
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa pentingnya ilmu pengetahuan sangat ditekankan oleh islam sejak awal, mulai Masa Nabi sampai dengan Khulafaur Rasyidin, pertumbuhan dan perkembangan ilmu berjalan dengan cepat sesuai tantangan zaman.
Tahab penting berikutnya dalam proses perkembangan dan tradisi keilmuan islam ialah masuknya unsure-unsur dari luar ke dalam islam, khususnya unsure-unsur Budaya Perso Semitik dan budaya Helenisme, yang disebut belakangan mempunyai mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran islam ibarat pisau bermata dua. Satu sisi mendukung Jabariyah (antara lain oleh Jahm Ibn Abu Sofyan), sedang di sisi lain mendukung Qadariyah (antara lain Washil Ibn Atha’, tokoh dan pendiri Mu’tazilah). Dari adanya pandangan yang dikotomis antara keduanya kemudian muncul usaha menengahi dengan menggunakan argument-argumen Hellenisme, terutama filsafat Aristoteles.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik sebuah hipotesis sementara bahwa pada awal islam pengaruh Hellenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan Islam sudah sedemikian kental, sehingga pada saat selanjutnya pengaruh itupun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
3. Perkembangan filsafat ilmu pada masa kejayaan islam
Pada masa kejayaan kekuasaan islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Ilmu berkembang sangat maju dan pesat. Kemajuan ini membawa islam pad masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh diluar kekuasaan Islam masih berada pada masa kegelapan peradaban. Dalam sejarah Islam kita mengenal nama-nama seperti Al-Mansur, Al-Ma’mun, dn Harun Al-Rasyid yang memberikan perhatian amat besar bagi perkembangan ilmu di dunia Islam.
4. Masa Keruntuhan ilmu dalam islam
Abad ke-18 dalam sejarah islam adalah abad yang paling menyedihkan bagi umat islam dan memperoleh catatan buruk bagi peradaban islam secara universal. Seperti yang diungkapkan oleh Lothrop Stoddard bahwa menjelang abad ke-18, dunia islam tlah merosot ke tingkat yang terendah.
Pernyataan Stoddard di atas menggambarkan begitu dahsyatnya proses kejatuhan peradaban dan tradisi keilmuan islam yang kemudian menjadikan umat Islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa-bangsa Barat. Salah satu sebab runtuhnya bangunan tradisi keilmuan islam yaitu:
Dalam bukunya, The Reconstruction of Religious Thoughtin Islam Iqbal menyatakan bahwa salah satu penyebab utama kematian semangat ilmiah di kalangan umat islam adalah diterimanya paham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa islam adalah dinamis dan berkembang. Ia selanjutnya mengungkapkan bahwa semua aliran pemikiran Muslim bertemu dalam suatu teori Ibn Maskawaih mengenai kehidupan sebagai suatu gerak evolusi dan pandangan Ibn Khaldun mengenai sejarah.
c. Kemajuan Ilmu Zaman Renaisans dan Modern
1. Masa renaisans
Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Pada zaman ini manusia Barat mulai berpikir secara baru, dan scara berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan Ilmu. Pemikir yang dapat dikemukakan pada tulisan ini antara lain Nicholas Copernicus dan Francis Bacon.
Copernicus adalah seorang tokoh gereja ortodoks, ia menemukan bahwa matahari berada pada pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut Heliosentrisme, dimana matahari adalah pusat jagad raya.Sedangkan teori yang mempertahankan bumi sebagai pusad jagad raya disebut Geosentrisme. *
2. Zaman modern
Tokoh dalam zaman modern ini adalah Isaac Newton (1643-1727). Newton, sekalipun ia menjadi pimpinan sebuah tempat pembuatan uang logam di kerajaan Inggris, Ia tetap menekuni dalam bidang Ilmu. Lahirnya teori gravitasi, perhitungan calculus dan optika merupakan karya besar Newton. Teori gravitasi Newton dimulai ketika muncul persangkaan penyebab planet tidak mengikuti pergerakan lintas lurus, apakah matahari yang menarik bumi dan matahari ada gaya saling tarik menarik.
Persangkaan tersebut kemudian dijadikan Newton sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan. Namun hasil perhitungan itu tidak memuaskan Newton, semua persangkaan dan perhitungan lalu ditangguhkan. Pada masa sesudah Newton, perkembangan ilmu selanjutnya adalah berupa ilmu kimia. Jika pada masa Newton ilmu yang berkembang adalah matematika, fisika, dan astronomi. Pada periode selanjutnya ilmu kmia menjadi kajian yang amat menarik. Ilmu kimia tidak mulai dengan logika, aksioma, ataupun deduksi. Semua permulaan ilmu kimia praktis berdasarkan percobaan-percobaan yang hasilnya kemudian ditafsirkan..
3. Ilmu yang berbasis Rasionalisme dan Empirisisme
Berkat pengamatan yang sistematis dan kritis, kaum rasionalis mengembangkan paham Rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat khusus. Penalaran kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut Sillogisme. Sillogisme itu terdiri atas dua pertanyaan dan sebuah kesimpulan. Kedua pertanyaan disebut Premis Mayor atau Premis Minor. Kesimpulan diperoleh dari penalaran deduktif dari kedua premis itu.
Namun pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata memiliki kelemahan, maka munculah pandangan lainyang berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkannya disebut Empirisme. Penganut Empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, aluminium, dan tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanasi akan bertambah panjang.
4. Perkembangan filsafat pada zaman modern
Pada zaman modern filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak keseluruhan filsafat modern itu mengambil warna pemikiran filsafat sufisme Yunani, sedikit pengecualian pada Kant. Paham-paham yang muncul dalam garis besarnya adalah Rasionalisme, Idealisme, dan Empirisme. Dan paham-paham yang merupakan pecahan aliran itu. Paham Rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung Rasionalisme ini yaitu: Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
d. Kemajuan Ilmu Zaman Kontemporer
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Hal yang membedakan pengamatan tentang ilmu di zaman modern dengan ilmu di zaman kontempporer bahwa zaman modern adalah era perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan zaman kontemporer memfokuskan sorotannya pada berbagai perkembangan terakhir yang terjadi hingga saat sekarang.

03. DASAR-DASAR PENGETAHUAN DAN KRITERIA KEBENARAN ILMU

A. Pengertian Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Phisolophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar.
Sedangkan secara terminology, menurut Drs. Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam pristiwa ini yang mengetahui (subjek) mmemiliki yang diketahui (objek) didalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
B. Jenis-jenis Pengetahuan
Burhanuddin Salam mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat, yaitu:
1. Pengetahuan biasa
Yaitu pengetahuan yang dalam filsafat disebut dengan istilah common sense. Dengan common sense semua orang sampai dengan keyakinan secara umum tentang sesuatu, dimana mereka akan berpendapat sama semuanya.
2. Pengetahuan ilmu
Yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. yaitu suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
3. Pengetahuan filsafat
Yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif.
4. Pengetahuan agama
Yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan oleh para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh pemeluk agama.
C. Dasar-dasar Pengetahuan
1. Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan., meskipun seperti dikatakan Pascal, hati pun mempunyai logika tersendiri.
Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir menyadarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
2. Logika
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap shahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan menurut cara tertentu. Cara penarikan kesimpulan ini disebut dengan logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”.
3. Sumber Pengetahuan
Pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar:
• Mendasarkan diri kepada rasio
• Mendasarkan diri kepada pengalaman
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip itu sendiri sudah ada jauh sebelum manusia memikirkannya. Paham dikenal dengan nama idealisme. Fungsi pikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut lalu menjadi pengetahuannya. Prinsip itu sudah ada dan bersifat apriori serta dapat diketahui oleh manusia lewat kemampuan berpikir rasionalnya.
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indra manusia. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap oleh panca indra.
Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahui adalah intuisi dan wahyu.
D. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara mendapatkan pengetahuan yang benara atau disebut dengan epistemology, yaitu dengan:
1. Jarum sejarah pengetahuan
Dengan berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada pembedan. Mulailah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur ke masyarakatn. pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
Salah satu cabang pengetahuan itu yang berkembang menurut jalannya sendiri adalah ilmu yang berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya terutama dalam segi metodenya. Metode keilmuan adalah jelas sangat berbeda dengan ngelmu yang merupakan pradigma dari abad pertengahan. demikian juga ilmu dapat dibedakan dari apa yang ditelahnya serta untuk apa ilmu itu digunakan.
2. Pengetahuan
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui ternatang suatu objek tertentu, termasuk kedalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia, disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan.
3. Metode ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
Metodelogi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut, jadi metode ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. metode ini secara filsafati termasuk dalam epistemology.
Secara rasional maka ilmu menyusun pengetahuan secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dengan yang tidak.
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur engan akal pula. Dicari dengan akal ialah dicari cengan berfikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak. Bila logis, benar, bila tidak, salah. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dengan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal.
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
• Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam maupun tentang manusia.
• Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilimiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan
• Ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.
4. Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah atau ilmu.
Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada.
Pola berpikir yang dikembangkan dalam metode ilmiah memperlihatkan dengan jelas peran penting empirisme yang menekankan perbuatan kesimpulan secara induksi.
Empirisme berfungsi untuk menguji hasil penalaran terhadap permasalahan yang dibangun atas dasar deduksi. Penalaran yang dilakukan dengan mengkaji teori-teori dalam memahami permasalahan fakta hanya bias sampai pada perumusan hipotesis. Penalaran hanya memberi jawaban sementara, bukan kesimpulan akhir.

04. ILMU ALAM DAN ILMU PENGETAHUAN

A. Pengertian Ilmu Alam
Kata ilmu berasal dari bahasa arab (‘alama) dan berarti pengetahuan. Science berasal dari bahasa latin yang juga berarti pengetahuan. Ilmu alam adalah suatu ilmu yang objeknya benda-benda alam dengan hukumnya yang pasti dan umum.Percobaan yang mungkin ditimbulkan semuanya mempunyai tujuan untuk mencari hukum yang umum dan pasti. Oleh karena hukum yang dicari dan dirumuskan itu pasti, maka ilmu pasti pun masuk kedalam kelompok ilmu ini. Tidak mengherankan, ilmu pasti masuk kedalam ilmu alam, karena dalam ilmu pasti itu merupakan objeknya benda-benda alam juga, hanya itu dilucuti dari sifat kebendaannya kecuali jumlahnya, ruang, sudut, atau bidangnya. Keseluruhan ilmu yang hasailnya dirumuskan secara pasti (termasuk ilmu pasti) disebut juga ilmu exakta, dari kata latin exactus yang berarti pasti.
Salah satu faktor yang telah membawa ilmu-ilmu alam ke bentuknya yang sekarang adalah pokok-pokok aturan yang digunakan dalam proses pengembangannya. Sebenarnya memang tidak ada perjanjian tertulis yang membatasi lingkup kerja serta pola para pengembang ilmu-ilmu alam, akan tetapi dalam sejarahnya yang cukup panjang rupanya telah tumbuh saling pengertian dan kesepakatan yang hidup dan dihayati oleh masyarakat pengembang ilmu-ilmu alam. adapun pokok-pokok aturan itu adalah:
1. Pengamatan Berulang
Ilmu-ilmu alam membatasi diri dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Tentu saja kata pengamatan yang dimaksud di sini lebih luas dari pada hasil interaksi langsung dengan panca indra kita, yang lingkup kemampuannya memang sangat terbatas. Banyak gejala alam yang hanya teramati dengan pertolongan alat bantu, misalnya gelombang radio. Tuntutan lebih lanjut bagi gejala alam yang lazim dibahas dalm ilmu-ilmu alam adalah bahwa pengamatan gejala itu dapat diulangi oleh orang lain (reproducible). Jadi jika seseorang ingin menyatakan bahwa ia mendapatkan suatu gejala alam baru yang belum terdaftar dalam pembendaharaan ilmu-ilmu alam maka ia perlu memberi tahukan semua informasi tentang lingkungan, peralatan serta cara pengamatan yang digunakan, sehingga memungkinkan orang lain mengamati kembali jika keadaan mengizinkan. Jadi suatu gejala alam baru akan terdaftar dalam perbendaharaan ilmu-ilmu alam (dalam arti dikenal masyarakat pengembang ilmu-ilmu alam) setelah melalui ujian berulang kali sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenaranya.

2. Jalinan antara teori dengan pengamatan
Ilmu-ilmu alam bukan hanya kumpulan lukisan gejala alam, ada semacam keyakinan bahwa masing-masing gejala alam itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam suatu pola sebab akibat yang dapat dipahami dengan penalaran yang seksama. Ini menjadi tugas teori dari ilmu-ilmu alam. Jika diteliti, sekelompok gejala dapat dirangkum dalam suatu wadah yang meletakkan masing-masing gejala itu pada jalur-jalur yang berkaitan menurut penalaran yang serasi dari aturan sebab akibat yang akan dinamakan Hukum Alam. Adakalanya gejala-gejala alam masih berupa bahan mentah, jauh dari siap untuk dirangkaikan dalam suatu teori. Untuk itu perlu dikembangakan konsep-konsep baru sebagai penolong. Konsep-konsep tersebut meskipun kadang-kadang sangat abstrak (dan memakai nama yang mentereng) namun harus tetap murni artinya ada pengamatan atau pengukuran yang sanggup memberi informasi tentang nilai konsep tersebut.
3. Kemampuan meramalkan gejala yang lain
Ilmu yang hanya sanggup mengumpulkan informasi dan merangkaikannya akan berupa ilmu yang pasif. Memang, dengan mengumpulkam gejala-gejala alam serta meyusunnnya dalam pola sebab akibat yang serasi kita sudah dapat merasa senang, sebab sudah memahami apa yang terjadi di alam ini. Lebih dari itu, jika pola susunan rangkaian gejala itu sangat rapi maka kita dapat menikmati keindahan alam dalam kerangka ilmu yang menarik. Rupanya ilmu alam belun puas dengan ilmu semacam itu dan sudah melangkah lebih jauh lagi. Ini sudah sewajarnya sebab gejala-gejala alam yang dikumpulkan tentunya akan selalu bertambah, berarti banyak yang harus digali. Maka diambil pedoman untuk menuntut suatu teori ilmu-ilmu alam agar tidak hanya sanggup merangkaikan gejala-gejala yang telah diketahui tetapi juga sanggup meramalkan gejala alam lain yang belum dikenal, sebagai konsekuensi logis dari pola penalaran yang dipergunakannya. Gejala ramalan itu pun harus dirumuskan dalam bentuk operasional sehingga memungkinkan untuk diuji dengan eksperimen. Dengan tuntutan ini dapat disaring teori yang paling menyakinkan dan sekaligus dapat dibuka cakrawala baru bagi usaha pengumpulan gejala-gejala alam seterusnya.
Ilmu dan filsafat sama0sama mencari pengetahuan yang pasti, eksak, teratur, dan tersusun. Tetapi kepastian dan keeksakan pengetauan filsafat tidak mungkin diuji seperti pengetahuan ilmu. ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta.

B. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Pengertian ilmu pengetahuan meliputi pengertian “tahu”, “mengetahui”, dan “pengetahuan”. Pertama, ilmu pengetahuan merupakan suatu keadaan sesorang. Kedua, ilmu pengetahuan merupakan kecakapan untuk mengetahui secara tersusun (sistematis). Segi kedua mencakup suatu aksi atau tindakan , dan suatu usaha. Seorang ahli dalam ilmu tertentu harus sanggup menggunakan pengertian-pengertian ilmu pengetahuan. Ia harus sanggup berpikir dan berbuat atas dasar ilmu pengetahuan tersebut. Penelitian atau riset menuntut kecakapan tersebut. Ketiga, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan tersusun, yaitu susunan dari rumusan pendapat-pendapat tertentu.
Dapat disimpulkan ilmu pengetahuan adalah usaha mencapai serta merumuskan sejumlah pendapat yang tersusun sekitar keseluruhan persoalan.

C. Klasifikasi ilmu pengetahuan
Telah kita ketahui, bahwa ilmu pengetahuan berhubungan dengan pengertian “mengetahui” yang menuntut hubungan antara subjek dan objek. Berdasarkan hal tersebut, baik pada subjek maupun objek dicari jenis hubungan di antara keduanya.
a. Klasifikasi berdasarkan subjek
Francis Bacon (1561-1626) mendasarkan klasifikasi ilmunya pada subjek, yaitu daya manusia untuk mengetahui sesuatu. Berdasrkan itu ia membedakannya sebagai berikut:
• Ilmu pengetahuan ingatan, seperti sejarah.
• Ilmu pengetahuan khayal, seperti kesusastraan, yaitu membicarakan kejadian-kejadian dalam dunia khalayal, meskipun berdasar dan untuk keperluan dunia nyata.
• Ilmu pengetahuan akal, seperti filsafat.

b. Klasifikasi berdasarkan objek
Auguste Comte (1798-1836) mendasarkan klasifikasinya pada objek material. Ia membuat deretan ilmu pengetahuan berdasarkan perbedaan objek material, yaitu:
• Ilmu pasti/matematika
• Ilmu falak/astronomi
• Ilmu fisika
• Ilmu kimia
• Ilmu hayat/biologi dan
• Sosiologi

c. Klasifikasi berdasarkan metode
Wilhelm Windelband (1848-1915) membeda-bedakan ilmu pengetahuan alam (naturwissenschaf) dan ilmu sejarah (geschichtswissenschaft). Menurut dia, kedua jenis ilmu pengetahuan itu tidak ada bedanya dalam hal objek karena objeknya satu, yaitu kenyataan. Adapun perbedaannya terletak pada metode. Metode untuk naturwissenschaf disebut nomotetis, sedangkan metode geschichtswissenschaft menggunakan metode ideologis. Nomotetis berhubungan dengan nomos atau norma yang menunjuk adanya usaha untuk membuat hal umu atau generalisasi. Dengan kata lain, metode nomotetis mencari sesuatu yang bersifat umum (generalisasi) yang dapat diulangi dalam eksperimen sehingga dapat diramalkan.

D. Perbedaan antara ilmu dan sains
Ilmu sebuah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia. Dan juga Kata ilmu terambil dari kata al-ilm dalam bahasa Arab. Kata al-ilm maknanya adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakekatnya. Al-ilm tergolong suatu pengetahuan. Ia merupakan pengetahuan yang benar, baik benar dalam arti sesuai sebagaimana “ada”-nya. Maka dari itu Ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang suatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau fenomena, yang diperoleh manusia dari proses berpikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dalam ilmu terkait. Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah sederhana.
Sedangkan berdasarkan webster new collegiate dictionary definisi dari sains adalah “pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian” atau “pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam .
Kata dasar yang diambil dari kata scientia yang berarti knowledge (ilmu). Tetapi, tidak semua ilmu itu boleh dianggap sains. Yang dimaksud ilmu sains adalah: Ilmu yang dapat diuji (hasil dari pengamatan sesungguhnya) kebenarannya dan dikembangkan secara sistematis dengan kaidah-kaidah tertentu berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata sehingga pengetahuan yang ditemukan tersebut boleh dipercayai, melalui eksperimen secara tepat.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, sains adalah ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya, berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata (misalnya : fisika, kimia, biologi).
E. Dasar-dasar pengetahuan
1. Pengalaman (Empirismus), yaitu sumber pengetahuan itu berdasarkan pengamatan pancaindra / pengalaman, mereka iulah kaum Empiris. (antara lain Locke, Berkeley, Hume, kaum positivis.
2. Rasionalismus, yaitu pengetahuan terjadi karena bahan pemberian pancaindra dan batin diolah oleh akal, dan bahwa mungkinlah pula adanya pengetahuan yang semata-mata berdasarkan akal, misalnya dalam ilmu pasti atau logika.(kebanyakan ahli pemikir abad pertengahan, seperti agustinus, Joh Scotus, Avicenna, discartes, Plato, Galilei, Da Vinci.
05. EPISTIMOLOGI

A. Pengertian Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia mencapai realitas sebagaimana adanya. Meraka mengnadaikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa diantara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu. Misalnya , Herakleitus menekankan penggunaan indra, Permanides menekankan akal. Meskipun demikian, tak seorangpun diantara mereka yang meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan (raelitas).
Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indra dan lainya mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan diantaranya adalah:
1. Metode Induktif : Suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu penyataan yang lebih umum.
2. Metode Deduktif : Suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem yang runtut.
3. Metode Positivisisme : Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui , yang faktual, dan positif. Ia mengenyampingkan segala persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia ada tiga yaitu, teologis, metafisis, dan positif. Pada tahap teologis, orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyaan kehendak khusus. Pada tahap metafisik, kekuatan adikodrati itu di ubah menjadi kekuatan abstrak, yang kemudian dipersatukan dalam pengertian yang bersifat umum yang disebut alam dan dipandangnya sebagai asal dari segala gejala. Pada tahap positif,, usaha pengenalan yang mutlak, baik pengetahuan teologis ataupun metafisis dipandang tak berguna.
Positifisme adalah kelanjutan dari empirisme. Kalau empirisme menitikberatkan pada pengalaman saja dan merendahkan fungsi akal, sedangkan positivism menggabungkan keduanya. Bagi positifisme, pengalaman perlu untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin agar akal mendapatkan suatu hokum yang bersifat universal.
4. Metode Kontemplatif : Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk mencapai pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang di dapat melalui intuisi bisa diperoleh dengan cara berkomtemplasi seperti yang dilakukan oleh al-Ghazali. Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifah . Al-Ghazali menerangkan bahwa pengetahuan intuisi atau ma’rifah yang disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar. Pengetahuam yang diperoleh intuisi ini hanya bersifat individual.
5. Metode Dialektis : metode ini disebut juga dengan metode tanya jawab yang diajarkan oleh Sokrates. Tanya jawab yang dilakukan secara meningkat dan mendalam akan melahirkan pikiran yang kritis. Maka dari itu Sokrates mencari kebenaran dengan tanya jawab untuk mencapai kejerinihan filsafat.
B. Hakikat Ilmu
 Moh. Nazir, Ph.D(1983:9) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik sesuai kaidah umum.
 Ahmad Tafsir (1992:5) memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris.
 Sikun Pribadi (1972:1-2) mengemukakan, Objek ilmu pengetahuan adalah dunia fenomena, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum logika yang tertib. data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditntukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu system tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integrative itu kita sebut Ilmu Pengetahuan.
 Lorens Bagus (1996:307-308) mengemukakan bahwa ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (atau alam objek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis.
C. Karakteristik Ilmu
Randall dan Buchler mengemukakan beberapa ciri umum ilmu, yaitu:
 Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama
 Hasil ilmu kebenaannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
 Objek tidak bergantung pada pemahaman pribadi.
Pendapat senada diajukan Ralp Ross dan Enerst Van den Haag bahwa ilmu pengetahuan memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum dan akumulatif (Uyoh Sadulloh,1994:44). Sementara dari apa yang dikemukakan oleh Lorenz Bagus (1996-307-308) tentang pengertian Ilmu dapat diidentifikasi bahwa salah satu sifat ilmu adalah koheren yakni tidak kontradiktif dengan kenyataan.
Sementara itu, Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut:
1. Obyektif: ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif.
2. Koheren: pernyataan/ susunan ilmu tidak kontradiktif dengan kenyataan
3. Reliable: produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi
4. Valid: produk dan cara-cara ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi.
5. memiliki generalisasi: suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum.
6. Akurat: penarikan kesimpulam memiliki keakuratan yang tinggi.
7. Dapat melakukan prediksi: ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
D. Fungsi Filsafat Ilmu dalam Merealisasikan Masalah Pendidikan
Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Dengan demikian, filsafat ilmu sangatlah penting peranannya bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Tentu saja, filsafat ilmu sangat bermanfaat bagi manusia untuk menjalani berbagai aspek kehidupan.
Dalam Filsafat Ilmu Pendidikan membahas mengenai struktur ilmu dan kegunan ilmu bagi kepentingan praktis dan pengetahuan tentang kenyataan. Objek dalam filsafat Ilmu Pendidikan dapat dibedakan dalam 4 (empat) macam, yaitu:
• Ontology Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi pendidikan.
• Epistemologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat objek formal dan material ilmu pendidikan.
• Metodologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pengetahuan
• Aksiologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentng hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan.

06. AKSIOLOGI

A. Pengertian-pengertian
a. Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.
Sedangkan aksiologi menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian, yaitu: pertama, tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio politik.
b. Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa arab (a’lama) yang berarti pengetahuan. Pemakaian kata itu dalam bahasa Indonesia, kita selaraskan dengan istilah science (inggris). Science berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata, yaitu scio dan scire yang juga berarti pengetahuan. Ilmu itu haruslah sistematis dan berdasarkan metodologi yang mengandung dari tiga kategori yaitu hipotesa, teori dan dalil atau hokum dan tiga kategori ini berlaku untuk ilmu eksak (pasti).
c. Nilai
Nilai adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya. Dengan demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah suka atau tidak suka.dan nilai itu objektif, apabila ia tidak tergantung ada subjek atau kesadaran yang menilai.
Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektifisme. Objektifisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada.
d. Akhlak
Menurut al-Ghozali akhlak adalah “suatu ifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak membutuhkan pikiran ”. Akhlak merupakan seperangkat tata nilai keagamaan yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu mempertanyakan dan mengunyah secara kritis terlebih dahulu.
e. Etika, Moral dan Etika Moral
Etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal atau perbuatan-perbuatan.
Moral (adat, istiadat, kebiasaan, tingkah laku, kelakuan) latin “moris” (adat, istiadat, watak, akhlak cara hidup). Jadi moral adalah suatu aturan atau tatacara hidup yang bersifat normative yang sudah ikut serta bersanma kita seiring dengan umur yang kita jalani.
Kata etika berasal dari Yunani kuno yaitu ethikos, ethos (adat kebiasaan, praktek). Sedangkan kata moralis diperkenalkan ke dalam kosa kata filsafat oleh Cicero. Kata moralis selaras dengan kaata ethikos.
f. Teori Etika
Teori etika adalah gambaran rasional mengenai hakikat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa perbuatan dan keputusan tersebut secara moral diperintahkan dan dilarang. Oleh karena itu, penelitian etika selalu menempatkan tekanan khusus terhadap definisi konsep-konsep etis, justifikasi dan penilaian terhadap keputusan moral, sekaligus membedakan antara perbuatan dan keputusan yang baik dan buruk.
Dalam kajian etika al-Ghozali mengajarkan bahwa manusia mempunyai tujuan yang agung yaitu kebahagiaan di akhirat dan bahwa amal-amal itu baik jika ia menghasilkan pengaruh yang baik pada jiwa yang membuatnya terjurus pada tujuan tersebut dan dikatakan amal itu buruk jika menghalangi jiwa mencapai tujuan itu.
Menurut Louis terdapat tiga macam teori etika, yaitu:
1. Etika deskriptif, yaitu etika yang tugas hanya sekedar menggambarkan objek-objeknya secara cermat. Etika ini bersangkutan dengan bermacam-macam predikat serta tanggapan kesusilaan yang ada. Jadi etika deskriptif adalah gambaran objek etis secara cermat.
2. Etika mormatif, yaitu etika yang dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran atau kaidah-kaidah yang mendasari pemberian taggapan atau penilaian terhadap perbuatan-perbuatan. Jadi etika normative membicarakan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi dan memungkinkan orang untuk menetapkan apa yang bertentangan dengan apa yang seharusnya terjadi.
3. Etika praktis, yaitu bahwa etika praktis kelihatan suatu sikap yang harus diambil untuk dilaksanakan dlam menyelesaikan suatu problem berdasarkan pilihan etis, terkadang sulit menentukan pembenaran-pembenarannya karena berbedanya penilaian etis. Seperti kasus dokter dan pasien dalam menghadapi penyakit yang tidak mungkin disembuhkan secara medis.

g. Estetika
Menurut KBBI estetika adalah cabanag filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindajhan seta tanggapan manusia terhadapnya. Estetika adalah apa yang diakui sebagai obyek pemuasan darurat yang tidak berkonsep. Jadi jika dikaitkan dengan filsafat ilmu itu bahwa seseorang akan mendapat keindahan atau nilai yang baik ilmu yang ia peroleh ia gunakan dengan sebaik-baiknya.



B. Aksiologi Ilmu
Aksiologi ilmu merupakan aturan moral dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Apapun pengetahuan itu baik kesyari’atan maupun lainnya, teoritis maupun praktis, ibarat pisau bermata dua yang dapat digunakan pemiliknya untuk berlaku munafik dan berkuasa atau berbuat kebaikan dan mengabdi kepada kepentingan umat manusia. Misalnya pengetahuan atau ilmu tentang atom, dapat digunakan untuk tujuan-tujuan perdamaian dan kemanusiaan, akan tetapi dapat pula digunakan untuk menghancurkan kebudayaan manusia melalui senjata-senjata nuklir. Oleh karena itu, islam mementingkan ilmu yang bermanfaat dan memperhatikan penggunaannya bagi kepentingan individu dan masyarakat. Sebaliknya islam melarang pengetahuan yang berbahaya seperti sihir serta penggunaannya dalam hal-hal yang membahayakan manusia dan tidak bermanfaat bagi mereka.

C. Aksiologi Ilmu dalam Kerangka Sekuler maupun Agama
Persoalan moralitas dan etika sebenarnya menyangkut persoalan “cara berpikir” atau persoalan filsafat. Sedang studi filsafat, pola berpikir suatu masyarakat, kelompok beragama, suku, bangsa dan sebagainya. Tidak begitu popular di tanah air, kecuali dalam lingkungan yang amat terbatas. Ahmad Mahmud Subhi mencatat bahwa filsafat moral merupakan cabang filsafat yang paling sedikit mendapatkan perhatian dari para peneliti kebudayaan islam. Bahkan Ibnu Khaldun sendiri, ketika membuat klasifikasi ilmu pengetahuan tidak menunjukkan perhatian khusus terhadap filsafat moral.
Jika kita boleh menarik garis batas antara moral dan etika maka “moral” adalah aturan-aturan normative (dalam bahasa agama disebut akhlak) yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu yang terbatas oleh ruang dan waktu. Sedangkan “etika” adalah bidang garap filsafat. Realitas moral dalam kehidupan masyarakat yang terjenihkan lewat studi kritis (critical studies) adalah wilayah yang dibidangi oleh “etika”. Jadi, studi kritis terhadap moralitas menjadi wilayah etika, sehingga moral tidak lain adalah objek material daripada etika.
Berbeda dari etika, yakni filsafat moral maka akhlak lebih dimaksudkan sebagai suatu “paket” atau “produk jadi” yang bersifat mormatif-mengikat, yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim. Akhlak atau kadang disebut dengan tasawuf adalah seperangkat tata nilai keagamaan yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu mempertanyakan dan mengunyah secara kritis terlebih dahulu.
Dalam dunia pemikiran islam, pembahasan etika terdapat kontroversi antara berbagai faham tentang batas-batas penggunaan akal di hadapan wahyu. George F Haurani seorang pemerhati etika islam membuat klasifikasi penggunaan akal di hadapan wahyu dalam islam pada lima bagian, yaitu:
1. Wahyu dan akal bebas (independent reason) hal ini dapat dilihat dari dua sisi, yakni:
Pertama, bahwa wahyu dilengkapi dengan akal pikiran. Bahwa para ahli hukum bersandar pada al-Qur’an dan Sunnah jika mereka ingin berpedoman hidup yang jelas. Tetapi kalau dari keduanya tidak diperoleh petunjuk yang jelas, maka mereka bebas menggunakan akal pikiran.
Kedua,akal pikiran dilengkapi dengan wahyu bahwa ahli teologi Mu’tazilah berpendapat bahwa manusia yang sehat dapat mengetahui jahat atau buruk dengan akalnya. Setiap orang yang menggunakan akal sehatnya dapat mengetahui aturan-aturan tingkah laku perbuatan yang baik atau buruk, maka setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya dan dengan demikian diberi pahala atau hukuman oleh Tuhan di akhirat kelak.
2. Wahyu dilengkapi oleh akal yang tidak otonom (dependent reason), jadi wahyu sebagai pedoman hidup yang satu-satunya bagi tingkah laku. Tanpa petunjuk dari Tuhan maka manusia akan kehilngan arah dan sesat.
3. Etika hanya berdasar pada wahyu saja, dalam pendapat ini menyatakan bahwa etika yang paling konserfatif sebagaimana yang diajarkan oleh Ibnu Hambal yakni orang yang meyakini bahwa makna lahiriah dari al-Qur’an dapat dipahami secara konkret.
4. Wahyu yang diperluas dengan peran iman. Ini adalah tradisi Syi’ah, yakni yang menyatakan bahwa ada tujuh atau dua belas keturunan Ali yang dianggap tidak dapat berbuat salah dan mengembangkan tata hukum yang bersifat suci dan mirip seperti yang ada dalam lingkungan katolik.
5. Akal adalah lebih dulu dari pada wahyu, pada pendapat ini secara tegas al-farabi menandaskan bahwa filsafat dalam arti penggunaan akal pikiran secara umum dan luas adalah lebih dahulu daripada keberadaan agama baik ditinjau dari sudut waktu maupun logika.

O7. PERBEDAAN STATUS BASIC ONTOLOGI
A. Filsafat ilmu
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
B. Pengertian ontologi
Pembahasan tentang ontology sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.
Kata ontology berasal dari perkataan Yunani: on=being dan logos= logic. Jadi ontology adalah teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Louis O. Kattsoff dalam elements of Filosophy mengatakan, ontology itu mencari ultimate really. Contoh pemikiran ontology adalah Thales yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air.
Dalam rumusan Lorens Bagus Ontologi adalah menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya, sedangkan menurut Jujun S. Surya Sumantri dalam Pengantar Ilmu Dalam Perspektif mengetakan Ontologi adalah membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau suatu pengkajian mengenai teori tantang “ada”.
Menurut istilah ontology adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan Ultimate really baik yang berbentuk jasmani/kongkrit maupun rohani/abstrak.
Term Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636M. untuk menemani teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisika. Dan dikembangkan oleh cristian Wolff (1679-1754 M) membagi Metafisika menjadi dua, yaitu Metafisika umum dan Metafisika Khusus. Metafisika umum disebut juga sebagai istilah lain dari Ontologi. Dengan demikian Metafisika umu atau ontology adalah cabang dari filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan Metafisika khusus masih dibagi menjadi tiga yaitu kosmologi, psikologi, dan teologi.
C. Pokok-pokok pemikiran dalam ontology
Di dalam pemahaman ontology dapat dikemukakan pandangan-pandangan pokok pemikiran, diantaranya:
Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakekat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi maupun rohani. Istilah monoisme ditemukan oleh Thomas Davidson atau disebut dengan Blok Universe. Paham ini kemudian terbagi menjadi dua bagian, yaitu materilisme dan idealism.
Dualisme
Yaitu merupakan pandangan yang menyatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini berpandapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Tokoh paham ini adalah Descaetes (1596-1650 M)
Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosopy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa yunani kuno adalah Anaxagoras dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api dan udara. Sedangkan tokoh modern adalah William James (1842-1910 M).
Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti Nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validasi alternative yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniew.
Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat banda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnistisisme berasal dari Grick Agnostos yang berarti Unknown. A artinya Not, gno artinya know.
Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat tracendent.
D. Fungsi mempelajari Ontologi
Fungsi atau manfaat mempelajari ontology antara lain:
1. Sebagai refleksi kritis atas objek atau bidang garapan , konsep dan asumsi-asumsi ilmu
2. Dunia empiris dapat diketahui oleh manusia dengan panca indra
3. Ontology dapat membantu kita untuk merefleksikan eksestensi suatu disiplin keilmuan tertentu.
E. Hubungan Filsafat Dengan Ilmu
Istilah filsafat atau falsafah memiliki banyak arti. Menurut Socrates, filsafat merupakan cara berpikir secara radikal dan menyeluruh [holistic] atau cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.
Filsafat dalam peranya tidak bertugas menjawab pertanyaan yang muncul dalam kehidupan, namun justru mempersoalkan jawaban yang diberikan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa berfilsafat adalah berpikir radikal (hingga sampai ke-akarnya], menyeluruh dan mendasar.
Wiil Durant adalah seorang-orang yang menggambarkan filsafat sebagai pasukan marinir yang sedang merebut sebuah pantai. Setelah pantai berhasil dikuasai, pasukan infanteri dipersilahkan mendarat. Pasukan infanteri adalah merupakan, “pengetahuan “ yang diantaranya “ilmu”.
Dari realita itulah nampak bahwa ilmu berasal dari filsafat, perkembagan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu untuk memahami ilmu terlebih dahulu harus memahami filsafat.
Filsafat mendorong orang untuk mengetahui apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui.
Dinyatakan pula oleh Wiil Durant bahwa filsafat pada awalnya memiliki dua cabang, yakni :
1. filsafat alami [natural philosophy]
2. filsafat moral [moral philosophy]
Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial
F. Ilmu alam dan ilmu pengetahuan
Filsafat adalah upaya manusia didunia yang mengembara menuju akhirat yang dipelajari menurut sebab pertama (Verhaak, hal. 1-2). Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan filsafat berfungsi sebagai master scientist dan sebagai underlaborer. Sebagai master scientist filsafat sebagai dasar atau basis dalam berlangsungnya ilmu pengetahuan. Disini filsafat bertugas untuk mengkontruksikan teori-teori atau menolaknya berdasarkan pengetahuan apreori, sedangkan bagi para emperis pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengetahuan inderawi.. Apa yang dikatakan Ted Benton dalam buku “Pilosophical Foundation Of The Three Sociologis”, pada halaman 3-7, sebagaimana dirumuskan oleh Peter Winch, dalam buku The Idea Of A Social Science And Its Rerlation To Philosophy: bahwa filsafat berfungsi sebagai master scientist dan sebagai underlaborer:.
1. The Master-Scientis (Methapyshical Conception) :
Filsafat adalah landasan pemikiran ilmu dan perkembangan ilmu dan karenanya perkembangan ilmu sangat tergantung pada pemikiran filsafat..
2. The Under-Labohrer Conception
Filsafat berfungsi sebagai master scintis dan sebagai under labohrer. Sebagai master scintis filsafat sebagai dasar (basis) dalam berlangsungnya ilmu pengetahuan. Filsafat bertugas untuk mengkonstruksikan teori-teori menolaknya berdasarkan pengetahuan apriori. Ini biasanya pendapat kaum rasionalis, dimana mereka berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, dan pengetahuan itu dianggap sah apabila dihasilkan oleh para empiris, pengetahuan yang benar adalah pengetahuan pengamatan inderawi. Tugas filsafat sekedar memberikan pelayanan terhadap ilmu
Dalam kaitannya mengenai hubungan filsafat dengan pengetahuan sosial, Benton pada halaman 11-12 mengemukakan pandangannya dengan mengacu pada 2 aliran pemikiran:.yaitu Positivisme, dan Logis positivisme
Positivisme:
Suatu aliran pemikiran yang beranggapan bahwa ada satu metode dalam ilmu yaitu ilmu alam. Dengan tokoh pertamanya Augus Comte. Para positivisme yakin bahwa satu-satunya pengetahuan yang valid adalah ilmu pengetahuan (science). Dan ilmu pengetahuan yang benar adalah didasarkan pada pengalaman yang tertangkap lewat indera dan diolah oleh nalar (reason). Positivisme pada dasarnya adalah ilmu sosial yang dipinjam dari pandangan, metode dan teknik ilmu alam dalam memahami realitas. Positivisme sebagai suatu aliran filsafat berakar pada tradisi ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan dengan mengambil cara ilmu alam menguasai benda, yakni dengan kepercayaan adanya universalisme and generalisasi melalui metode determinasi, ‘Fixed Law’atau kumpulan hukum teori
Selain itu Positivisme adalah farian dari teori filosofis dari ilmu secara empiris (John Locke). Bagi kaum positivis, tidak ada problem khusus dalam hubungan filsafat dengan ilmu sosial. Pekerjaan filsafat adalah untuk menjelaskan ketidakjelasan konseptual dan untuk mengemukakan standar-standar inteligibilitas dan status keilmuan serta keabsahan. Oleh karena itu standar ini sifatnya universal. Maka tepatlah untuk digunakan dalam ilmu-ilmu sosial.
Menurut golongan positivisme pengetahuan itu baru ilmiah apabila :
a. Obyeknya adalah gejala yang dapat ditangkap indera.
b. Penjelasan terhadap gejala dengan menemukan hukum yang mendasarinya.
c. Proposi bukan merupakan pertanyaan yang partikular, akan tetapi merupakan hukum universal.
d. Dapat dilakukan suatu ramalan yang memungkinkan untuk diuji.
Dengan demikian terdapatlah dermakasi, apakah yang membedakan ilmu dan ilmu pengetahuan sebagaimana tertera dibawah ini:
1. Terbukanya ilmu pengetahuan terhadap verifikasi, suatu uji coba/eksperimen untuk mengecek apakah teori sesuai dengan kenyataan, pengetahuan non ilmiah tidak selalu terbuka untuk verifikasi.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi secara kumulatif : ilmu pengetahuan yang satu merupakan langkah pertama untuk menimbulkan pengetahuan yang lain, dalil yang satu diikuti dalil kedua dan selanjutnya, sehingga ilmu berkembang.
3. Struktur rasional: ilmu pengetahuan konstruksi rasional, karenanya manurut Winer Kreis (penganut aliran Neo Positivisme), peranan subyek besar, karena subyek yang membuat konsturksi rasional, sebagaimana dikemukakan Immanuel Kant mengenai teori konstruksi, teori peranan subyek dalam mengkonstruksi dunia luar, yaitu teori konstruksi tentang pengetahuan, karenanya disebut Epistemologi, Wiener Kreis menekankan kemampuan konstruksi dalam ilmu pengetahuan. Immanuel Kant membedakan dunia Neumenal dan dunia Fenomenal. Pada dunia Neumenal manusia tidak mampu menangkap, maka orang membicarakan secara ilmiah, yang bisa ditangkap manusia adalah dunia Fenomenal, yang tampak karenanya dapat di observasi, yang dapat ditangkap oleh panca indera, kemudian diolah secara rasional, ilmu berkisar (bergerak) pada dunia fenomenal, dilakukan observasi dan pengolahannya lebih lanjut dengan kekuatan rasionalnya
Logis Positivisme :
Logis Positivisme; yaitu suatu pandangan yang mempunyai kadar pandangan idiologis, suatu kelompok yang ingin menyelidiki ilmu. Pandangan ini dianut oleh lingkaran Wina (Wieneer Kreis). Pada Logis Positivisme tersebut terdapat suatu pandangan yang merupakan keyakinan, bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi basis untuk membangun dunia baru yang sejahtera, adil, damai. Wiener Kreis terdiri dari ahli-ahli ilmu alam, matematik dan sosiologi, maka pembahasan terkonsentrasi pada ilmu pengetahuan alam.
Ilmu alam
Ilmu alam (Inggris: natural science) atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. "Real Science is both product and process, inseparably Joint" (Agus. S. 2003: 11)
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.
Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali "ilmu" sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(biasa disingkat IPA).
Tingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat obyeknya yang kongkrit, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti.
Di samping penggunaan secara tradisional di atas, saat ini istilah "ilmu alam" kadang digunakan mendekati arti yang lebih cocok dalam pengertian sehari-hari. Dari sudut ini, "ilmu alam" dapat menjadi arti alternatif bagi biologi, terlibat dalam proses-proses biologis, dan dibedakan dari ilmu fisik (terkait dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang mendasari alam semesta).
Cabang-cabang utama dari ilmu alam adalah:
Astronomi, Biologi, Ekologi, Fisika, Geologi, Geografi fisik berbasis ilmu, Ilmu bumi dan Kimia


G. Perbedaan mendasar ilmu sosial dan ilmu alam.
Ilmu alam atau ilmu pengetahuan alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun.
ilmu sosial itu mempelajari manusia dari segi hubungannya dengan manusia lain. ilmu sosial sifatnya subjektif dan berdasarkan penafsiran, persepsi, generalisasi, asumsi dan sebagainya. dalam ilmu sosial, perkembangannya dari masa ke masa cenderung dinamis karena adanya kasus kasus baru ataupun faktor-faktor baru dari kasus kasus lama.
Ilmu Sosial mencakup studi ekonomi, sejarah, ilmu politik, psikologi, ilmu sosial, dan sosiologi. Mereka adalah kelompok disiplin ilmu yang berhubungan dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok berinteraksi.
Cabang-cabang ilmu
Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah cabang-cabangnya. Hasrat untuk menspesialisasikan diri pada suatu bidang telaahan yang memungkinkan analisis yang makin cermat dan seksama menyebabkan objek forma (objek ontologis) dari disiplin keilmuan menjadi kian terbatas.
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni Filsafat alam. Yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam dan ilmu social. Ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok yakni ilmu alam dan ilmu hayat. Sedangkan ilmu-ilmu social berkembang agak lambat dibandingkan ilmu-ilmu alam. Pada pokoknya terdapat cabang ilmu-ilmu social yakni antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi dan ilmu politik.
Ilmu Pengetahuan Alam meliputi studi tentang astronomi, biologi, kimia, ilmu bumi dan fisika.
Secara singkat, ilmu sosial adalah studi tentang manusia dan interaksinya, dan ilmu pengetahuan alam adalah studi tentang alam semesta dan cara kerjanya.





08). ANARKISME EPISTEMOLOGI KARL POPPER DAN FEYERABAND

A. Biografi Karl Popper
Popper memiliki nama lengkap Karl Raimund Popper. Seorang filosof sains keturunan Inggris-Austria. Ia dilahirkan diWina pada tanggal Juli 1902 dan kemudian meninggal pada Agustus 1994. Dia anak ketiga dan kedua kakaknya adalah perempuan, Bapaknya Simon Sigmund Carl Popper, adalah seorang doctor hukum dari University of Vienna, yang beragama yahudi. Ibunya Jenny Schiff adalah seorang ahli musik.
Dalam bidang pendidikan, Popper memiliki latar belakang keilmuan yang cukup variatif dan terkesan menjadi seorang yang anti terhadap kemapanan. semangat keilmuan yaitu, maka Popper bukan sajaberhasil memiliki ijazah untuk mengajar matematika, fisika, dan kimia, tetapi berhasil pula memperoleh gelar “doctor filsafat” (Ph.D) pada tahun 1928 dengan disertasi tentang Zur Methodenfrage der Denpsychologie (Masalah metodologi dalam psikologi pemikiran).
Salah satu peristiwa yang mempengaruhi perkembangan inteklektual popper dalam filsafatnya adalah dengan tumbangnya teori newton dengan munculnya teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang dikemukakan oleh Eistein. Dimana popper terkesan dengan ungkapan Eistein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalam tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya.
Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiyah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yang krusial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.
Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemology, dan sampai pada bukunya yang berjudul logic der forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul the open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik- kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri.
1. Kritik terhadap Positivisme Logis
Asumsi pokok teorinya adalah satu teorinya adalah satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.
Hal yang dikritik oleh popper pada positivisme logis adalah tentang Metode Induksi, ia berpendapat bahwa induksi tidak lain hanya khayalan belaka,dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan ilmu pengetahuan adalah mengembangkan pengatahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivism logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena kelemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran Deduktif.
2. Kritik Popper terhadap dan Epistemologi
• Ilmu pengetahuan dan bukan ilmu
Ilmu pengetahuan dapat dinyatakan secara umum adalah yang mengenai hal-hal yang logis dan berdasar penelitian, tetapi membuka kritik dan perbaikan ; sedangkan yang bukan ilmu adalah ungkapan yang universal, tidak berlandaskan persyaratan seperti yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan, sehingga sukar pula untuk dibicarakan secara ilmiah.
• Proses pengembangan pengetahuan ilmiah
Popper menekankan bahwa pengalaman merupakan unsur yang paling menentukan dan pengalaman tidak sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk pembuktian atau pembenaran suatu teori atau pernyataan, melainkan mengenai cara menguji, atau metode penelitian itu sendiri. Jadi popper mengatakan bahwa pengalaman sama dengan pengujian dan pengujian sama dengan metode penelitian.
Popper juga mengungkapkan adanya tahap-tahap pengembangan pengetahuan ilmiah, yaitu:
a) Penemuan masalah
b) Pembuatan teori
c) Perumusan masalah atau hipotesa
d) Pengujian ramalan
e) Penilaian hasil
f) Pembuatan teori baru
Dari penjelasan diatas bahwa untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentunya manusia tidak akan lepas dari keinginan percobaan, kesalahan, terkaan atau penolakan yang silih berganti dan menurut popper teori adalah unsure tetap dalam evolusi manusia dan teori pula adalah unsure rasio dan bagian dari pembawaan manusia.
Apa yang dimaksud oleh popper Rasionalisme Kritis adalah memberikan kebebasan pada manusia untuk berfikir penuh kepada manusia. Pikiran manusia merupakan percobaan ataau terkaan belaka. Untuk memperbaiki nasibnya, manusia dituntut mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan cara mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang tersimpan dalam pikirannya sendiri. Teori disatu pihak hanyalah alat untuk mencapai pikiran yang lain yang lebih tepat. Teori pada hakekatnya merupakan jalan menuju fakta-fakta baru. Tugas ilmuan menurut popper adalah membebaskan manusia dari terkaan dan ia dituntut untuk berkarya dan menciptakan fakta baru sehingga dengan cara ini manusia dapat dibebaskan dari cengkraman kesalahan.
B. Paul feyerabend
1. Biografi Feyerabend
Paul feyerbend lahir di Wina tahun 1924. Gelar doctor fisika ia peroleh dari Wina. Menurut pengakuannya, pada masa itu ia menggambarkan sebagai seorang Rasionalis. Maksudnya pada masa itu ia percaya akan keutamaan dan keunggulan ilmu pengetahuan secara ilmiah. Feyerbend memasuki keanggotaan dalam Himpunan Penyelamatan Fisika Teoritis (A Club For Salvation of theoretical Physics).
Karya momumentalnya, Agains Method (1975), menjadi titik tolak pemikirannya untuk mendombrak semua tatanan metodologis keilmuan yang seolah sudah terikat erat setiap sekatnya. Dari buku inilah kemudian muncul frasa antikredo “Anything goes” yang kemudian identik dengan pemikirannya.
1. Kritik Feyerband terhadap epistemologis
Titik awal pemikiran mengenai metodologi keilmuan feyerbend justru merupakan reaksi ketidaksetujuan terhadap pemikiran popper yang notabene merupakan gurunya di London School of Economics. Feyerbend bahkan secara tegas menyangkal metode falsifikasi popper. Falsifikasi popper sendiri menngasumsikan bahwa setiap setiap teori keilmuan harus selalu difalsifikasi untuk mencapai ebuah teori yang lebih sempurna. Disini feyerbend memunculkan arus pluralis, bukannya memfalsifikasi, tetapi terus memacu perkembangan-perkembangan teori-teori keilmuan baru dan terus mempertahankannya.
Kemudian tolak ukur keberhasilan dari teori-teori yang baru tersebut tidak harus selalu mengekor teori lama, ataupun harus mengacu kepada suatu bentuk yang dianggap mendekati sempurna. Kemunculan teori-teori baru itupun sudah dinggap sebagai kemajuan karena memang sangat sulit untuk memunculkan paradigm-paradigma lain dengan berbagai factor Akademis Maupin budaya dan politik yang ikut mengekang jalannya suatu keilmuan.
Anarkisme Feyerabend disebut sebagai anarkisme epistemologis, yang ia pertentangkan dalam anarkisme politik. Bila anarkisme politis anti terhadap kemapanan atau kekuasaan, maka anarkisme metodologis justru ingin mempertahankannya. Maksud feyeraband ialah bahwa dalam epistemologis terdapat bentuk anarkisme yang berupaya mempertahankan kemapanan sekaligus menyingkirkan kemapanan. Ia bukan hanya tidak punya program tetapi anti program. Hal itu ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternative. Anarkisme Feyeraband yang demikian itu, terkadang diartikan orang sebagai kesewenang-wenangan epistemology, karena tidak adanya ukuran atau aturan yang tetap untuk menentukan antara yang ilmiah dengan non-ilmiah.
Anarkhisme metodologis yang ditawarkan feyerbend disini bukan merupakan sebuah bentuk penggulingan status quo keilmuan. Konsentrasi justru lebih diarahkan pada munculnya paradigm-paradigma lain dengan tidak menegasi mengenai keilmuan yang terlebih dulu mendominasi. Kebebasan bagi status quo maupun metode-metode alternatif untuk terus mengembangkan keilmuan tanpa hambatan dalam aspek epistemologisinilah yang merupakan karakter khusus dari anarkhisme metodologis ala feyerabend.
Pandangan Feyeraband di ataslah yang disebut dengan Anti-Metode, yang ia paparkan dalam Against Method (1975). Serangan yang dikenal dengan anti-metodenya itu, dipaparkan dalam empat bagian. Pertama, kontra induksi. Kedua, ketergantungan observasi pada teori. Ketiga, prinsip ketidaksepadanan. Keempat prinsip apa saja boleh. Kritik-kritik tajam feyerabend cukup ampuh membongkar pandangan saintisism. Berdasarkan analisis sejarah, ia dapat mengajukan bukti-bukti bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang justru karena memberinya kebebasan, bukan dengan memagarinya melalui peraturan tunggal atau haanya dengan menerapkan satu metode. Seorang ilmuan menurut feyerabend, perlu keberanian dalam mengajukan ide-ide, gagasan-gagasn baru tanpa harus dikekang oleh tradisi ilmiah. Namun tentu saja kekbebasan yang diinginkannya bukanlah kebebasan yang liar, bukan kecendrungan sesaat yang tidak berdasar dan berarti sedikitpun. Prinsip apa saja boleh bukan berarti apa saja boleh tanpa batas, tanpa aturan dan tujuan. Inilah yang dimaksud feyerabend dengan anarkisme epistemologis.

09. ONTOLOGI

A. Definisi Ontologi
Ontologi (Teori Hakikat) merupakan pembahasan pengetahuan mengenai objek yang dipikirkan secara mendalam sampaui pada hakikat .
Secara garis besar didalam ontologi membahas tentang :
1. Naturalisme/materialisme yang menyatakan bahwasanya hakikat benda adalah materi itu sendiri, dengan pendapat rohani, jiwa, spirit, muncul dari benda, tetapi kaum naturalis tidak mengakui bahwa roh, jiwa termasuk tuhan.
2. idealisme menyatakan bahwa hakikat benda adalah rohani, spirit. Alasan mereka nilai rohnya lebih tinggi dari badan.
3. dualisme menyatakan bahwa hakikata benda adalah dua materi dan imateri. Materi bukan muncul dari roh, roh tidak muncul dari benda.
B. Istilah-istilah dasar Ontologi
Diantara istilah-istilah terpenting yang terdapat dalam bidang atau kajian ontology adalah : yang ada (being), kenyataan (reality), dan eksistensi (existence). Berikut uraian mengenai sejumlah pernyataan yang mengandung istilah tadi.
1. yang ada dan yang tiada
Yang ada dan yang tiada dapat diketahui dengan mengetahui :
- ciri paling umum yang dipunyai suatu barang atau benda.
Istilah “ada” senantiasa menunjuk kepada suatu ciri yang melekat pada segala swsuatu apa saja, (bersipat umum). Tanpa disertai sifat “ada” tidaklah mungkin ada sesuatu yang bereksistensi. Sehubungan dengan itu aristoteles memberikan definisi “ada” kepada metafisika. Karena metafisika merupakan “ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada”.
- yang sungguh ada dan yang mungkin ada
Yang ada, yaitu segenap hal yang dapat diterapi pengertian “ada”. “ada” dapat dibagi dua. (1)”yang sungguh ada” dan (2) “yang mungkin ada”. Lingkungan “yang ada” dapat dibagi lebih lanjut dalam; (1a) yang nyata/yang ada dalam kenyataan, dan (2a) yang nampaknya ada/yang ada dalam kenampakan. Atau (1b) yang nyata ada/yang ada dalam kenyataan, dan (2b)yang ada dalam pikiran (sebagai piran). Kiranya jelas bahwa dalam keadaan yang bagaimanapun pengertian “ada/yang ada” tidak mungkin dikaitkan dengan pengertian “eksistensi”. Karena adakalanya hal yang tidak bereksitensi dapat dikatakan ada atau bersifat ada.
- yang ada dan eksistensi
“ada” tidaklah setara dengan “bereksistensi”. Jika suatu hal bereksistensi sudah pasti hal itu “ada”. Tetapi sesuatu yang ada tidaklah selalu bereksistensi.
2. Kenyataan dan Kenampakan
Kenyataan dan kenampakan dapat diketahui dengan :
- yang nyata ada pasti ada
“nyata” sesuatu apapun yang bersifat nyata, pasti ada. Tetapi sesuatu yang masih dalam kemungkinan ada, kiranya sulit untuk dikatakan nyata.
- kenyataan tidak sepenuhnya sama dengan eksistensi
3. eksistensi dan non-eksistensi
Eksisrtensi dan non-eksistensi dapat diketahui dengan mengetahui :
- perlunya pemilahan Esensi dan Eksistensi
Seperti telah dijelaskan diatas “ada” berarti mempunyai hubungan. “nyata ada” berarti mempunyai hubungan keserasian dengan segi-segi lain dari kenyataan. Jadi dalam hal “ada” dan “kenyataan” senantiasa terdapat suatu hubungna yang menonjol.
C. Status Ontologi Objek Ilmu
Untuk mengetahui status ontology objek ilmu sebaiknya kita rumuskan sejumlah pernyataan mengenai kenyataan :
1. Kenyataan bersifat kealaman (Naturalisme)
2. Kenyataan bersifat benda mati (Materialisme)
3. Kenyataan bersifat kerohanian (Idealisme)
Dari sejumlah pernyataan diatas berikut penjelasannya.
1. Naturalisme
Dalam pandangan naturalisme “kejadian sebagai kategori pokok”. William R. Dennes, penganut paham naturalisme modern mengatakan bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti bersifat kealaman, dengan beranggapan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah kejadian. Setiap kejadian dalam ruang dan waktu merupakan unsure penyusun kenyataan yang ada. Dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa.
“yang nyata Ada pasti Bereksistensi”. Dalam pandangan Naturalisme memiliki dua maksud yaitu; pertama, sesuatu yang dianggap di luar ruang dan waktu tidak mungkin berupa kenyataan. Kedua, sesuatu yang tidak mungkin diselesaikan dengan mengunakan metode-metode yang digunakan dalam ilmu alam, tidak mungkin berupa kenyataan.
Ada satu hala yang harus diingat, apabila para penganut paham naturalisme menggunakan istilah “kenyataan” maksudnya ialah apa saja yang ada. Bila menggunakan istilah “Alam” segala hal yang nyata merupakan bagian dari Alam, artinya apa saja yang ada pasti bereksistensi dalam ruang dan waktu.
2. Materialisme
Kaum materialis berpandangan “yang terdalam adalah materi” maka terdapat ungkapan yang mengatakan bahwa “kenyataan bersifat material” dipandang bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakan nyata (1) dalam babak terakhir berasal dari materi (2) berasal dari gejala-gejala yang bersangkutan dengan materi.
3. Idealisme
Para penganut paham naturalisme dan materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka sarankan (materi, alam dsb) sudah cukup untuk memberi keterangan mengenai kenyataan. Namun ada hal-hal yang tidak dapat diterangkan dengan berdasar pengertian alam dan materi. Seperti jiwa atau roh merupakan istilah yang harus ada sebagai tambahan dari istilah-istilah yang sudah ada. Mereka yang mengatakan bahwa pengertian jiwa atau roh diperlukan, dinamakan “kaum idealis” dan ajaranya dikenal sebagai “idealisme”.salah seorang tokohnya yaitu Watts Cunningham.
Watts Cunningham mendefinisikan idealisme merupakan suatu ajaran yang berusaha menunjukan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam, maka ditinjau dari segi logika kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tetentu bersifat mendasari hal-hal tersebut.

D. Basis klasifikasi ontologis objek ilmu
Cabang-cabang ilmu
Ilmu berkembang dengan secara pesat demikian dengan cabang-cabangnya. Hasrat ingin menspesialisasikan pada satu bidang telaahan yang cermat dan seksama menyebabkan objek forma (objek ontologis) dari disiplin keilmuan menjad kian terbatas.
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu sosial.
Ilmu-ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam dan ilmu hayat. Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta, yang kemudian bercabang lagi menjadi fisika, kimia, astronomi, dan ilmu-ilmu bumi.
Ilmu-ilmu sosial berkembang agak lambat disbanding dengan ilmu-ilmu alam. Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu-ilmu sosial yakni antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik.

10. KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-GHAZALI
DAN IBNU AL-FARABY

A. KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-GHAZALI
1) Klasifikasi Ilmu
Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam) . Dalam hal ilmu, Al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu namun pengklasifikasian ilmu menurut al-Ghazali bukan berarti memberikan pandangan dikotomik, tetapi memberikan isyarat bahwa aneka ragam ilmu pengetahuan itu adalah satu rangkaian keilmuan dan satu kesatuan konsep yaitu ilmu dalam pengertian islam.
Sedangkan klasifikasi ilmu menurut Al-Ghazali merupakan pembidangan ilmu itu sejauh mana penuntutnya mampu mengembangkannya, sebab setiap pribadi memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda dan bakat yang berlainan. Begitu pula sebagai pragmatic sufistik al-Ghazali dalam pembidangan ilmu itu tetap mempertimbangkan segi kemudharatan dan kemanfaatan ilmu itu yang merupakan kewajiban bagi manusia untuk memilihnya
Atas dasar itulah al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu dalam dua golongan yaitu.
1. ilmu Syar’iyyah dan
2. Ilmu Ghoiru Syar’iyyah
Adapun yang dimaksud dengan syar’iyyah ialah apa yang diambil faedah dari para Nabi dan tidak dapat ditunjukkan oleh akal seperti ilmu hitung, tidak dapat dengan pengamalan seperti kedokteran dan tidak pula oleh pendengaran seperti bahasa. Sedangkan ilmu ghoiru syar’iyyah terbagi kepada apa yang terpuji, apa yang tercela dan apa yang dibolehkan.
Unsur sufistik dan pragmatic al-Ghazali sangat jelas pada klasifikasi di atas karena ilmu syar’iyyah merupakan ilmu yang tidak diragukan lagi dampaknya bagi penuntutnya. Ilmu ghairu syar’iyyah termasuk ilmu yang diserahkan pencapaiannya terhadap manusia melalui kemampuan penangkapan panca indranya, penalaran akalnya dan penghayatan hatinya, ilmu ini berbeda dari ilmu syar’iyyah yang sudah jelas kebenarannya oleh karena itu al-ghazai membagi lagi kedalam ilmu terpuji, ilmu tercela dan ilmu bagi manusia untuk menuntutnya.

2) Konsep Ilmu
Konsep ilmu menurut al-ghazali mampu duduk sebagai rujukan ilmiah dalam bermacam-macam disiplin, Karena jelas al-ghazali telah memberikan satu wawasan keterhubungan kerja antara manusia dan Allah. Jika dikategorikan konsep llmu versi al-ghazali kedalam epistimologi filsafat fenomenologi islam, maka ada empat kebenaran indrawi, kebenaran akal, kebenaran etik dan kebenaran transenden.
Secara pedagogic kajian al-ghazali tentang ilmu menunjukkan suatu pola yang komprehensif sebab al-ghazali telah memasukkan seluruh bidang kajian ilmu dalam pemahamannya serta asal-usul dan sumbernya seperti dikemukaakan diatas bahwa ada ilmu yang bersumber dari Allah (kebenaran transcendent) dan ada ilmu yang bersumber pada manusia (bias berwujud kebenaran/pengalaman indrawi/sensual, akal dan etik).

B. KLASIFIKASI ILMU MENURUT IBNU AL- FARABY
1) Klasifikasi Ilmu
Ia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Bin Tharkhan, sebutan “al-Farabi” diambil dari nama kota “Farab”, tempat ia dilahirkan. Sejak kecil ia suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar biasa dalam bidang bahasa
Dalam hal ilmu, Al- Farabi telah memberikan klasifikasi tentang ilmu dalam tujuh bagian, yaitu: percakapan, logika, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqh. Ketujuh ilmu itu telah melingkupi seluruh kebudayaan Islam pada masa itu . Menurut Al-Farabi, dia telah menyusun klasifikasi di bawah dengan sub-subdivisi (sub-sub bagian).
1. Pertama, klasifikasi itu dimaksudkan sebagai petunjuk umum ke arah berbagai ilmu.
2. Kedua, klasifikasi tersebut memungkinkan seseorang belajar tentang hierarki ilmu.
3. Ketiga, berbagai bagian dan sub bagiannya memberikan sarana yang bermanfaat dalam menentukan sejauh mana spesialisasi dapat ditentukan secara sah. Dan
4. Keempat, klasifikasi itu menginformasikan kepada para pengkaji tentang apa yang seharusnya dipelajari sebelum seseorang dapat mengklaim diri ahli dalam suatu ilmu tertentu.
Seperti apa yang ditulis di atas, bahwa al-Farabi mengawali klasifikasinya dengan ilmu bahasa. Dia membedakan dua fungsi mendasar ilmu ini, yang pertama adalah fungsi memelihara lafal-lafal bermakna (al-alfadz al-dallah) yang sederhana ataupun yang tersusun. Fungsi kedua ilmu bahasa adalah untuk merumuskan kaidah atau konvensi yang mengatur lafal-lafal bermakna.
Dan mengenai logika, dalam klasifikasi al-Farabi, logika bukan bagian dari sebuah ilmu filosofis, tapi logika merupakan akal atau instrumen ilmu-ilmu filosofis. Tetapi logika juga merupakan suatu ilmu (ilm). Al-farabi tampaknya berpendapat bahwa logika sebagai ilmu berada di antara ilmu bahasa dan ilmu-ilmu filosofis.
Al-Farabi menyatakan bahwa logika dan ilmu kebahasaan adalah dua ilmu yang saling terkait erat. Dia menganggap logika sebagai sejenis tata bahasa universal yang keabsahannya menyebar luas ke seluruh ras manusia.
Mengenai ilmu politik al-Farabi, fiqh dan kalam secara konseptual saling berkaitan sejauh semuanya didasarkan atas wahyu. Ilmu politik al-Farabi pada dasarnya merupakan suatu ilmu tentang doktrin wahyu dan praktek atau hukum ilahi dan syari’ah yang dipahami pada tingkat filsafat, sementara fiqh dan kalam adalah dua ilmu tentang doktrin dan praktek yang sama tetapi dipahami pada tingkat agama.

11. NATURALISASI ILMU dan SEKULARISASI ILMU

1. Sekularisasi Ilmu
A. Pengertian Sekularisasi
istilah sekularisasi berakar dari kata “sekuler” yang berasal dari bahasa latin ”Seaculum” artinya abad (age, century), yang mengandung arti bersifat dunia, atau berkenaan dengan kehidupan dunia sekarang.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekularisasi diartikan segala hal-hal yang membawa kea rah kehidupan yang tak didasarkan pada ajaran agama. Dari berbagai pengertian di atas menunjukkan bahwa makna sekularisasi ilmu pengetahuan adalah suatu proses pelepasan/pembebasan ilmu dari setiap pengaruh agama sebagai landasan berpikir.

B. Latar Belakang Lahirnya Sekularisasi
Sekularisasi berasal dari dunia Barat kristiani, yang muncul dengan diserukan oleh para pemikir bebas agar mereka tetrlepas dari ikatan gereja, para pemuka agama dan pendetanya. Pada awalnya, agama kristiani lahir di dunia Timur, namun warna kristiani amat tebal menyelimuti kehidupan dunia Barat. Keadaan ini sejak kekaisaran Romawi Konstantin yang agung (280-337) yang melegalisasikan dalam wilayah imperiumnya serta mendorong penyebarannya merata ke benua Eropa.

C. Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
Sekularisme berkembang dari aliran filsafat Yunani yang diawali oleh pemikiran salah satu filsuf Yunani, Aristoteles. Sekularisme juga dapat dilihat dari berkembangnya aliran pemikiran rasionalisme yang menafikan sesuatu yang diluar pemahaman akal. Dalam pandangan rasionalisme, segala sesuatu yang di luar pemahaman akal manusia dinyatakan bukan sebagai suatu realitas dandiyakini keadaannya. Pandangan ini menilai sesuatu yang nyata adalah segala sesuatu yang dapat dicerna melalui indera manusia yaitu dapat dilihat, didengar, diraba, dibaui, dan dirasakan.

D. Pokok-Pokok Ajaran Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
a) Prinsip-prinsip esensial dalam mencari kemajuan denngan alat material semata-mata.
b) Etika dan moralitas didasarkan pada kebenaran ilmiah tanpa ada ikatan dan metafisika, segalanya ditentukan oleh kriteria ilmiah yang dapat dipercaya dan yang bersifat validitas.
c) Masih mengakui agama pada batas tertentu dengan ketentuan agama tidak boleh mengatur urusan dunia melainkan hanya mengatur tentang akhirat belaka.
d) Menekan perlunya toleransi semua golongan masyarakat tanpa mengenal perbedaan agama.
e) Menjunjung tinggi penggunaan rasio dan kecerdasan.

E. Sekularisasi Ilmu Pengetahuan Ditinjau dari Epistemologis
Secara formal epistemologis sekularisasi ilmu pengetahuan berbentuk rasionalisme dan empirisme. Dimana memandang ilmu pengetahuan berdasarkan pengamatan empiris dan menalaah secara rasio bukan keyakinan ”iman” sebagai penilai.

2. Naturalisasi Ilmu
A. Pengertian Naturalisasi Ilmu
Istilah naturalisasi ilmu digunakan oleh Prof. Sabra untuk menyatakan proses akulturasi dari suatu ilmu yang datang dari luar terhadap budaya yang berlaku di Negara itu sendiri. Menurut Sabra, ada tiga tahap naturalisasi ilmu Yunani ke dalam dunia Islam, yaitu (1) Justifikasi, yaitu upaya filsuf untuk membenarkan pengadopsian filsafat Yunani (2) adaptasi, yaitu sikap selektif dalam mengadaptasi ilmu Yunani agar tidak berbenturan dengan nilai dan ideologi islam, dan (3) kritik, yaitu sikap kritis filsuf muslim terhadap ajaran filsafat Yunani.

B. Fase/Tahap Sehingga Ditemukan Ilmu Pengetahuan
1. Fase naturalisasi
2. Sekularisasi ilmu pengetahuan
3. Islamisasi ilmu


12. INTEGRASI ILMU dan ISLAMISASI ILMU

A. Dikotomi Ilmu Pengetahuan
Dikotomi adalah pembagian dua bagian, pembelahan dua, bercabang dua bagian. Ada juga yang mendefinisikan dikotomi sebagai pembagian di dua kelompok yang saling bertentangan. Secara terminologis, dikotomi dipahami sebagai pemisahan antara ilmu dan agama yang kemudian berkembang menjadi fenomena dikotomik-dikotomik lainnya, seperti dikotomi ulama dan intelektual.


B. Paradigma Islamisasi Ilmu dan Ilmu-Ilmu Umum
1. Islamisasi Ilmu
Farid al-Attas membahasakan islaimisasi ilmu pengetahuan adalah suatu ilmu yang merujuk pada upaya mengelimir unsur-unsur atau konsep-konsep pokok yang membentuk peradaban dan kebudayaan Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial, yang termasuk dalam unsur-unsur atau konsep humanisme, drama serta strategi dalam kehidupan rohani yang menyebabkan ilmu yang sepenuhnya benar menurut ajaran Islam tersebar ke seluruh dunia, setelah melewati proses di atas ke dalam ilmu tersebut dinamakanlah unsur-unsur dan konsep-konsep pokok keislaman.
2. Ilmu-Ilmu Sekuler
sekuler diartikan dengan bersifat duniawi atau kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian sehingga sekularisasi berarti membawa ke arah kecintaan kehidupan dunia, oleh karena itu norma-normanya tidak perlu didasarkan pada agama.
Menurut Raghib al-Isfahani, ilmu adalah mengenali sesuatu sesuai dengan hakikatnya (apa adanya atau objektif). Ilmu ini terbagi dalam dua jenis. Pertama, mengenali inti sesuatu dan kedua, memahami hukum sesuatu, baik hukum yang terdapat di dalamnya atau di luar itu. Tetapi ada juga ulama yang mempunyai cara pembagian berbeda, yaitu pertama, ilmu yang bersifat analisis. Kedua, ilmu yang bersifat praktis. Pada sisi lain ada yang membaginya menjadi ilmu naqli dan aqli.

C. Hakikat Integrasi Ilmu
Kata kunci konsepsi integrasi keilmuan berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan yang benar berasal dari Allah. Dengan pengertian yang hampir sama Usman Hassan menggunakan istilah knowledge is the light that comes from Allah.
Bagi al-Faruqi, mengaui Ketuhanan Tuhan dan keesaan berarti mengakui kebenaran dan kesatupaduan. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa integrasi keilmuan memiliki kesesuaian dengan prinsip al-tauhid.

D. Basis Integrasi Ilmu-Ilmu Agama dan Umum
Ilmuwan-ilmuwan muslim akan percaya sepenuhnya bahwa sumber dari segala ilmu adalah Allah. Karena tujuan dari ilmu adalah untuk mengetahui kebenaran sejati tentu merupakan sumber bagi segala kebenaran-kebenaran lainnya, termasuk kebenaran atau realitas-realitas ilmu. Al-qur’an mengatakan “kebenaran itu berasal dari Allah, maka janganlah engkau pernah meragukannya”. Dengan demikian para ilmuwan muslim sepakat bahwa sumber ilmu adalah Allah sendiri, sang Kebenaran.

E. Integrasi Ilmu Pengetahuan Keislaman dengan Umum
Setelah umat islam mengalami kemunduran sekitar abad XIII-XIX, justru pihak Barat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dari Islam sehingga ia mencapai masa renaisance. Ilmu pengetahuan umum (sains) berkembang pesat, sedangkan pengetahuan Islam mengalami kemunduran, yang ada pada akhirnya muncullah dikotomi antara dua bidang ilmu tersebut.
Sekularisasi ilmu pengetahuan dari segi metodologis menggunakan epistemologis rasioalisme dan empirisme. Sedangkan sekularisasi ilmu pengetahuan pada aspek aksiologi bahwa ilmu itu bebas nilai atau netral, nilai-nilai ilmu hanya diberikan oleh manusia pemakainya. Memasukkan nilai ke dalam ilmu, menurut kaum sekuler menyebabkan ilmu itu memihak dan dengan menghilangkan objektivitasnya.
Azyumardi Azra mengemukakan ada tiga tipologi respon cendikiawan muslim berkaitan dengan hubungan antara keilmuwan agama dengan keilmuan umum. Pertama, Restorasionis, yang mengatakan bahwa ilmu yang bermanfaat dan dibutuhkan adalah praktek agama (ibadah). Kedua, Rekonstruksionis, interpretasi agama untuk memperbaiki hubungan peradaban modern dengan islam. Ketiga, Reintegrasi, merupakan rekonstruksi ilmu-ilmu yang berasal dari al-ayat al-qur’aniyah dan yang berasal dari al-ayat al-kauniyah berarti kembali kepada kesatuan transendental semua ilmu pengetahuan.
Kuntowijoyo menyatakan bahwa inti dari integrasi adalah upaya menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu integralistik), tidak mengucilkan Tuhan (sekularisme) atau mengucilkan manusia. Model integrasi adalah menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai grand theory pengetahuan. Sehingga ayat-ayat qauliyah dan kauniyah dapat dipakai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar